ELSA amankan kontrak Rp11,6 triliun, backlog capai Rp18,8 triliun
Senin, 07 September 2026
JAKARTA - PT Elnusa Tbk (ELSA), emiten subholding upstream Pertamina, membukukan kontrak baru senilai Rp11,6 triliun sepanjang semester I 2026, dengan kontribusi terbesar berasal dari bisnis energy distribution and logistics sebesar Rp9 triliun.
Direktur Elnusa, Andri Haribowo, mengatakan perolehan kontrak tersebut menunjukkan permintaan terhadap jasa Elnusa tetap kuat di berbagai lini bisnis energi.
“Pada semester pertama 2026, perseroan berhasil memperoleh kontrak baru senilai Rp11,6 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari segmen energy distribution and logistics sebesar Rp9 triliun, diikuti integrated upstream oil and gas services Rp1,6 triliun dan oil and gas support services Rp1 triliun,” kata Andri dalam public expose live 2026, Senin (7/9).
Memasuki 2026, perseroan membawa carryover kontrak sekitar Rp21,6 triliun. Nilai tersebut terdiri atas Rp12,3 triliun dari integrated upstream oil and gas services, Rp2,8 triliun dari oil and gas support services, serta Rp6,5 triliun dari energy distribution and logistics.
Hingga akhir semester I 2026, perseroan telah membuka kontrak absorb sebesar Rp14,4 triliun. Dengan demikian, perseroan menutup semester I 2026 dengan carry forward kontrak Rp18,8 triliun.
“Kontrak yang telah diperoleh dan progres absorbsi menunjukkan kemampuan Elnusa menjaga daya saing sekaligus mengonversi backlog menjadi pendapatan. Carry forward Rp18,8 triliun juga memberikan visibilitas pendapatan untuk periode berikutnya,” ujar Andri.
Dari sisi kinerja segmen, integrated upstream oil and gas services mencatat pendapatan Rp2,06 triliun dengan laba bersih Rp99 miliar. Sementara itu, oil and gas support services membukukan pendapatan Rp110 miliar dan laba bersih Rp41,8 miliar.
Segmen sales of goods and energy distribution and logistics services menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp4,92 triliun dan laba bersih Rp293 miliar. Masing-masing tumbuh 26,6% dan 54,4% secara tahunan.
Secara operasional, perseroan menyelesaikan akuisisi data seismik 3D seluas 1.757 kilometer persegi dan seismik 2D sepanjang 193 kilometer pada semester I 2026. Perseroan juga menyelesaikan wireline logging pada 662 sumur, well testing pada 3.800 sumur, serta hydraulic workover unit pada 112 sumur.
Pada bisnis distribusi energi, volume transportasi BBM mencapai 14 juta kilometer. Elnusa juga melanjutkan sejumlah proyek strategis, termasuk proyek seismik darat dan lepas pantai, Fuel Terminal Palaran, Terminal LPG Kolaka, serta proyek chemical enhanced oil recovery (EOR) di Lapangan Rama.
Untuk mendukung efisiensi operasi, Elnusa memperkuat pemanfaatan teknologi. Salah satunya melalui penggunaan Geopon Stride Wireless Seismic Acquisition System pada proyek seismik 2D dan 3D di area Tedong, Sulawesi Selatan.
Perseroan juga mengembangkan Pertapixel, layanan geospatial digital yang mengintegrasikan drone, pemetaan udara, dan sistem informasi geografis (GIS) untuk pemetaan wilayah kerja, inspeksi aset, pemantauan fasilitas, dan pengelolaan data spasial.
Di Lapangan Rama, proyek chemical EOR dengan teknologi polymer flooding mulai beroperasi pada Juni 2026. Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan recovery factor dan produksi minyak melalui optimalisasi kemampuan reservoir.
“Teknologi menjadi salah satu prioritas perseroan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas layanan. Kami terus memilih teknologi yang tepat guna dan dapat memberikan dampak langsung terhadap operasi serta nilai tambah bagi pelanggan,” kata Andri.
Selain bisnis hulu migas, perseroan memperluas perannya dalam pembangunan infrastruktur energi. Proyek Fuel Terminal Palaran memiliki kapasitas penyimpanan BBM 37.500 kiloliter dalam 12 tangki, dilengkapi sistem perpipaan, truck loading, dan fasilitas pendukung lainnya. Hingga Juni 2026, progres konstruksi mencapai sekitar 3%.
Sementara itu, terminal LPG Kolaka memiliki kapasitas penyimpanan 2 x 1.500 metrik ton dan akan beroperasi dengan skema build, operate, transfer (BOT) selama 10 tahun. Progres konstruksi proyek tersebut mencapai sekitar 15% hingga Juni 2026.
“Fokus kami bukan hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi memastikan perseroan dapat menjadi strategic enabler dan efficiency partner bagi Pertamina Group serta pelanggan di sektor energi melalui operasi yang andal, efisien, dan didukung teknologi,” ujar Andri.(DH)