DBS dan Citi selesaikan pembayaran dolar lintas negara via tokenisasi

Senin, 07 September 2026

image

JAKARTA – DBS Bank Ltd, bank asal Singapura, dan Citigroup Inc, bank asal Amerika Serikat (AS), menyelesaikan pembayaran dolar AS lintas negara menggunakan deposito tokenisasi melalui Swift Digital Ledger pada akhir pekan.

Menurut DBS, transaksi antara DBS di Singapura dan kantor Citi di New York dilakukan pada Sabtu (5/9/2026) dan selesai dalam hitungan menit. 

Waktu tersebut lebih singkat dibandingkan pembayaran lintas negara konvensional yang dapat membutuhkan hingga dua hari kerja.

Transaksi menggunakan deposito tokenisasi, yakni representasi digital simpanan bank pada distributed ledger atau buku besar terdistribusi. 

Berbeda dari stablecoin yang dapat diterbitkan lembaga non-bank, deposito tokenisasi tetap menjadi kewajiban bank komersial.

Group Chief Operating Officer dan Co-Head of Digital Assets Global Transaction Services DBS, Rachel Chew, menyebut transaksi tersebut menunjukkan teknologi tokenisasi mulai memasuki penggunaan nyata.

“Uang yang ditokenisasi bergerak dari eksperimen menuju adopsi di dunia nyata,” kata Chew.

DBS mencatat 50% pemimpin keuangan dalam surveinya sedang mengeksplorasi teknologi blockchain untuk mengelola likuiditas dan risiko valuta asing. 

Bank memperkirakan pembayaran lintas negara keluar dari Asia meningkat dari US$13,5 triliun pada 2025 menjadi US$24 triliun pada 2033.

Dikutip dari Cointelegraph, penggunaan Swift Digital Ledger memungkinkan pembayaran diproses di luar jam operasional perbankan tradisional. 

Kemampuan tersebut dapat membantu perusahaan memindahkan likuiditas antarnegara tanpa menunggu hari kerja berikutnya.

Head of Services for Asia South Citi, Mridula Iyer, menegaskan transaksi langsung pada akhir pekan menunjukkan infrastruktur pembayaran lintas negara dapat beroperasi sepanjang waktu.

“Pembayaran lintas negara 24/7 sudah menjadi kenyataan,” ujar Iyer.

Swift pada Juli 2026 memulai pilot atau uji coba pembayaran deposito tokenisasi bersama 17 bank dari enam benua, termasuk Citi, HSBC, UBS, Standard Chartered, Wells Fargo, BNY, DBS, dan MUFG Bank. 

Sistem tersebut dirancang memindahkan dana selama 24 jam sehari, termasuk malam hari dan akhir pekan.

Meski demikian, Bank for International Settlements (BIS) menilai pengembangan deposito tokenisasi masih menghadapi tantangan interoperabilitas, tata kelola, dan aspek hukum, terutama dalam proses penyelesaian transaksi.

“Deposito yang ditokenisasi menawarkan jalan yang lebih langsung untuk memanfaatkan tokenisasi sembari tetap menjaga fondasi sistem moneter,” kata General Manager BIS, Pablo Hernandez de Cos.

DBS telah mengembangkan infrastruktur berbasis blockchain melalui DBS Token Services sejak 2024, termasuk DBS Treasury Tokens untuk pengelolaan kas dan likuiditas. 

Bank tersebut juga menjadi satu-satunya bank berkantor pusat di Asia dalam kelompok inti 12 bank yang membantu merancang arsitektur Swift Digital Ledger.

IDNFinancials pada 30 Juni 2026 melaporkan JPMorgan Chase memperluas jaringan deposito digital Kinexys dengan menambahkan dolar Singapura untuk pembayaran lintas negara 24/7. 

Pengembangan Swift Digital Ledger memperluas tren serupa dengan menghubungkan deposito tokenisasi antarbank melalui infrastruktur pembayaran global. 

Terkait:1. BIS: Stablecoin bukan solusi pembayaran skala besar2. JPMorgan tambah dolar Singapura ke jaringan blockchain Kinexys