Operasi AS di Venezuela menaikkan ketidakpastian global

Senin, 05 Januari 2026

image

JAKARTA - Para ekonom dan pelaku pasar menilai penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat menambah tingkat ketidakpastian global.

Ekonom Saltmarsh Economics, Marchel Alexandrovich, menilai pasar kini menghadapi risiko geopolitik yang jauh lebih tinggi dibandingkan era pemerintahan AS sebelumnya.

“Peristiwa-peristiwa ini mengingatkan kita bahwa ketegangan geopolitik terus mendominasi berita utama dan mendorong pasar. Mulai dari ketegangan perdagangan yang belum terselesaikan seputar tarif AS, hingga Ukraina, Iran, Taiwan, dan sekarang Venezuela, jelas bahwa pasar harus menghadapi risiko berita utama yang jauh lebih besar daripada yang biasa mereka alami di bawah pemerintahan AS sebelumnya,” ujar Alexandrovich.

Tina Fordham, pendiri Fordham Global Foresight, menilai hal senada. Ia melihat kemungkinan munculnya optimisme pasar, meski memperingatkan bahwa transisi pasca-otoritarian kerap penuh ketidakpastian.

“Menurut saya, kemungkinan besar akan terjadi kemakmuran yang luar biasa, meskipun sejarah transisi pasca-otoritarianisme sangat berliku dan tidak linier. Rekam jejak Amerika di belahan Bumi selatan juga tidak konsisten. Saya merasa ada banyak optimisme tentang Venezuela pasca-Maduro, pasca-Chavez. Saya pikir kenyataan kemungkinan akan lebih kacau,” kata Fordham.

Menurutnya, dampak langsung bisa terlihat pada pembukaan pasar, seiring meningkatnya spekulasi perubahan politik tidak hanya di Venezuela, tetapi juga di Iran.

“Untuk pembukaan hari Senin, saya pikir, ini akan memicu semangat pasar serta kemungkinan (perubahan) di Iran,” ujarnya.

Fordham menambahkan bahwa jika perubahan politik benar-benar terjadi, Venezuela dan Iran berpotensi menjadi pasar baru yang selama ini tertutup bagi investor global.

“Ini akan menjadi dua pasar, pasar penghasil energi dan pasar konsumen, yang selama ini tertutup bagi investor internasional, yang berpotensi terbuka,” kata dia.

Intervensi AS di Venezuela dan sikap agresif Washington terhadap Iran kini menjadi faktor utama yang diawasi pelaku pasar dan pembuat kebijakan global, di tengah kekhawatiran meningkatnya ketidakstabilan geopolitik lintas kawasan.

Amerikapada Sabtu (3/1) telah melancarkan serangan langsung ke Venezuela dan menangkap Maduro, langkah yang disebut sebagai eskalasi geopolitik paling serius Washington di Amerika Latin dalam lebih dari tiga dekade terakhir.

Dikutip reuters.com, dalam pernyataan resminya, Presiden Donald Trump mengatakan operasi tersebut berhasil menahan Maduro dan istrinya, yang kemudian diterbangkan ke luar negeri. Trump menegaskan tindakan itu diambil setelah AS selama berbulan-bulan menuduh Maduro terlibat perdagangan narkoba dan mempertahankan kekuasaan secara ilegal.

“Amerika telah berhasil melaksanakan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri,” kata Trump dalam unggahan di Truth Social.

Langkah ini menandai intervensi militer langsung pertama AS di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989, ketika Washington menggulingkan Manuel Noriega atas tuduhan serupa.

Operasi terhadap Venezuela langsung memicu perhatian global, terutama karena dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di berbagai kawasan strategis dunia.

Secara paralel, Trump juga mengeluarkan peringatan keras terkait Iran. Ia menyatakan siap membantu para pengunjuk rasa jika aparat keamanan Iran menggunakan kekerasan terhadap demonstran. Kerusuhan di Iran telah berlangsung selama beberapa hari, menewaskan sejumlah orang dan dinilai sebagai ancaman internal terbesar bagi rezim Teheran dalam beberapa tahun terakhir. (DH)