Cadangan devisa China naik melampaui ekspektasi pada Agustus
Selasa, 08 September 2026
BEIJING — Cadangan devisa China meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut terjadi di tengah berlanjutnya pelemahan dolar AS.
Dikutip dari Reuters, cadangan devisa China yang merupakan terbesar di dunia mencapai US$3,438 triliun pada Agustus.
Angka tersebut naik dari US$3,419 triliun pada Juli dan melampaui perkiraan sebesar US$3,425 triliun dalam jajak pendapat Reuters.
Yuan menguat 0,49% terhadap dolar AS sepanjang Agustus. Pada periode yang sama, dolar AS melemah 0,4% terhadap sejumlah mata uang utama.
China Suntikkan Modal
Di sisi lain, Beijing kembali menyuntikkan dana ke sejumlah perusahaan keuangan besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Total pendanaan mencapai sekitar 365 miliar yuan atau US$54 miliar, termasuk melalui penerbitan saham baru.
Langkah tersebut dilakukan lebih dari setahun setelah China menggelontorkan dana 500 miliar yuan dalam program recapitalisasi sebelumnya.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai hasil yang telah dicapai China dari kebijakan tersebut.
Putaran pendanaan terbaru akan mengalir ke dua bank milik negara, yakni Agricultural Bank of China dengan nilai kapitalisasi pasar US$356 miliar dan Industrial and Commercial Bank of China.
Langkah ini menunjukkan ketergantungan Beijing terhadap sektor perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit dan mendorong ekonomi.
Berbeda dari program sebelumnya, dana kali ini juga akan dibagikan kepada empat perusahaan asuransi.
Langkah tersebut menunjukkan keinginan Beijing agar perusahaan asuransi terus menopang pasar saham.
Masalahnya, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang melambat menjadi hanya 4,3% membuat permintaan kredit melemah.
Pertumbuhan pinjaman yuan yang masih berjalan turun dari 7,1% pada Juni tahun lalu menjadi 5,1% pada Juli tahun ini. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam catatan data resmi.
Bank of China, yang menerima suntikan modal sebesar 165 miliar yuan pada 2025, juga hanya meningkatkan penyaluran kredit domestik sebesar 10% pada 2025.
Angka tersebut turun dari 10,8% pada tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut diperkirakan belum berubah selama pasar properti China masih mencari titik terendah.
Aktivitas manufaktur juga terus mengalami kontraksi, sementara sektor jasa masih lemah.
Modal Segarkan Dividen
Modal baru akan membantu mengurangi tekanan dari tuntutan Beijing agar seluruh perusahaan yang tercatat di bursa meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham.
Agricultural Bank of China dijadwalkan menerima 160 miliar yuan dalam putaran pendanaan terbaru.
Bank tersebut diperkirakan membagikan dividen sekitar 95 miliar yuan untuk mempertahankan rasio pembayaran dividen sekitar 32% pada 2026, berdasarkan proyeksi analis yang dihimpun Visible Alpha.
Lembaga keuangan China kini semakin dituntut untuk menjalankan beberapa tujuan kebijakan sekaligus. Salah satunya adalah mengalirkan dana ke pasar saham domestik.
Perusahaan asuransi seperti China Life Insurance yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$150 miliar telah menjadi salah satu pembeli utama.
Total kepemilikan saham dan reksa dana perusahaan asuransi tersebut meningkat menjadi 5,7 triliun yuan atau sekitar US$849 miliar pada tahun lalu. Angka tersebut naik 39% secara tahunan.
Pembelian tersebut membantu indeks CSI 300 naik 2,4% dalam satu tahun terakhir.
Namun, kenaikan tersebut masih di bawah laju pasar bullish yang diharapkan Beijing.
Dari dua tujuan kebijakan tersebut, menopang pasar saham dinilai kurang penting dibandingkan dengan penyaluran kredit kepada sektor ekonomi riil.
Putaran Fiskal
Sebagai pemegang saham terbesar, Kementerian Keuangan China mengalirkan kembali dividen yang diterimanya ke bank dan perusahaan asuransi.
Sebelum 2025, terakhir kali Beijing menyuntikkan modal dalam jumlah besar ke sektor perbankan adalah setelah krisis keuangan global 2008.
Jika dua suntikan modal dalam dua tahun terakhir gagal mendorong pertumbuhan kredit, China kemungkinan akan menghentikan siklus suntikan modal tersebut.
Pemerintah dapat beralih ke stimulus fiskal yang jauh lebih besar untuk mengatasi lemahnya permintaan secara langsung. (ARF)