Emas turun 0,6%, data pekerjaan AS tekan harga
Selasa, 08 September 2026
JAKARTA - Harga emas kembali tertekan setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat meningkatkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter selanjutnya.
Seperti dikutip Reuters, harga emas spot turun 0,6% menjadi US$4.402,86 per troi ons pada pukul 04.20 GMT, setelah sebelumnya terkoreksi 1% pada Jumat. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga turun 0,6% menjadi US$4.447,60 per troi ons.
Data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja meningkat tajam pada Agustus. Sementara itu, tingkat pengangguran bertahan di 4,1%.
Data tersebut memperkuat pandangan bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS masih cukup solid. Hal ini sekaligus membuka kembali peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 September.
Pelaku pasar kini menunggu data Producer Price Index (PPI) AS pada Kamis dan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat. Kedua data tersebut akan menjadi indikator penting bagi investor untuk memperkirakan langkah The Fed berikutnya.
Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan data pekerjaan AS memberikan tekanan terhadap emas, tetapi belum cukup untuk memastikan kenaikan suku bunga pada September.
"Angka ketenagakerjaan menunjukkan kejutan positif yang nyata dan memberikan tekanan pada logam tersebut, namun hal itu belum menjadi kepastian mutlak bagi kenaikan suku bunga bulan September. Kepingan teka-teki yang sesungguhnya masih dinantikan minggu ini melalui data CPI AS," ujarnya.
Waterer menilai data inflasi yang kuat dapat semakin memperbesar peluang kenaikan suku bunga dan mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap emas.
"Angka inflasi yang tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, mendorong kenaikan imbal hasil lebih lanjut, serta memberikan tekanan lebih berat terhadap harga emas."
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September mencapai 58,4%.
Kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga dan imbal hasil aset berbunga meningkat, daya tarik emas cenderung berkurang.
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump, pada Jumat kembali mendesak The Fed menurunkan suku bunga. Trump mengatakan akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mencatat surplus perdagangan terhadap AS jika bank sentral tidak memangkas suku bunga.
Dari sisi geopolitik, Iran menyatakan akan meningkatkan upaya untuk mengatasi dampak sanksi AS.
Tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 0,6% menjadi US$65,80 per ons troi. Platinum melemah 1,1% menjadi US$1.800,59 per ons troi, sementara palladium turun 0,5% menjadi US$1.394 per ons troi. (DH)