TotalEnergies pangkas saham Papua LNG, Exxon jadi operator

Selasa, 08 September 2026

image

JAKARTA - TotalEnergies memangkas kepemilikannya di proyek Papua LNG dan menyerahkan posisi operator kepada ExxonMobil

Seperti dikutip Reuters, TotalEnergies akan menjual 9,1% kepemilikannya kepada para mitra berdasarkan proporsi kepemilikan masing-masing.

Setelah transaksi, perusahaan energi asal Prancis tersebut akan mempertahankan 20% saham di Papua LNG.

TotalEnergies tidak mengungkapkan nilai transaksi. Sementara itu, Santos mengumumkan pembelian tambahan 3,3% saham Papua LNG senilai US$189 juta sehingga kepemilikannya meningkat menjadi 21%.

Santos mengatakan transaksi tersebut masih bergantung pada tercapainya FID Papua LNG yang ditargetkan pada kuartal IV 2026. TotalEnergies menyebut sejumlah hambatan kontraktual dan komersial untuk mencapai keputusan tersebut telah diselesaikan.

“Ini semua adalah bagian dari antrean FID pada akhir tahun, yang akan membantu memperpanjang umur PNG LNG yang akan mulai menurun sekitar tahun 2028,” kata Saul Kavonic, Analis MST Marquee, merujuk pada proyek LNG di dekat Papua LNG yang saat ini mengoperasikan ExxonMobil.

ExxonMobil juga akan mengambil alih operator Papua LNG. Perusahaan menilai penyatuan operator proyek Papua LNG dan PNG LNG dapat meningkatkan koordinasi dan efisiensi pelaksanaan proyek.

"Menempatkan Papua LNG dan PNG LNG di bawah kendali operasi ExxonMobil diharapkan dapat memperkuat penyelarasan antarproyek, meningkatkan efisiensi pelaksanaan, serta mendukung pengembangan sumber daya LNG kelas dunia milik Papua Nugini," kata Juru Bicara ExxonMobil.

TotalEnergies mengatakan proses tender pekerjaan engineering, procurement and construction (EPC) Papua LNG telah selesai. Kontrak proyek kini menunggu persetujuan para mitra.

Perseroan juga berhasil memangkas biaya proyek hampir US$4 miliar sejak 2024 melalui tender ulang kontrak dan optimalisasi desain. Langkah tersebut menurunkan estimasi belanja modal Papua LNG menjadi sekitar US$14 miliar.

Selain itu, para mitra telah menyelesaikan perubahan perjanjian gas dengan pemerintah Papua Nugini.

Mereka juga membentuk usaha patungan pemasaran LNG bersama Kumul Petroleum untuk menjual 2,4 juta ton per tahun (Mtpa) dari total produksi Papua LNG sebesar 5,6 Mtpa.

Tertunda Lebih dari 1 Dekade

Papua LNG merupakan bagian dari strategi TotalEnergies untuk meningkatkan pasokan LNG dengan biaya lebih rendah. Proyek yang dikembangkan dari lapangan Elk dan Antelope di Provinsi Gulf, Papua Nugini, ditargetkan menghasilkan 5,6 Mtpa LNG, terutama untuk pasar Asia.

Proyek tersebut telah dikembangkan selama lebih dari satu dekade. Namun, Papua LNG menghadapi sejumlah penundaan akibat perselisihan fiskal, pandemi, serta negosiasi antara para mitra.

Meski memangkas kepemilikan, TotalEnergies tetap mempertahankan hak atas 1,5 Mtpa produksi LNG untuk portofolionya.

Penjualan saham tersebut juga akan membebaskan modal untuk dialihkan ke proyek lain.

Marc Howson, Head of Asia Pacific Welligence Energy Analytics, mengatakan TotalEnergies memiliki salah satu komitmen investasi LNG terbesar di industri untuk proyek-proyek yang sedang dalam tahap konstruksi.

Komitmen tersebut mencakup kepemilikan TotalEnergies dalam sejumlah proyek LNG di Timur Tengah, Teluk Meksiko AS, serta Afrika Barat dan Timur.(DH)