Danantara gandeng China percepat proyek Waste to Energy
Selasa, 08 September 2026
JAKARTA - Indonesia menggandeng sejumlah mitra internasional, termasuk perusahaan asal China, untuk mengembangkan ekosistem pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy (WtE).
PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), anak usaha Danantara Indonesia di sektor energi bersih, menilai pengalaman perusahaan China menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat pembangunan fasilitas WtE di Indonesia.
CEO Denera, Fadli Rahman, mengatakan perusahaan China telah mengembangkan teknologi WtE selama dua dekade terakhir dengan standar yang tinggi.
"Selama 20 tahun terakhir, mereka sangat aktif tidak hanya dalam membangun, tetapi juga mengembangkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi terkini dengan standar tertinggi," ujar CEO Denera, Fadli Rahman, dalam konferensi pers yang diselenggarakan oleh Badan Komunikasi Pemerintah di sini pada hari Senin, seperti dikutip Antaranews.
Menurut Rahman, teknologi WtE dari China memiliki kualitas dan biaya yang mampu bersaing dengan teknologi dari negara lain.
Namun, perusahaan China memiliki keunggulan dalam kecepatan pengerjaan proyek. Menurut dia, para mitra tersebut memiliki komitmen untuk segera membangun fasilitas sekaligus menjaga keberlangsungan proyek dalam jangka panjang.
"Kami membutuhkannya karena kami memerlukan percepatan saat menghadapi krisis sampah," ujar CEO Denera.
Faktor tersebut turut mendorong dominasi perusahaan China dalam pemenang tender tahap pertama pembangunan fasilitas WtE di Indonesia.
Pada tahap pertama, dua perusahaan asal China memenangkan tender untuk tiga proyek WtE. Zhejiang Weiming menangani proyek di Bogor dan Denpasar, sedangkan Wangneng Environment menggarap proyek di Bekasi.
Ketiga proyek tersebut kini memasuki tahap pengembangan. Rahman mengatakan kerja sama antara perusahaan China dan mitra lokal berjalan baik sehingga proses pembangunan hingga pengoperasian fasilitas dapat berlangsung lancar.
Meski seluruh pemenang tender tahap pertama berasal dari China, Denera memastikan peluang investasi WtE di Indonesia tetap terbuka bagi perusahaan dari berbagai negara.
Pada tender tahap kedua untuk delapan lokasi WtE, Indonesia menerima peserta dari Korea Selatan, Jepang, India, Singapura, dan China. Dari proses tersebut, pemerintah memilih delapan mitra yang terdiri atas empat konsorsium domestik dan empat konsorsium internasional.
Empat konsorsium internasional tersebut dipimpin oleh dua perusahaan asal Prancis dan dua perusahaan asal China.
Selain mempercepat pembangunan, Denera juga menetapkan standar pengembangan fasilitas WtE yang mengacu pada standar Uni Eropa. Kebijakan tersebut membuat pengembangan proyek membutuhkan dukungan teknologi, input, dan sumber daya dari lebih banyak mitra.
Indonesia menargetkan seluruh sampah dapat terkelola pada akhir 2029. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menargetkan persentase sampah yang terkelola mencapai 63,41% pada 2026. (DH)