Bursa Asia melemah di tengah ekspektasi pemangkasan Fed rate

Selasa, 18 November 2025

image

TOKYO - Bursa saham Asia melemah pada awal perdagangan Selasa (18/11), seiring pelaku pasar menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat (AS) yang tertunda akibat penutupan pemerintahan.

Pada saat yang sama, investor mulai menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) bulan depan.

Pelaku pasar menantikan berbagai data ekonomi dari AS, termasuk laporan tenaga kerja non-pertanian (Non-Farm Payroll) September yang dijadwalkan rilis pada Kamis.

Di kawasan regional, perhatian juga tertuju pada pertemuan antara Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, dan Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda pukul 13.30 WIB—pertemuan pertama sejak Takaichi menjabat bulan lalu.

“Minat terhadap hasil pertemuan tersebut sangat besar, mengingat Takaichi dikenal mendukung kebijakan moneter dan fiskal yang longgar. Pasar ingin tahu apakah, dan kapan, BOJ akan mulai mengetatkan kebijakan dalam beberapa bulan ke depan,” tulis analis JBWere dalam riset Selasa, dilansir Reuters.com, Selasa (18/11).

Sebelumnya, Ueda memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga paling cepat bulan depan. Namun Takaichi dan Menteri Keuangan Satsuki Katayama menegaskan bahwa suku bunga sebaiknya tetap rendah hingga inflasi mencapai target 2% secara berkelanjutan.

Di pasar saham, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,7%. Bursa Jepang mencatat pelemahan signifikan, dengan penurunan pada Nikkei lebih dari 2% dan Topix 1,48%.

Di China, Shanghai Composite melemah 2,04%, sementara Hang Seng Hong Kong turun 0,91%. Saham Korea Selatan (KOSPI) merosot 1,80% dan indeks Australia ASX 200 melemah 1,65%.

Tekanan di pasar Asia mengikuti pelemahan di Wall Street semalam, seiring imbal hasil obligasi pemerintah AS yang turun tipis dan pasar bersiap menghadapi serangkaian rilis data ekonomi.

Laporan kinerja Nvidia pada Rabu juga menjadi sorotan karena dinilai dapat memberikan sinyal mengenai potensi pelemahan sektor semikonduktor, yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi motor reli pasar saham.

Selama penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS, ketidakpastian meningkat mengenai apakah The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan bulan depan.

“Pasar saham global cenderung bergerak defensif menjelang rilis data tenaga kerja AS dan laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar,” ujar Kepala Ekonom Besa Deda di Sydney.

Deda menambahkan, laporan payroll diprediksi memberi indikasi penting mengenai kekuatan fundamental ekonomi AS dan akan membentuk ekspektasi langkah The Fed berikutnya.

“Pemangkasan suku bunga pada Desember belum pasti,” ungkap Deda.

Selain itu, Deda mengatakan November biasanya membawa volatilitas lebih tinggi di pasar global. Berbeda dengan Oktober, banyak indeks utama kini tertahan dan gagal mencatatkan rekor baru.

Investor pun mulai menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga, meskipun data sektor swasta terbaru menunjukkan pelemahan lanjutan ekonomi AS.

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 40% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, turun dari kisaran 60% pada awal bulan ini. (DK/KR)