Yen menguat ke level tertinggi tujuh bulan
Selasa, 08 September 2026
JAKARTA - Yen Jepang menguat ke level tertinggi dalam tujuh bulan terhadap dolar AS pada Senin (7/9).
Seperti dikutip Reuters, dolar AS turun hingga 154,05 yen, level terendah sejak Februari. Pada perdagangan terakhir, dolar melemah 1,1% menjadi 154,4 yen.
Pergerakan tersebut membawa dolar menembus level 155 yen yang sebelumnya menjadi titik terendah setelah Amerika Serikat dan Jepang melakukan intervensi bersama untuk menopang yen. Saat itu, yen berada di posisi terlemah dalam 40 tahun.
Kenaikan yen setelah intervensi sempat mereda. Namun, arus repatriasi modal, pembalikan transaksi carry trade, serta tekanan politik dari Amerika Serikat kembali mendorong investor mengurangi posisi bearish terhadap yen.
Tembus Level 155 Yen
Lee Hardman, analis mata uang senior MUFG, menilai penembusan level 155 yen memperkuat sentimen positif terhadap mata uang Jepang.
"Sejauh tahun ini, saat kita melihat yen menguat setelah serangkaian intervensi, level 155 merupakan titik di mana pasangan mata uang dolar/yen cenderung mencapai titik terendahnya. Penembusan di atas level tersebut merupakan sinyal bullish, dan kita bisa melihat potensi penguatan lebih lanjut bagi yen," ujarnya.
Penguatan yen berlangsung cepat. Pada Selasa pekan lalu, dolar masih diperdagangkan di atas 160 yen.
Investor juga mulai mengantisipasi pembalikan transaksi carry trade berbasis yen yang selama ini ikut menekan nilai tukar Jepang. Dalam strategi tersebut, investor meminjam yen dengan biaya rendah untuk membeli aset dalam mata uang lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Eric Robertsen, kepala penelitian dan kepala strategi global Standard Chartered, mengatakan penguatan yen berkelanjutan dapat mengubah pola alokasi aset investor.
“Jika JPY terus menguat, ini mungkin menandakan bahwa kenaikan suku bunga JPY dan USD mulai memicu perubahan alokasi aset,” katanya.
Pasar Tunggu Inflasi AS
Penguatan yen turut menekan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya. Euro naik 0,15% menjadi US$1,1630, sedangkan poundsterling menguat dengan persentase yang sama menjadi US$1,3539.
Perhatian pasar kini beralih ke data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini.
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini sekitar 60% setelah data nonfarm payrolls AS pada Jumat pekan lalu menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan.
Elias Haddad, global head of markets strategy BBH, mengatakan data inflasi akan menjadi penentu utama arah kebijakan The Fed dan pergerakan dolar AS.
"CPI yang bagus akan menutup kenaikan di bulan September dan mendukung penguatan dolar AS. Data yang lebih dingin akan memperkuat kemungkinan untuk mempertahankannya dan membuat dolar AS rentan terhadap penetapan harga yang dovish oleh The Fed," katanya.
Menurut Haddad, penguatan dolar tetap menahan batas meskipun The Fed menaikkan suku bunga pada bulan September. Kebijakan pengetatan dari bank sentral utama lainnya berpotensi membatasi perbedaan kebijakan moneter global.
“Bahkan jika kenaikan suku bunga Fed pada bulan September menjadi kesepakatan, kami ragu dolar AS akan mencapai siklus tertinggi baru. Pengetatan yang dilakukan oleh bank sentral besar lainnya membatasi perbedaan kebijakan.”
Selain The Fed, European Central Bank (ECB) juga akan menggelar pertemuan kebijakan pada Kamis dan pasar secara luas memperkirakan bank sentral tersebut menaikkan suku bunga zona euro.(DH)