CEO DeepMind Demis Hassabis: AI terlalu dibesar-besarkan
Senin, 05 Januari 2026

JAKARTA - Arus pendanaan besar terus mengalir ke startup kecerdasan buatan (AI), bahkan ketika sebagian di antaranya belum memiliki pendapatan dan baru bermodalkan presentasi bisnis.Dilansir finance.yahoo.com, fenomena ini memicu kekhawatiran soal keberlanjutan valuasi tinggi yang disematkan pada perusahaan-perusahaan tahap awal tersebut.CEO Google DeepMind sekaligus salah satu tokoh utama di balik perkembangan AI global, Demis Hassabis, mempertanyakan tren tersebut.Ia menyoroti bagaimana sejumlah startup AI mampu menggalang pendanaan dengan valuasi mencapai puluhan miliar dolar sejak awal berdiri, meski traksi bisnisnya masih sangat terbatas.“Menarik untuk dilihat, apakah ini bisa berkelanjutan? Dugaan saya, kemungkinan besar tidak, setidaknya secara umum,” ujar Hassabis dalam sebuah episode terbaru Google DeepMind: The Podcast.Dalam perbincangan dengan pembawa acara Hannah Fry, Hassabis mengatakan ada startup tahap awal yang bahkan belum benar-benar berjalan namun sudah berhasil mengamankan pendanaan dalam jumlah besar.Menurutnya, kondisi ini menjadi indikasi bahwa sebagian pasar AI tengah berada dalam fase gelembung (bubble).Hassabis membedakan lonjakan pendanaan tersebut dengan investasi besar yang mengalir ke perusahaan teknologi mapan.Ia menilai valuasi perusahaan besar lebih memiliki dasar bisnis yang nyata, terutama karena mereka berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur AI dan telah memiliki model pendapatan yang jelas.“Ada banyak bisnis riil yang menopang valuasi perusahaan teknologi besar,” ujarnya.Ia juga mengulang pandangannya bahwa teknologi AI saat ini cenderung terlalu dibesar-besarkan dalam jangka pendek, namun justru masih kurang diapresiasi dalam jangka menengah hingga panjang.Menurut Hassabis, ketimpangan ekspektasi tersebut merupakan pola yang kerap terjadi dalam perkembangan teknologi besar sepanjang sejarah. (DK)