SMGR pangkas utang Rp3,34 triliun, siapkan imbal hasil optimal

Rabu, 09 September 2026

image

JAKARTA - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) membuka peluang untuk kembali memberikan imbal hasil optimal kepada pemegang saham setelah membagikan 100% laba bersih tahun buku 2025 sebagai dividen.

Direktur Keuangan SMGR, Sigit Prastowo, mengatakan perseroan akan terus mendorong kinerja pada 2026 untuk menjaga imbal hasil kepada pemegang saham, baik dari sisi persentase maupun nominal.

"Di tahun 2026 tentu kita ingin melanjutkan bagaimana memberikan satu imbal hasil yang optimal, bukan dari sisi persentase, tapi juga dari sisi nominal," ujar Sigit dalam Public Expose Live 2026.

Menurut Sigit, kinerja 2026 akan menjadi dasar pembagian dividen pada 2027. Namun, perseroan tetap mempertimbangkan ketersediaan arus kas dan kebutuhan investasi sebelum menentukan besaran dividen.

"Beberapa pertimbangan tentu harus kita lakukan, antara lain bagaimana kita memastikan cash flow tersedia dengan baik, kemudian kebutuhan-kebutuhan untuk investasi juga akan kita nilai dengan baik," katanya.

Keputusan final mengenai pembagian dividen nantinya berada di tangan pemegang saham.

Utang Turun Rp3,34 Triliun

Di sisi lain, SMGR berhasil menurunkan utang berbunga menjadi Rp8,06 triliun pada semester I-2026, dari Rp11,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sigit mengatakan penurunan utang ditopang oleh peningkatan volume penjualan dan harga jual semen yang mendorong pertumbuhan pendapatan. Kenaikan pendapatan kemudian memperkuat arus kas operasional perseroan.

"Kata kuncinya adalah kemampuan kita untuk meng-generate cash flow dari operating adalah salah satu kunci utama dari kemampuan kita untuk menurunkan utang kita," ujarnya.

Penurunan utang tersebut turut memperbaiki struktur keuangan SMGR. Rasio utang terhadap ekuitas turun dari 0,26 kali menjadi 0,18 kali pada semester I-2026.

Selain memperbaiki rasio keuangan, penurunan utang secara absolut juga mengurangi beban bunga yang harus dibayarkan perseroan kepada kreditur.

"Penurunan utang secara absolut juga menurunkan beban yang harus kita bayar kepada para kreditur. Dan ini secara langsung berdampak terhadap kemampuan kita untuk terus memperkuat bottom line kita atau profit kita," kata Sigit.(DH)