Mengapa harga minyak belum dapat menembus US$100?

Rabu, 09 September 2026

image

SINGAPURA — Harga minyak kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Namun, kenaikan tersebut belum cukup untuk mendorong harga minyak mentah Brent menembus level US$100 per barel, meskipun Iran dan Amerika Serikat (AS) terus saling menyerang.

Dikutip dari Reuters, harga Brent telah naik sekitar 9% sepanjang September.

Meski demikian, harga tersebut masih jauh di bawah level tertingginya sekitar US$120 per barel yang sempat dicapai pada awal tahun.

Salah satu alasan harga belum melonjak lebih tinggi adalah pasokan minyak dari Timur Tengah yang masih terus mengalir.

Tony Munroe, Editor Komoditas dan Energi Asia Reuters, mengatakan sekitar 11 juta barel minyak per hari masih dikirim dari kawasan tersebut, meskipun sebagian jalur pengiriman telah terganggu.

“Untuk minyak mentah, perkiraannya memang berbeda-beda. Namun, menurut salah satu perkiraan dari Argus, sekitar 11 juta barel minyak per hari masih dikirim dari Timur Tengah. Sebagian melewati Selat Hormuz, sementara sebagian lainnya melalui jaringan pipa atau Laut Merah. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan sekitar 18 juta barel per hari sebelum konflik dimulai,” kata Munroe.

Sejumlah negara eksportir di kawasan Teluk juga berupaya menjaga pasokan dengan meningkatkan pengiriman. Ekspor minyak dari Irak meningkat, sementara pengiriman dari Kuwait juga bertambah.

Dari luar kawasan Timur Tengah, peningkatan produksi di AS, Kanada, dan Guyana diperkirakan ikut menutup sebagian kekurangan pasokan akibat gangguan di kawasan tersebut.

Selain pasokan yang masih tersedia, lemahnya permintaan juga membatasi kenaikan harga. China, sebagai importir minyak terbesar dunia, menjadi salah satu faktor utamanya.

Konsumsi minyak di China menurun, yang salah satunya disebabkan oleh penggunaan kendaraan listrik yang semakin meningkat.

Namun, tekanan terhadap harga minyak global mulai menguat. Salah satu penyebabnya adalah munculnya tanda-tanda kekurangan diesel dalam skala besar.

Perubahan tersebut mulai tercermin dalam proyeksi sejumlah analis. Munroe mengatakan harga Brent telah bergerak naik secara konsisten dalam beberapa hari terakhir dan kini berada di atas US$97 per barel.

“Harga terus bergerak naik dalam beberapa hari terakhir. Brent, sebagai harga patokan, hari ini berada di atas US$97 per barel. Dalam beberapa hari terakhir, semakin banyak analis yang menaikkan proyeksi harga minyak per barel ke depan,” kata Munroe.

Morgan Stanley kini memperkirakan harga Brent akan rata-rata mencapai US$100 per barel pada kuartal IV.

Goldman Sachs juga menaikkan proyeksinya dan menilai gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz kemungkinan masih berlangsung hingga tahun depan. (ARF)