Koperasi Desa Merah Putih dongkrak penjualan anak usaha SMSM 20%
Rabu, 09 September 2026
JAKARTA - Program Koperasi Merah Putih memberikan dampak positif terhadap kinerja PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM), khususnya melalui peningkatan penjualan anak usaha perseroan yang bergerak di bidang karoseri truk.
““Kontribusi Koperasi Merah Putih secara tidak langsung membawa dampak positif pada anak perusahaan perseroan, yaitu PT Hydraxle Perkasa. PT Hydraxle Perkasa ini membuat body untuk truk,” ungkap Vice President Director SMSM, Ang Andri Pribadi.
Anak usaha SMSM, PT Hydraxle Perkasa, mencatat kenaikan penjualan dari Rp79 miliar menjadi Rp92 miliar pada semester I 2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sekitar 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam Public Expose Live, Rabu (9/9), Ang mengatakan peningkatan tersebut antara lain ditopang pemulihan aktivitas di sektor pertambangan dan perkebunan serta permintaan karoseri truk yang berkaitan dengan program Koperasi Merah Putih.
Kinerja semester I 2026Kinerja positif anak usaha tersebut turut menopang kinerja konsolidasi SMSM pada semester I 2026.
Pada semester I 2026, SMSM mencatatkan laba bersih sebesar Rp550 miliar, naik 3,77% dibandingkan Rp530 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Melonjaknya laba bersih Perseroan ditopang oleh penjualan yang tumbuh sebesar 3,7% dari Rp2,55 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp2,64 miliar pada semester I 2026.
Menurut Ang melihat kinerja Perseroan di semester I 2026 yang tumbuh signifikan, SMSM optimistis kinerja Perseroan akan terus membaik pada semester II 2026.
“Penjualan SMSM biasanya memang lebih kuat di semester kedua. Salah satu alasannya adalah tipikal customer kami yang mayoritas adalah distributor, sehingga biasanya menjelang akhir tahun, mereka akan meningkatkan pembelian untuk tujuan pencapaian target annual mereka,” kata Corporate Secretary SMSM, Lidiana Wijoyo.
Diversifikasi ke EVSelain memanfaatkan peluang dari kendaraan komersial dan kebutuhan karoseri, SMSM terus melakukan diversifikasi bisnis untuk mengantisipasi perubahan industri otomotif, termasuk transisi menuju kendaraan listrik (EV).
Saat ini, sekitar dua pertiga penjualan filter perseroan berasal dari segmen heavy duty, kendaraan komersial, dan mesin stasioner. Adapun sekitar sepertiga lainnya berasal dari kendaraan penumpang.
SMSM juga memperluas bisnis filtrasi non-otomotif melalui produk heating, ventilation, and air conditioning (HVAC). Produk tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk clean room di rumah sakit, industri farmasi, hingga pembangkit listrik.
Ang mengatakan diversifikasi tersebut telah dipersiapkan sejak sekitar satu dekade lalu untuk mengurangi ketergantungan perseroan terhadap kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE).
“Untuk electric vehicle, sebetulnya perusahaan juga sudah mengantisipasi dari 10 tahun yang lalu, di mana kami juga sudah mulai shifting dari tadinya fokus untuk internal combustion engine atau otomotif yang tradisional, kemudian kami bergerak masuk ke heavy duty dan commercial vehicle,” ujar Ang.
“Di samping itu, untuk mengantisipasi electric vehicle ini kami juga memproduksi jenis filter lain, yaitu HVAC. Sehingga dengan demikian kita berharap ke depannya kita tidak tergantung pada internal combustion engine,” lanjutnya.
Di sisi pasar, SMSM juga mencatat pertumbuhan penjualan domestik sebesar 11,5% pada semester I-2026. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong pembukaan sejumlah cabang baru di kota-kota besar.
Perseroan juga menjalankan program efisiensi biaya (cost reduction program) untuk menjaga profitabilitas di tengah kondisi pasar yang masih menantang.
Dari segi kinerja saham, pada perdagangan hari ini, Rabu (9/9), hingga pukul 11.59 WIB, harga saham SMSM stagnan di level Rp1.765 per lembar.
Namun, jika dilihat sebulan terakhir saham SMSM naik 2,92% dan sejak awal 2026 naik hingga 0,86%. (DK/ZH)