Sentimen fiskal membebani, skenario terburuk rupiah tembus Rp17.000

Senin, 05 Januari 2026

image

JAKARTA - Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan risiko gagal bayar utang jangka pendek, namun lebih dipengaruhi oleh persepsi pasar terhadap kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Philip Wee, Senior FX Strategist DBS, dalam riset yang disampaikan akhir tahun lalu.

Wee menilai pelemahan rupiah terjadi cukup signifikan, dibandingkan pelebaran Credit Default Swap (CDS) Sovereign Indonesia pada Agustus-September 2025.

Menurut Wee, divergensi antara pasar valuta asing dan pasar kredit menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap indikator risiko Indonesia.

“Divergensi yang berkelanjutan ini mengindikasikan bahwa pasar valuta tidak bereaksi terhadap risiko gagal bayar utang jangka pendek,” ungkap Wee.

Ia menambahkan, reaksi pasar itu muncul meskipun Indonesia secara fundamental masih cukup kuat. “Mengingat neraca Indonesia yang masih kuat, profil jatuh tempo utang yang panjang, serta basis investor domestik yang besar,” tulisnya.

Namun Wee menilai tekanan terhadap rupiah lebih mencerminkan kekhawatiran pasar, terhadap “kredibilitas kebijakan fiskal kabinet hasil perombakan yang belum teruji.”

DBS mencatat CDS Sovereign Indonesia memang melebar pada Agustus–September 2025, namun dengan skala yang lebih kecil dibandingkan saat AS mengumumkan Liberation Day pada April.

Dari sisi eksternal, Wee menyoroti risiko yang berasal dari dinamika perdagangan global. Kenaikan CDS sovereign dan USD/IDR terjadi bersamaan menjelang perang tarif, namun kembali terkoreksi setelah adanya gencatan tarif.

Namun Wee menekankan negosiasi tarif dagang antara Indonesia dan AS yang belum tuntas, akan mempertahankan ketidakpastian bagi tukar rupiah.

“Dalam skenario terburuk, USD/IDR berpotensi kembali menembus level di atas 17.000,” tulis Wee menutup laporan risetnya.

Laporan IDNFinancials.com pada September 2025 lalu, menyampaikan proyeksi DBS yang memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menguat ke Rp16.230/US$ di akhir tahun.

Namun pada perdagangan akhir tahun kemarin, rupiah parkir di level Rp16.715/US$. Sementara di perdagangan hari ini, rupiah telah di level Rp16.735/US$ atau melemah 0,12% dari posisi akhir tahun lalu. (KR)