BJTM perketat kredit, NPL tembus 4,24%
Rabu, 09 September 2026
JAKARTA - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) atau Bank Jatim, membukukan laba bersih Rp802 miliar hingga Juli 2026, tumbuh 1,76% secara tahunan, di tengah perlambatan kredit dan tekanan kualitas aset.
Direktur Keuangan BJTM, RM Wahyukusumo Wisnubroto, mengatakan perseroan melakukan rebalancing bisnis untuk menjaga kinerja di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
“Manajemen secara berkesinambungan melakukan rebalancing atas kinerja bisnis di tengah kondisi perekonomian yang relatif menantang, sehingga laba bersih Bank Jatim per Juli masih tetap bisa tumbuh 1,76% tahunan atau sebesar Rp802 miliar,” ujar Wahyukusumo dalam Public Expose Live 2026.
Secara bank only, aset perseroan mencapai Rp98 triliun hingga Juli 2026. Namun, penyaluran kredit turun 2,6% yoy menjadi Rp66,4 triliun.
Penurunan terutama terjadi pada kredit produktif yang terkoreksi 6,9% tahunan menjadi Rp30,1 triliun. Sementara kredit konsumtif masih tumbuh 0,8% tahunan menjadi Rp36,3 triliun.
Direktur Ritel & Syariah BJTM, Tonny Prasetyo, mengatakan permintaan kredit masih tertahan akibat kondisi ekonomi nasional, pola konsumsi masyarakat yang lebih defensif, serta tekanan kualitas aset, terutama pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Demand yang masih tertahan, permintaan kredit yang masih konservatif, pola konsumsi masyarakat yang bergeser lebih defensif, termasuk kualitas aset terutama pada sektor UMKM,” kata Tonny.
Menghadapi kondisi tersebut, perseroan memperketat penyaluran kredit dan memprioritaskan sektor yang dinilai masih memiliki prospek.
Dorong Kredit Konsumtif
Perseroan mengarahkan pertumbuhan kredit ke segmen konsumtif, terutama kredit berbasis payroll. Segmen ini dinilai memiliki profil risiko yang relatif lebih rendah.
Tonny mengatakan kredit konsumtif berbasis payroll masih mampu tumbuh 1,8% tahunan sehingga menjadi salah satu ruang pertumbuhan perseroan di tengah pelemahan kredit produktif.
Di segmen produktif, portofolio mikro mencapai Rp10,6 triliun dengan kontribusi Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar 58,38%.
Sementara itu, kredit ritel dan menengah mencapai Rp13,4 triliun. Pada segmen korporasi, kredit sindikasi menjadi kontributor terbesar dengan outstanding sekitar Rp6 triliun.
NPL Masih di Atas 4%
Tekanan kualitas aset masih menjadi perhatian. NPL gross pada Juli 2026 tercatat 4,24%, sedangkan NPL net mencapai 2,61%.
NPL gross tersebut membaik dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 4,38%. Namun, level NPL masih berada di atas 4%.
Berdasarkan segmen, NPL kredit konsumer pada Juni 2026 tercatat 1,54%, sedangkan NPL kredit produktif mencapai 2,71%.
Untuk menekan risiko, perseroan melakukan refocusing terhadap kredit yang mengalami penurunan kualitas. Evaluasi dilakukan bersama fungsi bisnis dan manajemen risiko untuk menentukan langkah penanganan debitur.
Direktur Utama BJTM, Winardi Legowo, mengatakan pengendalian kualitas aset dilakukan melalui langkah preventif dan kuratif.
“Pengendalian kualitas aset agar sesuai dengan risk appetite dilakukan baik melalui metode preventif sebagai upaya pencegahan, maupun secara kuratif untuk mengembalikan kualitas aset yang memburuk,” ujar Winardi.
DPK Turun 10,6%
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) turun 10,6% yoy menjadi Rp72,9 triliun hingga Juli 2026.
Penurunan terutama dipengaruhi berkurangnya transfer keuangan daerah yang berdampak pada dana pemerintah daerah yang dikelola Bank Jatim.
Dana giro turun 14,9% yoy menjadi Rp17,5 triliun. Tabungan turun 1,9% menjadi Rp29 triliun, sedangkan deposito turun 10,6% menjadi Rp26,4 triliun.
Untuk mengimbangi tekanan pendanaan, perseroan meningkatkan penghimpunan dana murah atau current account and savings account (CASA) melalui ekspansi JConnect, pemasaran berbasis ekosistem, dan peningkatan transaksi digital.
Perseroan juga memperluas jaringan melalui agen Laku Pandai serta menambah jaringan ATM dan CRM.
Hingga Juli 2026, loan to deposit ratio (LDR) Bank Jatim berada di level 90,92%, sementara coverage ratio mencapai 94,34%.(DH)