AS perluas sanksi ke Iran, sektor penerbangan jadi sasaran
Rabu, 09 September 2026
NEW YORK - Amerika Serikat pada Selasa menjatuhkan 36 sanksi terkait Iran yang menyasar sektor penerbangan dan sejumlah perusahaan lainnya.
Dilansir dari Reuters, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperbesar tekanan ekonomi terhadap Teheran di tengah perang di Timur Tengah yang telah memasuki bulan ketujuh.
Departemen Keuangan AS mengatakan sanksi tersebut ditujukan untuk menghentikan operasional Mahan Air, maskapai Iran yang sebelumnya telah dikenai sanksi oleh AS dan Uni Eropa, sekaligus memperluas sanksi terhadap seluruh maskapai penerbangan Iran.
Sanksi juga menyasar perusahaan cangkang yang beroperasi secara terselubung, penyedia layanan kargo, perantara asing, serta jalur pengiriman barang yang sengaja dibuat untuk mengelabui pengawasan.
Menurut Washington, jaringan tersebut digunakan Iran untuk memperoleh pesawat dan teknologi sensitif asal AS.
Departemen Keuangan AS juga meminta lembaga keuangan melaporkan jaringan pengadaan yang mendukung industri penerbangan Iran.
Selain itu, sejumlah perusahaan di Turki, Uni Emirat Arab (UEA), Malaysia, dan Kazakhstan dikenai sanksi karena dianggap membantu maskapai Iran beroperasi atau membantu Teheran memperoleh pesawat dan teknologi sensitif asal AS.
Office of Foreign Assets Control (OFAC) juga menangguhkan tiga otorisasi terkait penerbangan Iran.
Otorisasi tersebut sebelumnya memungkinkan penerbangan lintas wilayah udara Iran serta memberikan izin bagi maskapai non-AS untuk menerbangkan pesawat komersial asal AS atau yang dikendalikan AS ke Iran.
Miad Maleki, mantan pejabat senior Departemen Keuangan AS dan anggota Foundation for Defense of Democracies, mengatakan penangguhan tersebut akan berdampak pada lalu lintas udara dari Dubai, Doha, dan Istanbul.
Menurutnya, langkah tersebut dapat menutup jalur utama Teheran menuju perdagangan dan sistem keuangan regional.
OFAC juga menghapus sejumlah pengecualian sebelumnya yang memungkinkan pengiriman suku cadang keselamatan, bahan bakar, dan perbaikan darurat.
Tekanan Ekonomi terhadap Teheran
Langkah pada Selasa menjadi eskalasi terbaru dalam upaya pemerintahan Trump menekan perekonomian Iran dan mendorong Teheran mengurangi kendalinya atas Selat Hormuz.
Blokade laut AS dan sanksi yang semakin ketat telah menekan ekspor minyak Iran, membatasi akses negara tersebut terhadap valuta asing, serta memperlihatkan meningkatnya tekanan terhadap perekonomian domestik.
Departemen Keuangan AS memperingatkan perusahaan atau individu asing yang membantu maskapai Iran, baik melalui transfer pesawat, layanan kargo maupun dukungan agen penjualan, akan menghadapi konsekuensi serius.
27 Maskapai Iran Masuk Daftar Sanksi
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya telah memperingatkan bahwa maskapai penerbangan dapat menjadi sasaran sanksi, bersama sektor aset digital dan industri maritim.
“Di bawah Operation Economic Outcast, kami telah menjanjikan konsekuensi berat bagi mereka yang menyediakan jalur pendanaan bagi rezim Iran,” kata Bessent dalam pernyataan Selasa.
Ia memperingatkan perusahaan yang masih berbisnis dengan maskapai Iran bahwa mereka berisiko terputus dari sistem keuangan global.
Pada Selasa, Departemen Keuangan AS memasukkan 27 maskapai Iran ke dalam daftar sanksi. Sejumlah perusahaan yang berbasis di Turki dan UEA juga dikenai sanksi karena membantu Mahan Air mendapatkan sedikitnya tiga pesawat Boeing 777 yang sebelumnya telah dipensiunkan oleh operator lain.
Sanksi juga dikenakan terhadap Ibrahim Ali Mohamed Mohamed Mahran, warga Mesir yang berbasis di UEA dan merupakan CEO ECT Aviation Support, serta unit perusahaan tersebut di Inggris.
OFAC turut menjatuhkan sanksi kepada dua perusahaan yang berbasis di Turki dan Malaysia.
Keduanya dituduh memberikan layanan untuk penerbangan internasional Mahan Air dan mengoordinasikan pengiriman kargo.
Mahan Air Berulang Kali Jadi Sasaran
Departemen Keuangan AS sebelumnya telah berulang kali menargetkan jaringan internasional yang mendukung Mahan Air.
Pada Juli, Treasury menjatuhkan sanksi terhadap enam entitas dan individu di China, India, Rusia, dan Iran.
Beberapa di antaranya merupakan perusahaan yang bertindak sebagai agen penjualan Mahan Air.
Washington pertama kali menjatuhkan sanksi terhadap Mahan Air pada 2011 karena maskapai tersebut dituduh memberikan dukungan kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Pada 2020, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap sebuah perusahaan yang berbasis di China karena dituduh bertindak untuk kepentingan Mahan Air.
Brett Erickson, managing principal Obsidian Risk Advisors, menilai langkah terbaru AS memiliki dampak yang signifikan.
“Amerika Serikat menggunakan sanksi untuk secara efektif memblokade sektor penerbangan Iran dari dunia luar,” kata Erickson.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan perluasan besar dari perang ekonomi terhadap Iran dan berpotensi berdampak terhadap perjalanan sipil, perdagangan, rantai pasok, serta kemampuan Iran mempertahankan perekonomian yang sudah berada di bawah tekanan. (DK)