Proyek mineral kritis Uni Eropa hadapi krisis likuiditas

Rabu, 09 September 2026

image

JAKARTA - Sejumlah pengembang proyek mineral kritis yang dipilih Uni Eropa (UE) meminta pendanaan segera karena keterbatasan likuiditas berpotensi mengancam kelangsungan proyek.

Dokumen yang diperoleh Reuters menunjukkan sejumlah pengembang proyek meminta dukungan pendanaan mendesak.

Proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari strategi UE untuk memperkuat pasokan mineral kritis yang dibutuhkan sektor transisi energi, elektronik, dan pertahanan.

Seperti dikutip Reuters, UE memilih 47 proyek strategis di wilayah Eropa pada Maret 2025 dan 13 proyek tambahan di luar blok tersebut pada Juni 2025.

Proyek-proyek tersebut diharapkan meningkatkan produksi mineral seperti litium, kobalt, dan logam tanah jarang.

Mineral tersebut dibutuhkan untuk berbagai sektor, termasuk pusat data kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik (EV).

Masalah pendanaan menjadi perhatian utama. Dalam dokumen yang dikirimkan kepada Komisi Eropa, para pengembang proyek menyebut sejumlah komitmen terkait pendanaan, akses pasar, dan perizinan belum terealisasi.

"Lima belas bulan setelah pemilihan Proyek Strategis pertama, proyek-proyek tersebut terdampak oleh komitmen yang tidak terpenuhi terkait pembiayaan, akses pasar, dan perizinan, serta kurangnya visi, strategi, dan koherensi dalam pendekatan Eropa," demikian isi dokumen tersebut.

Persoalan pendanaan juga disebut berkontribusi terhadap runtuhnya Viridian Lithium pada Maret 2026.

Mantan Chief Commercial Officer perusahaan asal Prancis tersebut, Luc Pez, mengatakan proyek itu seharusnya memasok sekitar 10% kebutuhan litium UE.

Kurangnya pendanaan Uni Eropa telah berkontribusi pada runtuhnya Viridian Lithium pada bulan Maret, kata Pez kepada Reuters. Ia menambahkan, "Pemilihan Viridian sebagai proyek strategis Uni Eropa adalah sebuah kutukan".

"Investor swasta kami menunggu Eropa untuk berkomitmen pada proyek tersebut, tetapi itu tidak pernah terwujud. Jumlahnya kecil, tetapi sangat penting," kata Pez.

Target Mineral Kritis UE

Proyek-proyek tersebut dipilih untuk membantu UE memenuhi target dalam Critical Raw Materials Act 2024. Regulasi tersebut menargetkan UE dapat menambang 10%, memproses 40%, dan mendaur ulang 25% dari kebutuhan mineral kritisnya pada 2030.

Komisi Eropa menegaskan bahwa Critical Raw Materials Act bukan instrumen pendanaan. Namun, regulasi tersebut menyediakan sejumlah langkah untuk mendukung pengembangan proyek.

"Critical Raw Materials Act bukanlah instrumen pendanaan; namun, aturan ini mengusulkan sejumlah langkah untuk mendukung pengembangan proyek," kata juru bicara UE.

UE sebelumnya menyatakan proyek strategis akan memperoleh manfaat berupa proses perizinan yang lebih sederhana, dukungan pembiayaan, serta bantuan untuk memasarkan hasil produksinya.

Namun, European Court of Auditors pada Februari 2026 menilai upaya UE untuk mendiversifikasi impor mineral kritis "belum menghasilkan hasil nyata"

Dalam pertemuan pada akhir Agustus dengan Kerstin Jorna, Direktur Jenderal Departemen GROW Komisi Eropa yang membidangi industri, sejumlah kemajuan tercapai dalam meningkatkan komunikasi antara pemerintah dan pengembang proyek.

Namun, seorang direktur proyek yang hadir dalam pertemuan tersebut mengatakan tidak ada solusi pendanaan mendesak yang ditawarkan.

Direktur tersebut, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitivitas masalah, juga mengatakan belum jelas berapa banyak proyek yang menghadapi masalah likuiditas.

"Beberapa proyek telah ditangguhkan, sehingga para promotor memutuskan untuk tidak mendukung seruan aksi tersebut guna menghindari perhatian lebih lanjut," ujarnya.(DH)