Danantara minta ADHI rampingkan bisnis, kontrak baru justru naik 118%

Rabu, 09 September 2026

image

JAKARTA – PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), salah satu emiten BUMN Karya, menegaskan bahwa Perseroan akan berfokus pada bisnis intinya sebagai kontraktor, yaitu konstruksi dan engineering, sesuai arahan Danantara Asset Management dan BP BUMN.

“Sehingga bisnis yang merupakan yang tidak in-line atau tidak sejalan dengan arahan tersebut, seluruhnya akan dilakukan proses untuk percepatan divestasi,” ungkap Rozi Sparta, Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko ADHI, dalam Public Expose Live, Rabu (9/9).

Strategi ini berarti bahwa ADHI akan merampingkan struktur usahanya dengan divestasi beberapa anak usahanya, hingga beberapa entitas SPV (special purpose vehicle) miliknya.

Menurut Rozi, ADHI memiliki beberapa anak usaha yang bergerak di bidang yang tak sesuai dengan kompetensi konstruksi, termasuk bisnis air, energi, jalan tol, hingga hotel yang kini dioperasikan oleh entitas anak.

Selain itu, ADHI memiliki 13 SPV di berbagai portofolio bisnis. Berdasarkan pemaparan manajemen, 11 di antaranya akan menjadi target divestasi bertahap hingga 2027.

“Untuk streamlining ini, kita akan melakukan divestasi yang berjalan secara terukur. Pada 2026 ini, mungkin akan bisa kita divest paling tidak 3 perusahaan … dalam waktu secepatnya, tidak lewat dari tahun 2027,” kata Moeharmein Zein Chaniago, Presiden Direktur ADHI, pada Public Expose Live, Rabu (9/9).

Di sisi lain, manajemen meyakini bahwa arahan para pemegang saham mayoritas tersebut sudah tercermin dalam perolehan kontrak baru ADHI yang melonjak 118,4% secara tahunan menjadi Rp8,3 triliun hingga akhir Juli 2026.

Pasalnya, 92% dari kontrak baru Perseroan tersebut berasal dari sektor construction dan engineering, diikuti sektor property & hospitality 3%, manufaktur 3%, dan investment 2%.

Kemudian, 80% dari kontrak baru tersebut merupakan pekerjaan infrastruktur, sementara 14% adalah pembangunan gedung. Pelanggan kontrak baru ADHI juga didominasi pihak swasta 70%, baru diikuti BUMN 29%.

“Kalau kita lihat portfolio tersebut ada 5 proyek terbesar. Yang pertama adalah proyek tanggap darurat di Sumatera Utara dan Aceh menyumbang lebih kurang Rp 2,7 triliun, kemudian penambahan kontrak di Tambak Udang Waingapu Rp 1,3 triliun, proyek soda ash Pupuk Kaltim Paket C Rp 600 miliar-an, Sekolah Rakyat Tahap ke-3 Papua, dan Bandara Sentani,” jelas Rozi.

Hingga akhir Juni 2026, ADHI mencatat 117 proyek aktif yang berjalan, termasuk Tol Yogya–Bawean dan Solo–Yogya–Kulonprogo, Proyek MRT Jakarta Bundaran HI–Harmoni dan Harmoni–Mangga Besar, hingga Railway Project di Filipina.

ADHI mencetak pendapatan merosot 18,4% menjadi Rp3,11 triliun pada akhir semester I 2026, dengan laba yang justru naik 12,6% menjadi Rp8,49 miliar.

Total asetnya juga ambles 20% menjadi Rp27,53 triliun, terutama disebabkan ekuitas yang anjlok 65,8% menjadi Rp3,31 triliun usai memperhitungkan impairment anak usaha pada 2025 lalu. (ZH)