Apa itu yen carry trade dan mengapa pasar mengkhawatirkannya?

Kamis, 10 September 2026

image

TOKYO — Penguatan yen ke level tertinggi dalam tujuh bulan membuat investor mulai mempertanyakan keberlanjutan yen carry trade yang selama ini menjadi salah satu penopang pasar keuangan global.

Dikutip dari Reuters, strategi tersebut menghadapi tekanan seiring dengan meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan mempercepat kenaikan suku bunga.

Kenaikan suku bunga bahkan diperkirakan dapat dilakukan dalam pertemuan BOJ pekan depan.

Berikut penjelasan mengenai cara kerja yen carry trade dan seberapa besar pengaruhnya terhadap pasar global.

Cara Kerja Yen Carry Trade

Carry trade dilakukan dengan meminjam yen atau mata uang lain yang memiliki suku bunga rendah.

Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi, seperti dolar AS, peso Meksiko, dolar Selandia Baru, dan mata uang negara berkembang lainnya.

Selama bertahun-tahun, yen menjadi salah satu mata uang pilihan untuk pendanaan carry trade.

Investor memanfaatkan dana hasil pinjaman yen untuk membeli obligasi atau instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Pada akhir periode investasi yang biasanya berlangsung singkat, investor menukar kembali hasil investasinya ke yen untuk melunasi pinjaman.

Imbal hasil tahunan dari carry trade dolar-yen saat ini biasanya berada di kisaran 2,5% hingga 3,5%.

Angka tersebut mencerminkan selisih suku bunga AS dan Jepang dan masih bisa bertambah jika yen melemah selama periode tersebut.

Imbal hasil tersebut lebih rendah dibandingkan sekitar 5% hingga 6% yang diperoleh investor dari strategi tersebut pada 2024.

Setelah Tokyo dan Washington melakukan intervensi untuk membeli yen pada akhir Juli, investor carry trade mulai terlihat mengalihkan pendanaan ke franc Swiss.

Carry trade berbasis yen yang berkembang saat ini mulai populer pada 2013 di era Perdana Menteri Shinzo Abe.

Saat itu, Jepang menjalankan kebijakan pelonggaran moneter kuantitatif dan kualitatif ketika suku bunga AS mulai naik dan yen melemah.

Strategi tersebut semakin populer pada 2022 dan 2023 ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga secara agresif untuk menekan inflasi.

Pada saat yang sama, BOJ masih mempertahankan suku bunga jangka pendek di wilayah negatif dan yen terus melemah.

Skala Yen Carry Trade

Tidak ada angka pasti mengenai besarnya yen carry trade.

Nilai keseluruhan transaksi yang didanai dengan yen sulit dihitung secara langsung, sehingga investor menggunakan sejumlah indikator untuk memperkirakan skalanya.

Menurut analisis Jefferies terhadap data Bank for International Settlements, pinjaman yen lintas negara mencapai rekor 360 triliun yen atau sekitar US$2,34 triliun pada Maret.

Angka tersebut menjadi akumulasi carry trade terbesar dalam tiga dekade terakhir.

Indikator lain dapat dilihat dari posisi jual yen.

Data Commodity Futures Trading Commission AS menunjukkan posisi net short yen mencapai 92.227 kontrak pada pekan hingga 1 September.

Angka tersebut meningkat untuk pekan ketiga berturut-turut, tetapi masih jauh di bawah rekor dua tahun sebesar 163.412 kontrak pada pekan hingga 1 Juli.

Posisi carry trade sebenarnya bisa lebih besar karena hedge fund dan dana yang menggunakan sistem komputer kerap memanfaatkan leverage.

Risiko Pembalikan Carry Trade

Berapa pun besar skalanya, pembalikan carry trade secara tiba-tiba dapat berdampak besar terhadap pasar global.

Kondisi tersebut terjadi ketika BOJ secara mengejutkan menaikkan suku bunga pada Juli 2024 ke level tertinggi dalam 15 tahun.

Yen kemudian melonjak dari sekitar 154 per dolar AS menjadi sekitar 141 hanya dalam hitungan hari.

Investor carry trade terpaksa melepas posisinya.

Aksi tersebut memicu aksi jual berantai di pasar saham global, termasuk penurunan 12,4% dalam sehari pada indeks Nikkei Jepang.

Belum ada tanda bahwa kondisi serupa terjadi saat ini.

Pejabat BOJ telah memberi sinyal selama beberapa pekan bahwa kenaikan suku bunga sudah dekat dan kemungkinan masih diperlukan kenaikan berikutnya.

Pasar saham juga mampu menyerap sinyal pengetatan moneter tersebut di tengah penguatan yen.

Analis menilai pergerakan yen masih berlangsung teratur, yang menunjukkan adanya perubahan sikap investor menjelang pertemuan penting BOJ pekan depan. (ARF)