SIDO realisasikan capex Rp24 miliar hingga semester satu 2026

Kamis, 10 September 2026

image

JAKARTA – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) atau Sido Muncul, baru merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp24 miliar hingga semester I-2026 dari anggaran Rp120–150 miliar sepanjang tahun ini.

Director & Corporate Secretary Sido Muncul, Budianto, mengatakan tingkat utilisasi pabrik SIDO saat ini masih berada di kisaran 50%-55%.

Dengan kapasitas yang masih mencukupi untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor, perseroan belum melihat kebutuhan mendesak untuk membangun atau memperluas fasilitas produksi.

“Tingkat utilitas pabrik kami saat ini berada di kisaran 50% hingga 55% dari total kapasitas yang ada. Kebutuhan kapasitas ini masih sangat mencukupi, karena pada 2018 kami telah melakukan penambahan kapasitas besar untuk pabrik Cairan Obat Dalam (COD) kedua di Klepu, Ungaran, Jawa Tengah,” ujar Budianto dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat anggaran capex 2026 lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan pemeliharaan aset produksi serta peremajaan sejumlah peralatan. Belanja modal juga digunakan untuk mendukung efisiensi operasional dan inovasi produk.

Manajemen memperkirakan realisasi capex hingga akhir tahun berpotensi tidak menyerap seluruh anggaran yang telah disiapkan.

Minimnya kebutuhan ekspansi memberikan ruang bagi SIDO untuk mempertahankan arus kas yang kuat. Secara historis, perseroan mampu menghasilkan arus kas dari aktivitas operasi sekitar Rp1,1 triliun per tahun.

Di sisi lain, kebutuhan investasi atau capex SIDO relatif rendah, dengan maksimum sekitar Rp200 miliar per tahun. Dengan struktur tersebut, perseroan berpotensi menghasilkan free cash flow sekitar Rp1 triliun.

Arus kas bebas yang besar menjadi salah satu sumber SIDO dalam memberikan imbal hasil kepada pemegang saham melalui dividen dan program pembelian kembali saham atau buyback.

Sejak melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2013, SIDO mempertahankan dividend payout ratio rata-rata di atas 92% selama 13 tahun berturut-turut.

Untuk tahun buku 2025, total dana yang dikembalikan kepada pemegang saham mencapai sekitar Rp1,41 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari dividen interim Rp660 miliar, dividen final Rp450 miliar, dan buyback saham senilai Rp300 miliar.

Selain ditopang arus kas operasional yang kuat, posisi keuangan SIDO juga didukung oleh neraca tanpa pinjaman bank maupun obligasi.

Per semester I-2026, perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp476 miliar. Kondisi tersebut memberikan fleksibilitas bagi SIDO untuk membiayai kebutuhan operasional, mempertahankan investasi, sekaligus memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.

“Seluruh operasional dan imbal hasil investor ini kami jalankan tanpa memiliki pinjaman bank satu rupiah pun maupun obligasi. Dengan neraca yang bersih dari utang serta posisi kas dan setara kas sebesar Rp476 miliar per semester I-2026, tingkat likuiditas kami sangat solid untuk menjaga fleksibilitas pertumbuhan bisnis sekaligus memberikan imbal hasil yang menarik bagi pemegang saham,” pungkas Budianto.

Pada perdagangan hari ini, Rabu (9/9), hingga pukul 15.45 WIB, harga saham SIDO turun 1,12% ke level Rp354 per lembar.

Dalam lima hari terakhir saja, saham SIDO turun tipis 0,56% dan merosot hingga 34,44% sejak awal 2026. (DK)