Perusahaan AS di China makin optimis, laba dan investasi mulai pulih
Kamis, 10 September 2026
SHANGHAI - Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) di China semakin optimistis terhadap prospek bisnis mereka setelah tingkat kepercayaan mencapai titik terendah dalam sejarah tahun lalu akibat ketegangan politik, persaingan domestik yang semakin ketat, dan perlambatan ekonomi.
Survei tahunan American Chamber of Commerce in Shanghai (AmCham Shanghai) yang dirilis Kamis menunjukkan 58% responden optimistis terhadap prospek bisnis mereka dalam lima tahun ke depan.
Seperti dikutip Reuters, angka tersebut meningkat 17 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus mengakhiri periode empat tahun dengan tingkat kepercayaan yang secara historis rendah.
Hasil survei menunjukkan dunia usaha AS mulai kembali percaya diri seiring upaya Washington dan Beijing menstabilkan hubungan setelah tercapainya gencatan perdagangan pada akhir tahun lalu.
Kesepakatan tersebut menghentikan sementara eskalasi tarif dan pembatasan perdagangan baru.
Perusahaan AS juga menantikan tanda-tanda perbaikan hubungan lebih lanjut menjelang kemungkinan kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington pada akhir bulan ini.
“Telah terjadi perubahan suasana di antara para anggota kami,” kata Jeffrey Lehman, chairman AmCham Shanghai.
Menurutnya, survei tahun lalu dilakukan ketika perang dagang kembali memanas, sementara survei terbaru berlangsung setelah pertemuan antara Xi dan Presiden AS Donald Trump di Beijing pada Mei lalu.
Lehman mengatakan kesepakatan kedua pemimpin untuk membangun hubungan yang konstruktif dan stabil secara strategis dengan berlandaskan prinsip keadilan serta timbal balik memberikan keyakinan lebih besar kepada perusahaan-perusahaan AS.
Profitabilitas Mendorong Kepercayaan
Meningkatnya optimisme juga didukung oleh kinerja keuangan yang lebih baik.
Dari 262 perusahaan yang berpartisipasi dalam survei China Business Report AmCham Shanghai, sebanyak 78% mengatakan operasi mereka di China mencatat keuntungan tahun lalu. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2019.
Namun, persaingan domestik kini menjadi kekhawatiran terbesar bagi perusahaan AS di China, menggantikan ketegangan hubungan AS-China.
Sebanyak 68% responden menyebut persaingan dengan perusahaan lokal China sebagai tantangan utama bagi bisnis mereka.
Kondisi tersebut mencerminkan semakin ketatnya persaingan di pasar China, terutama ketika perusahaan domestik meningkatkan kemampuan teknologi, efisiensi produksi, dan daya saing harga.
Pandangan terhadap Regulasi Mulai Membaik
Survei juga menunjukkan adanya perbaikan dalam persepsi perusahaan terhadap lingkungan regulasi China.
Proporsi perusahaan yang menilai lingkungan regulasi China transparan meningkat 7 poin persentase menjadi 55%.
Namun, optimisme terhadap keterbukaan regulasi ke depan justru sedikit menurun.
Hanya 39% responden yang memperkirakan lingkungan regulasi China akan menjadi lebih terbuka, turun 2 poin persentase dari tahun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perusahaan melihat adanya perbaikan dalam transparansi, masih terdapat keraguan mengenai seberapa jauh reformasi regulasi akan berlangsung.
Investasi di China Berpotensi Meningkat
Minat investasi perusahaan AS di China juga mulai menunjukkan pemulihan.
Pada 2025, sebanyak 28% responden meningkatkan investasi mereka di China, menjadi proporsi tertinggi dalam empat tahun.
Untuk 2026, sekitar 31% perusahaan mengatakan berencana meningkatkan investasi di China. Sebaliknya, hanya 14% yang memperkirakan akan mengurangi investasi.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa membaiknya hubungan AS-China, ditambah pemulihan profitabilitas, mulai mendorong perusahaan Amerika untuk kembali melihat China sebagai pasar penting dalam strategi bisnis jangka panjang mereka.
Meski demikian, tingginya persaingan domestik dan ketidakpastian regulasi tetap menjadi tantangan yang dapat memengaruhi keputusan investasi perusahaan dalam beberapa tahun mendatang. (DK)