Dividen jumbo Samsung dan SK Hynix uji reformasi pasar Korea Selatan
Kamis, 10 September 2026
SEOUL - Rencana pembagian keuntungan dalam jumlah besar dari Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi ujian awal bagi program reformasi korporasi Korea Selatan.
Seperti dikutip Reuters, investor menyambut baik peningkatan imbal hasil bagi pemegang saham, tetapi menilai langkah tersebut masih belum cukup untuk mengurangi kesenjangan valuasi saham Korea dibandingkan pasar global.
Ledakan permintaan chip yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat dua perusahaan teknologi terbesar Korea Selatan memiliki cadangan kas yang besar.
Kondisi tersebut meningkatkan tekanan dari investor agar perusahaan mengembalikan lebih banyak dana kepada pemegang saham.
Kedua perusahaan berencana mengembalikan dana lebih dari 130 triliun won atau sekitar US$97 miliar sepanjang tahun ini.
Namun, besarnya pembagian tersebut belum sepenuhnya memuaskan investor.
Indeks acuan KOSPI, yang hampir separuh bobotnya berasal dari Samsung Electronics dan SK Hynix, masih berada sekitar 26% di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada Juni.
Respons pasar yang relatif terbatas menunjukkan besarnya tantangan bagi program “Value-Up” Korea Selatan.
Program yang diluncurkan pada 2024 tersebut bertujuan mengatasi apa yang disebut “Korea discount”, yakni kondisi ketika saham Korea diperdagangkan pada valuasi lebih rendah dibandingkan perusahaan sejenis di pasar global.
Diskon tersebut selama ini dikaitkan dengan kekhawatiran mengenai tata kelola perusahaan, alokasi modal, serta perlindungan hak pemegang saham.
“Korea discount kemungkinan tidak akan hilang dalam waktu dekat hanya karena Samsung dan Hynix mengembalikan lebih banyak kas,” kata Clarence Li, lead portfolio analyst di T. Rowe Price.
Menurutnya, masalah tersebut sebagian bersifat struktural dan membutuhkan bukti berkelanjutan dari lebih banyak perusahaan agar program reformasi benar-benar memberikan dampak.
Saham Korea Naik, tetapi Valuasi Tetap Rendah
Saham Korea Selatan menjadi salah satu pasar dengan kinerja terbaik di dunia tahun ini.
KOSPI telah naik sekitar 67%, didorong oleh ledakan AI dan meningkatnya ekspektasi terhadap laba perusahaan.
Namun, Goldman Sachs mencatat KOSPI hanya diperdagangkan sekitar 4,3 kali estimasi laba 2027.
Angka tersebut menjadi yang terendah di kawasan dan jauh di bawah indeks Asia-Pasifik yang berada di sekitar 11 kali.
Kesenjangan tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah untuk meningkatkan valuasi perusahaan Korea Selatan.
Investor juga belum yakin perusahaan lain akan mengikuti langkah Samsung dan SK Hynix.
“Sebagian besar besarnya pembagian dana tersebut mencerminkan siklus memori yang luar biasa dan kemampuan menghasilkan kas, bukan perubahan mendasar dalam filosofi pengembalian modal,” kata Sammy Suzuki, head of emerging markets equities di AllianceBernstein.
Kebijakan Samsung Dinilai Belum Cukup
Rencana pembagian dana Samsung yang mencapai rekor memang dipandang sebagai tonggak penting.
Namun, sejumlah investor dan analis menilai kebijakan tersebut masih kurang terperinci dan berpotensi terlalu bergantung pada dividen khusus.
Samsung diperkirakan membagikan sekitar 30 triliun won dalam bentuk dividen tunai pada kuartal ini, sebagai bagian dari program pengembalian modal yang diperkirakan mencapai 90 triliun hingga 110 triliun won pada 2026.
Rincian pengembalian modal yang tersisa akan ditetapkan pada Januari.
Kim Kyu-shik, portfolio manager di Vista Global Asset Management, menyebut pengumuman Samsung mengecewakan karena tidak memberikan komitmen khusus terhadap program pembelian kembali saham (share buyback).
Menurut Kim, absennya komitmen tersebut menjadi sinyal negatif karena dapat menunjukkan Samsung tidak menganggap harga sahamnya sedang undervalued.
Struktur kepemilikan konglomerasi tersebut juga dinilai menjadi salah satu hambatan utama dalam pelaksanaan buyback.
Program pembelian kembali dan pembatalan saham dalam skala besar berpotensi meningkatkan kepemilikan Samsung Life dan Samsung Fire di atas batas kepemilikan yang diatur regulator.
Kondisi tersebut dapat memaksa kedua perusahaan menjual sebagian sahamnya hingga kepemilikan turun di bawah 10%.
Langkah tersebut berpotensi memicu pengawasan regulator yang lebih ketat terhadap struktur kepemilikan Samsung Electronics dan bahkan memengaruhi kendali keluarga pendiri atas perusahaan tersebut.
Samsung membantah bahwa struktur kepemilikan menjadi faktor dalam menentukan kebijakan pengembalian modal.
“Pengembalian kepada pemegang saham Samsung Electronics ditentukan dengan menempatkan pemegang saham sebagai pusat pertimbangan,” kata Samsung dalam pernyataan kepada Reuters.
Samsung menambahkan bahwa buyback merupakan salah satu alat yang tersedia, bukan satu-satunya pilihan.
Rencana 2026 sudah mencakup dividen tunai dalam jumlah besar serta komitmen terhadap kebijakan yang menggabungkan dividen dan pembelian kembali atau pembatalan saham.
Keberhasilan Value-Up Bergantung pada Perusahaan Lain
Investor menilai keberhasilan jangka panjang program Value-Up akan bergantung pada apakah perusahaan-perusahaan lain ikut memperbaiki tata kelola dan alokasi modal.
Salah satu tantangannya adalah program tersebut masih bersifat sukarela.
Aadil Ebrahim, group head of equities di Klay Group, mengatakan Samsung seharusnya lebih agresif dalam melakukan buyback dibandingkan sekadar meningkatkan dividen.
Menurutnya, langkah Samsung dan SK Hynix akan menjadi tolok ukur bagi perusahaan lain.
Jika kedua perusahaan terbesar tersebut tidak mengambil langkah yang lebih agresif, perusahaan lain dapat mempertanyakan alasan mereka harus melakukan hal serupa.
Meski demikian, sejumlah tanda perubahan mulai terlihat.
Data Korea Exchange menunjukkan perusahaan-perusahaan Korea Selatan telah mengumumkan buyback saham senilai 39 triliun won atau sekitar US$29,1 miliar sepanjang tahun ini.
Nilai tersebut telah melampaui total buyback gabungan pada 2024 dan 2025.
Yi Ping Liao, portfolio manager di Templeton Global Investments, mengatakan praktik alokasi modal yang buruk juga semakin sulit dilakukan tanpa mendapat tekanan dari investor.
Perusahaan yang mengusulkan pemisahan bisnis, akuisisi, atau penerbitan saham baru yang dianggap merugikan pemegang saham minoritas kini menghadapi penolakan yang lebih kuat.
Namun, investor mengingatkan bahwa sejumlah persoalan struktural masih belum terselesaikan, termasuk pengawasan dewan direksi, kepemilikan yang terkonsentrasi, struktur konglomerasi chaebol, serta perlindungan pemegang saham minoritas.
“Beban sekarang berada pada perusahaan untuk menyusun dan menjalankan rencana Value-Up mereka sendiri,” kata Liao.
Menurutnya, fokus reformasi Korea Selatan kini telah bergeser dari sekadar perubahan kebijakan menuju pembuktian melalui pelaksanaan nyata. (DK)