Bank Jago catat laba bersih Rp189 miliar, nasabah tembus 20 juta

Kamis, 10 September 2026

image

JAKARTA - PT Bank Jago Tbk (ARTO), atau biasa disebut Bank Jago, mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I 2026.

Bank berbasis teknologi tersebut membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp189 miliar, atau tumbuh 49% secara tahunan.

Pertumbuhan laba ditopang oleh peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan syariah yang mencapai Rp26,6 triliun, tumbuh 24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut juga dibarengi dengan kualitas aset yang tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross Bank Jago berada di level 0,8%, jauh di bawah rata-rata industri perbankan nasional.

Direktur Bank Jago Supranoto Prayogo mengatakan, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis perusahaan tetap berjalan secara sehat.

“Keberhasilan menjaga pertumbuhan sehat tercermin dari kinerja keuangan Bank Jago per semester I-2026. Pencapaian positif ini menjadi bukti bahwa model bisnis bank berbasis teknologi dan kolaborasi dengan mitra ekosistem strategis memiliki kekuatan serta ruang pertumbuhan yang besar,” ujar Supranoto dalam Public Expose, Kamis (10/9).

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat 23% menjadi Rp27,6 triliun pada semester I 2026.

Komposisi dana murah atau current account savings account (CASA) mendominasi struktur DPK Bank Jago dengan porsi mencapai 53%. Kondisi tersebut didorong oleh perluasan basis nasabah ritel pengguna Aplikasi Jago.

Hingga akhir Juni 2026, total nasabah digital dan kredit Bank Jago telah melampaui 20,1 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 14,7 juta merupakan pengguna aktif Aplikasi Jago.

Pertumbuhan jumlah nasabah tersebut turut mendorong peningkatan total aset perseroan menjadi Rp41,4 triliun.

Dari sisi permodalan, Bank Jago juga mempertahankan posisi yang kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 28,4%.

Selain mencatat pertumbuhan kinerja keuangan, Bank Jago terus memperkuat strategi bisnis berbasis teknologi melalui kolaborasi dengan berbagai mitra dalam ekosistem digital, di antaranya GoTo, Bibit, Stockbit, dan BFI Finance.

Supranoto mengatakan, perusahaan terus berupaya menghadirkan solusi keuangan digital yang relevan bagi masyarakat Indonesia dengan tetap menjaga kesehatan fundamental bisnis.

“Selama lebih dari lima tahun beroperasi dan bertumbuh, Bank Jago sebagai bank berbasis teknologi telah menghadirkan solusi keuangan digital yang fokus dan relevan bagi masyarakat Indonesia. Kami melakukannya dengan tetap menjaga fundamental dan pertumbuhan bisnis perusahaan dengan sehat,” ujar Supranoto.

Dari sisi inovasi produk, Bank Jago juga mengembangkan sejumlah fitur pada Aplikasi Jago, termasuk Rapor Kredit dan FX Pockets.

Pengembangan tersebut ditujukan untuk memperluas fungsi aplikasi, dari sekadar sarana menabung dan bertransaksi menjadi platform untuk membantu nasabah mengelola keuangan dan investasi secara lebih mudah dan terintegrasi.

“Melalui fitur-fitur ini, kami ingin mengajak nasabah dari sekadar menabung dan bertransaksi menjadi mengelola keuangan dan investasi secara mudah dan terintegrasi. Melalui komitmen inovasi dan kolaborasi yang berdampak positif, kami ingin menjadi institusi yang tidak hanya membantu nasabah, mitra ekosistem, dan pemangku kepentingan, tetapi juga meningkatkan kesempatan tumbuh mereka secara bersama-sama,” pungkas Supranoto.

Dari sisi kinerja saham, sejak awal 2026 saham ARTO anjlok hingga 48,48% ke level Rp1.015 per lembar.

Dalam sebulan terakhir saja, saham ARTO merosot hingga 21,32% namun pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9), hingga pukul 14.19 WIB naik tipis 1%. (DK)