Pound sterling menguat di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga BoE
Kamis, 10 September 2026
LONDON — Pound sterling mendekati level tertinggi dalam dua pekan terhadap dolar AS pada Rabu (9/9).
Penguatan mata uang Inggris tersebut terjadi meski harga minyak mentah kembali menembus US$100 per barel setelah konflik di Timur Tengah meluas.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah kini sekitar 40% lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum perang yang dimulai pada akhir Februari.
Harga gas alam Eropa juga telah naik sekitar tiga kali lipat. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan tekanan terhadap bank sentral untuk menaikkan suku bunga.
Inggris menjadi salah satu negara yang paling bergantung pada impor energi. Tekanan terhadap inflasi pun mulai meningkat.
Inflasi konsumen Inggris naik menjadi 2,9% pada Juli dari 2,6% pada Juni, yang merupakan level terendah dalam 15 bulan.
Pasar uang saat ini belum memperkirakan bahwa Bank of England (BoE) akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan pekan depan.
Namun, pasar sudah memperhitungkan setidaknya dua kali kenaikan hingga Maret tahun depan. Peluang kenaikan ketiga diperkirakan mencapai 40%.
Sebagai pembanding, pasar memperkirakan Federal Reserve hanya akan menaikkan suku bunga dua kali pada periode yang sama.
Pound terakhir diperdagangkan naik tipis menjadi US$1,3545. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 28 Agustus.
Sepanjang tahun ini, pound menjadi salah satu mata uang utama dengan kinerja terbaik terhadap dolar AS. Pound telah menguat 0,5%, sementara euro melemah 1% dan yen turun 2%.
Ekspektasi Suku Bunga
Salah satu pendorong utama penguatan pound adalah ekspektasi bahwa BoE perlu menaikkan suku bunga.
Pertumbuhan ekonomi Inggris yang masih bertahan turut memperkuat pandangan tersebut.
Namun, ekonom dan analis memiliki pandangan yang berbeda dengan pasar.
Gubernur BoE, Andrew Bailey, juga membantah anggapan bahwa kenaikan suku bunga sudah pasti terjadi.
“Saya ingin menghilangkan anggapan bahwa kami sebenarnya memiliki rencana rahasia, sudah tahu ke mana arah kebijakan kami dan keputusan itu bersifat tanpa syarat,” kata Bailey dalam sidang bersama anggota parlemen pada Selasa (8/9).
Kenaikan harga energi tetap berpotensi memengaruhi prospek suku bunga Inggris.
Ahli strategi ING mengatakan setiap kenaikan harga Brent sebesar US$10 sejak perang Iran dimulai telah mendorong suku bunga tenor dua tahun sekitar 15 basis poin.
Kenaikan tersebut lebih besar dibandingkan dampaknya terhadap suku bunga zona euro sebesar 11 basis poin dan Amerika Serikat sebesar 8 basis poin.
Ahli strategi ING, Michiel Tukker, menilai ekspektasi kenaikan suku bunga Inggris yang tercermin di pasar sudah terlalu tinggi.
Namun, ketidakpastian harga minyak dan risiko fiskal yang akan muncul, termasuk dari Anggaran Musim Gugur bulan depan, membuat prospek pound tetap sulit dipastikan.
“Baru setelah pergerakan harga minyak dapat lebih mudah diprediksi. Kami melihat peluang untuk mengambil posisi secara taktis. Namun, dengan harga minyak yang berpotensi kembali menguji US$100, kami memilih untuk tetap menunggu,” kata Tukker. (ARF)