Yield Treasury 10 tahun dekati 5%, saham Asia kembali tertekan

Jumat, 11 September 2026

image

JAKARTA - Saham Asia tertekan pada perdagangan Jumat (11/9), seiring lonjakan yield obligasi global dan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi. Investor mulai memperhitungkan peluang bank sentral kembali menaikkan suku bunga.

Seperti dikutip Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,8%. Nikkei Jepang menjadi salah satu indeks dengan penurunan terdalam, anjlok 2,8%.

Tekanan juga terjadi di China dan Hong Kong. Indeks CSI300 turun 1,2%, sementara Hang Seng melemah 1,5%.

Kontrak berjangka Nasdaq turun 0,2%, sedangkan kontrak berjangka S&P 500 relatif stabil.

Kenaikan yield obligasi menjadi salah satu pemicu utama aksi jual saham. Yield yang lebih tinggi meningkatkan tingkat diskonto dalam valuasi saham sehingga menekan harga aset berisiko.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,9708%, level tertinggi dalam tiga tahun dan mendekati ambang 5%.

Sementara itu, yield Treasury 30 tahun mencapai 5,3803%, level tertinggi dalam 19 tahun. Yield tenor dua tahun juga naik 2 basis poin menjadi 4,5835%, setelah melonjak 12 basis poin pada sesi sebelumnya.

Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) perlu mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneter untuk meredam inflasi.

Pasar kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada bulan ini mencapai sekitar 70%.

Harga Minyak Jadi Beban Baru

Tekanan terhadap saham semakin kuat setelah harga minyak Brent melonjak ke US$109,97 per barel, level tertinggi dalam empat bulan.

Brent naik 6% dalam sehari dan telah menguat hampir 13% sepanjang pekan.

Kenaikan harga minyak memperbesar risiko inflasi karena meningkatkan biaya energi, transportasi, dan produksi. Kondisi ini dapat membatasi ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga dan meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham.

Arus minyak masih terganggu akibat pembatasan pelayaran melalui Selat Hormuz di tengah konflik AS dan Iran. Situasi semakin kompleks setelah kelompok Houthi mengambil alih kendali Pelabuhan Mocha di Yaman dan meningkatkan risiko terhadap jalur ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah.

"Lalu lintas maritim yang melintasi Bab el-Mandeb sangat terancam oleh pergerakan maju kelompok Houthi," kata Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets.

Croft memperkirakan harga Brent dapat mencapai US$121,99 per barel pada akhir tahun apabila konflik Saudi-Houthi kembali berkembang menjadi perang terbuka.

Kekhawatiran terhadap perang berkepanjangan membuat investor semakin defensif. Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa konflik dapat berlangsung hingga melewati pemilu paruh waktu November turut memperburuk sentimen pasar.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Meningkat

Tekanan terhadap pasar saham tidak hanya berasal dari AS. Yield obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak 18 basis poin menjadi 5,047%, level tertinggi dalam 15 tahun.

Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 6 basis poin menjadi 2,97%. Inflasi grosir yang masih tinggi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ).

Analis JPMorgan memperkirakan delapan dari sembilan bank sentral negara maju akan menaikkan suku bunga hingga akhir tahun. Proyeksi tersebut mencakup The Fed, BOJ, empat bank sentral Eropa, Australia, dan Selandia Baru.

"Pengetatan saat ini diperkirakan akan tetap terbatas, namun risiko terhadap prakiraan kami cenderung mengarah pada langkah lebih lanjut, mengingat pertumbuhan yang tangguh, inflasi inti yang sulit turun, serta tekanan harga komoditas," ujar analis JPMorgan dalam catatan riset mereka.

Bank Sentral Eropa (ECB) telah menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini. Sejumlah pejabat ECB juga membuka peluang pengetatan lebih lanjut pada Oktober.

Investor selanjutnya menunggu data inflasi konsumen AS untuk Agustus yang menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan The Fed pekan depan.

Inflasi inti diperkirakan naik 0,2% secara bulanan. Namun, risiko kenaikan lebih tinggi meningkat setelah data harga produsen (PPI) AS menunjukkan tekanan harga masih bertahan.

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat seiring kenaikan yield Treasury. Dolar berada di level 99,04 pada Jumat setelah menguat 0,4% terhadap mata uang utama pada sesi sebelumnya.

Harga emas naik 0,3% menjadi US$4.328 per ons setelah anjlok hampir 2% pada sesi sebelumnya.(DH)