Usai serangan AS ke Venezuela, Dow Jones ke level tertinggi,

Selasa, 06 Januari 2026

image

JAKARTA - Pasar saham Amerika Serikat ditutup menguat pada Senin, dipimpin oleh lonjakan indeks Dow Jones Industrial Average yang mencetak rekor tertinggi baru.

Penguatan pasar terjadi seiring respons investor terhadap operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang memicu reli saham sektor energi dan pertahanan.

Dikutip sharecast.com, Dow Jones naik 1,2% dan ditutup di level 48.977,18, setelah sempat menembus angka 49.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Capaian ini melampaui rekor penutupan sebelumnya yang tercatat pada 24 Desember. Indeks S&P 500 turut menguat 0,6%, sementara Nasdaq naik 0,7%.

Perhatian pasar tertuju pada perkembangan geopolitik di kawasan Amerika setelah serangan AS ke Venezuela pada akhir pekan, yang diikuti dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Presiden Donald Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat kini mengendalikan negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia tersebut.

Meski ketegangan geopolitik meningkat, sentimen pasar tetap positif. Kathleen Brooks, research director di XTB, mengatakan, “Risiko kembali meningkat untuk hari perdagangan kedua tahun ini.”

Menurutnya, penguatan pasar menunjukkan bahwa pelaku pasar belum menjadikan krisis Venezuela sebagai faktor penghambat reli saham.

Namun, Brooks menegaskan bahwa peristiwa tersebut tetap menjadi perhatian investor. “Secara keseluruhan, sentimen risiko kuat dan peristiwa di Venezuela tidak membebani momentum positif. Namun, ini tidak berarti bahwa peristiwa terkini di Venezuela telah diabaikan oleh para pedagang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian global berpotensi menopang kinerja saham pertahanan dan mendorong permintaan aset lindung nilai.

Harga komoditas energi ikut bergerak naik. Minyak mentah Brent dan WTI masing-masing ditutup menguat 1,7% ke level US$61,76 dan US$58,32 per barel. Analis TD Securities menilai dampak gangguan pasokan dari Venezuela relatif terbatas. “Gangguan arus pasokan dari Venezuela seharusnya hanya berdampak moderat pada harga minyak dan tidak memberikan kontribusi besar pada pergerakan aset aman di pasar global,” tulis mereka.

Di pasar logam mulia, emas melonjak 2,8% dan perak naik tajam 8,0% seiring meningkatnya permintaan aset aman. Harga tembaga juga mencetak rekor baru setelah naik 4% ke atas US$13.000 per ton.

Saham sektor energi menjadi penopang utama indeks. Chevron melonjak 5% di tengah spekulasi bahwa perubahan politik di Venezuela akan membuka peluang baru bagi industri energi, mengingat perusahaan tersebut masih menjadi satu-satunya produsen minyak besar asal AS yang beroperasi di negara itu.

Saham perusahaan penyulingan dan jasa ladang minyak seperti Valero, Phillips 66, SLB, dan Halliburton juga mencatatkan kenaikan tajam.

Sektor pertahanan turut menguat seiring meningkatnya tensi geopolitik global. Saham Lockheed Martin, General Dynamics, dan Northrop Grumman membukukan kenaikan, mengikuti tren positif saham pertahanan di Eropa.

Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan tekanan pada sektor manufaktur. Indeks PMI manufaktur AS versi ISM turun ke level 47,9 pada Desember, terendah dalam 10 bulan dan menjadi penurunan bulanan ketiga berturut-turut, sekaligus berada di bawah ekspektasi pasar.(DH)