Diesel AS melonjak 24,1%, inflasi produsen naik 5,4% tahunan
Jumat, 11 September 2026
JAKARTA - Inflasi di tingkat produsen Amerika Serikat (AS) meningkat pada Agustus 2026, didorong lonjakan harga energi, tiket pesawat, dan layanan rumah sakit. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan depan.
Seperti dikutip Reuters, berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (10/9), Producer Price Index (PPI) untuk permintaan akhir naik 0,4% secara bulanan pada Agustus, setelah meningkat 0,1% pada Juli.
Secara tahunan, PPI naik 5,4% pada Agustus, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 4,8% pada Juli. Kenaikan bulanan tersebut sesuai dengan ekspektasi ekonom.
Lonjakan harga energi menjadi salah satu pendorong utama. Harga energi meningkat 4,2% pada Agustus setelah turun selama dua bulan berturut-turut. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kembali memanasnya konflik antara AS dan Iran yang mendorong harga minyak.
Harga diesel melonjak 24,1% pada Agustus dan menyumbang lebih dari sepertiga kenaikan biaya barang produsen. Secara keseluruhan, harga barang di tingkat produsen meningkat 1,1%.
Harga bensin dan bahan bakar pesawat juga meningkat pada periode tersebut.
“Harga solar berada pada rekor tertinggi. Harga bensin naik bulan lalu, begitu pula harga bahan bakar jet.”
Kenaikan harga juga terjadi pada sektor jasa. Biaya jasa meningkat 0,1% setelah naik 0,2% pada Juli.
Biaya transportasi barang melalui jalur darat naik 2%, sedangkan tarif penerbangan melonjak 4,2% setelah turun 3,1% pada Juli.
Harga layanan rumah sakit rawat jalan naik 0,4%, sementara layanan rawat inap meningkat 0,5%.
Sejumlah komponen dalam PPI tersebut turut digunakan dalam perhitungan Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam mencapai target inflasi 2%.
Berdasarkan data PPI, ekonom memperkirakan inflasi inti PCE dapat meningkat sekitar 0,3% pada Agustus, dibandingkan kenaikan 0,2% pada Juli.
Pasar juga meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada rapat 15-16 September 2026 menjadi sekitar 70%, dari 62% sebelum laporan PPI dirilis, berdasarkan CME FedWatch.
Suku bunga acuan The Fed saat ini berada pada kisaran 3,50%-3,75%.
"Laporan ini mengindikasikan adanya kenaikan biaya yang akan terjadi dan akan memperkuat argumen anggota Komite yang menginginkan kenaikan suku bunga saat ini," ujar Carl Weinberg, kepala ekonom di High Frequency Economics.
Ekonom lain menilai tekanan terhadap The Fed untuk memperketat kebijakan moneter semakin besar, terutama setelah European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga pada Kamis.
Namun, sebagian ekonom masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada rapat September. Mereka menilai perubahan metodologi perhitungan PCE yang mulai berlaku pada data Agustus berpotensi menurunkan pembacaan inflasi sebelumnya.
Michael Gapen, chief economist Morgan Stanley, mengatakan proyeksi saat ini masih mendukung keputusan The Fed untuk menahan suku bunga pada September.
"Kami menilai data PCE saat ini sejalan dengan sikap The Fed untuk mempertahankan kebijakan pada pertemuan bulan September. Kendati demikian, laporan CPI besok dapat mengubah estimasi PCE kami secara signifikan," ujar Michael Gapen, kepala ekonom di Morgan Stanley.
Data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Agustus yang dirilis Jumat (11/9/2026) akan menjadi indikator penting berikutnya bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed.(DH)