ANTM guyur Rp6 triliun ke emas dan EV battery, kebut proyek hilirisasi
Jumat, 11 September 2026
JAKARTA – PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), emiten tambang emas dan mineral di bawah naungan MIND ID, menyiapkan anggaran belanja modal (capex) Rp6 triliun untuk tahun 2026.
“Untuk tahun 2026, kebutuhan kapeks kami sekitar 6 triliun, dengan porsi cukup besar terkait rantai EV battery dan juga gold – dua kontributor utama dari pertumbuhan laba kami,” ujar Arini Kasmira, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTM.
Manajemen mengungkapkan bahwa terdapat lima proyek hilirisasi yang tengah berlangsung, baik di lini bisnis emas, nikel, maupun bauksit, bersama dengan mitra-mitra strategis Perseroan.
Namun, menurut Arini, realisasi setiap investasi di proyek pengembangan akan dilakukan secara bertahap, untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan.
Proyek hilirisasi emasDalam gelaran Public Expose Live 2026, ANTM melaporkan bahwa proyek hilirisasi emas di Gresik memasuki tahap pre-konstruksi dan ditargetkan beroperasi komersial pada 2028.
Pembangunan fasilitas manufaktur logam mulia tersebut merupakan proyek strategis ANTM dengan total investasi hingga US$70 juta atau Rp1,1 triliun.
Fasilitas ini dirancang dengan kapasitas produksi 30 ton atau target hasil produksi 5 juta keping emas batang atau koin per tahun dengan kadar 99,99%.
“Pengembangan ini akan memperkuat posisi logam mulia Antam yang saat ini memiliki pangsa pasar sekitar 60%,” jelas Wisnu Danandi Haryanto, Corporate Secretary ANTM, dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9).
Fasilitas ini diproyeksi dapat memperkuat kapasitas produksi untuk menangkap permintaan tinggi dari pasar domestik.
Hingga akhir Juni 2026, ANTM mencatat total penjualan emas hingga 18,1 ton dengan rata-rata harga penjualan di level US$5.002 per troi ons – menghasilkan Rp50,1 triliun pendapatan atau setara dengan 80% dari total pendapatan Perseroan per semester I 2026.
Di sisi lain, pada periode yang sama, volume produksi emas ANTM dari tambang utamanya di Pongkor sebenarnya hanya mencapai 430 kilogram.
Antam diketahui telah membeli bijih emas dari beberapa tambang emas di dalam negeri, termasuk Grup Merdeka, melalui Tambang Pani PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan Tambang Bukit Tujuh milik PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Tiga proyek hilirisasi nikelSebagai emiten tambang mineral, ANTM juga menyiapkan sederet proyek hilirisasi nikel dan bauksit bersama dengan mitra-mitra strategisnya.
Dua di antaranya adalah Proyek RKEF untuk pengolahan nikel saprolit serta fasilitas HPAL untuk mengolah nikel limonit yang dikembangkan dengan konsorsium CBL (CATL Brunp, Lygend) di Buli, Halmahera Timur.
Proyek RKEF ANTM – dengan porsi kepemilikan 40% – ditargetkan memiliki 8 line dengan kapasitas 88 ribu ton MPI per tahun. Mencatat nilai investasi hingga US$1,4 miliar proyek ini mulai dikembangkan pada periode 2025–2027.
“Saat ini proyek berada dalam tahap pra-EPC dan prapembiayaan dengan fokus dan kesiapan teknis serta struktur pendanaan yang kuat sebelum memasuki konstruksi penuh,” jelas Wisnu lebih lanjut.
Untuk mendukung kebutuhan bahan baku ekosistem baterai EV, ANTM menyiapkan proyek HPAL berkapasitas 55-60 ribu MHP per tahun, dengan total investasi US$1,9 miliar.
Saat ini, proyek tersebut tengah memasuki tahap Final Investment Decision (FID), dan diproyeksikan akan dikembangkan hingga tahun 2028 mendatang.
Proyek berbasis nikel yang juga sedang dikembangkan oleh Antam di Halmahera Timur adalah proyek hilirisasi anak usaha ANTM, PT Nusa Karya Arindo (NKA), bersama mitra strategis konsorsium Zhejiang Huayu Cobalt.
“Saat ini proyek masih berada dalam tahap studi kelayakan. Antam bersama mitra tengah mengevaluasi aspek teknis kebutuhan investasi dan keekonomian proyek sebagai dasar untuk menentukan tahap pengembangan selanjutnya,” imbuh Wisnu.
Sebagai catatan, hingga akhir Juni 2026, ANTM memiliki portofolio tambang nikel di 8 titik berbeda yang terkonsentrasi di Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara.
Proyek hilirisasi bauksitSelain emas dan nikel, ANTM juga memiliki portofolio bauksit melalui Tambang Bauksit Tayan di Kalimantan Barat.
Perseroan kini telah memiliki Smelter Grade Alumina (SGA) Refinery di Mempawah, bersama dengan PT INALUM, yang beroperasi komersial sejak Februari 2026. Dengan nilai investasi US$900 juta, fasilitas ini memiliki kapasitas 1 juta ton per tahun.
Namun, pengembangan fasilitas SGAR Mempawah tahap dua kini tengah berlangsung dan berada dalam tahap studi kelayakan. (ZH)