Tekan impor LPG, Indonesia kaji pemanfaatan CNG
Jumat, 11 September 2026
JAKARTA - Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) dan Danantara Indonesia mendorong PT Pertamina (Persero) memperkuat pasokan gas domestik untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor, terutama liquefied petroleum gas (LPG).
Dorongan tersebut disampaikan dalam pertemuan di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9). Dalam pertemuan tersebut, Pertamina memaparkan strategi memperluas pemanfaatan gas dalam negeri melalui liquefied natural gas (LNG), jaringan gas (jargas), dan compressed natural gas (CNG).
Kebutuhan LPG nasional saat ini masih jauh melampaui produksi dalam negeri. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat konsumsi LPG mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sedangkan produksi domestik hanya sekitar 1,6 juta-1,7 juta ton.
Dengan demikian, sebagian besar kebutuhan LPG nasional masih harus dipenuhi melalui impor.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah mengkaji pemanfaatan CNG sebagai salah satu alternatif pengganti LPG. Langkah ini diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik sekaligus menekan kebutuhan LPG impor.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan kombinasi jargas dan CNG dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor.
“Kombinasi jargas dan CNG dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor,” ujar Dony seperti dikutip dari akun Instagram BUMN Indonesia.
Dari sisi pasokan, produksi gas bumi nasional masih cukup besar. Data Kementerian ESDM per 3 September 2026 menunjukkan produksi gas mencapai 6.779 million standard cubic feet per day (MMSCFD), melampaui target sebesar 5.508 MMSCFD.
Pada 2025, pemerintah juga mencatat kebutuhan gas bumi nasional telah dipenuhi dari produksi dalam negeri. Dari total pasokan sekitar 5.600 billion British thermal units per day (BBTUD), sekitar 3.908 BBTUD atau 69% dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sedangkan 1.691 BBTUD atau 31% diekspor.(DH)