Ekonomi Inggris tumbuh, tercepat sejak 2025 berkat dorongan AI
Jumat, 11 September 2026
LONDON - Ekonomi Inggris tumbuh pada laju tahunan tercepat dalam 18 bulan pada Juli.
Seperti dikutip Reuters, pertumbuhan tersebut didorong oleh aktivitas sektor teknologi, khususnya bisnis yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), sekaligus menunjukkan ketahanan ekonomi Inggris di tengah tekanan akibat perang AS-Iran.
Data Office for National Statistics (ONS) yang dirilis Jumat menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Inggris pada Juli tumbuh 1,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut merupakan pertumbuhan tahunan tercepat sejak Februari 2025 dan jauh di atas perkiraan ekonom sebesar 1,2%.
Secara bulanan, ekonomi Inggris tumbuh 0,4% pada Juli, berbanding terbalik dengan ekspektasi ekonom yang memperkirakan tidak ada pertumbuhan.
Pertumbuhan ekonomi dalam tiga bulan hingga Juli juga mencapai 0,4%, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
AI Jadi Pendorong Pertumbuhan
Liz McKeown, direktur statistik ekonomi ONS, mengatakan sebagian besar pertumbuhan dalam tiga bulan terakhir berasal dari perusahaan yang bergerak di bidang pemrograman komputer dan mendapat manfaat dari meningkatnya penggunaan AI.
Pada Juli, sektor jasa kembali menjadi kontributor terbesar pertumbuhan. Aktivitas pemrograman komputer menjadi salah satu pendorong utama.
Sejumlah perusahaan juga mendapatkan tambahan aktivitas dari penyelenggaraan Piala Dunia sepak bola putra serta cuaca panas yang tidak biasa.
James Smith, ekonom pasar negara maju di ING, mengatakan kinerja ekonomi Inggris sejauh ini jauh lebih baik dari perkiraan di tengah dampak perang Iran.
Ekonomi Inggris Tumbuh 1% pada Semester I
Pada semester pertama 2026, ekonomi Inggris tumbuh 1%, menjadi pertumbuhan tercepat di antara negara-negara maju yang tergabung dalam G7.
Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa sebagian penguatan tersebut mungkin dipengaruhi faktor musiman yang belum sepenuhnya tercermin dalam penyesuaian data.
Matt Swannell, kepala penasihat ekonomi ITEM Club, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Inggris akan mulai melambat menjelang akhir tahun.
Sebaliknya, Sanjay Raja, kepala ekonom Inggris Deutsche Bank, melihat prospek yang lebih positif.
Menurutnya, kekuatan ekonomi Inggris semakin sulit diabaikan dan para ekonom kemungkinan akan menaikkan proyeksi pertumbuhan tahunan Inggris sekitar 0,1 poin persentase setelah rilis data terbaru.
Tantangan Inflasi dan Suku Bunga
Data pertumbuhan tersebut menjadi kabar positif bagi Menteri Keuangan Inggris John Healey menjelang penyusunan anggaran pertamanya pada 28 Oktober.
Namun, pemerintah tetap menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya pinjaman dan lonjakan harga minyak.
Harga minyak pekan ini menembus US$105 per barel, yang berpotensi meningkatkan inflasi sekaligus memperbesar biaya utang pemerintah Inggris.
Bank of England (BoE) memperkirakan inflasi Inggris dapat meningkat hingga sekitar 3,2% pada akhir tahun.
Hampir seluruh ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan BoE akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan dan sepanjang sisa tahun ini.
Namun, pasar keuangan justru memperkirakan kenaikan suku bunga hampir pasti terjadi paling lambat November karena tekanan inflasi yang kembali meningkat.
Perang Iran Masih Membayangi
Kinerja ekonomi Inggris sejauh ini relatif tahan terhadap dampak perang AS-Iran dibandingkan kekhawatiran awal para ekonom.
Namun, konflik tersebut mulai memberikan tekanan melalui harga energi. Lonjakan minyak dapat meningkatkan biaya produksi, transportasi, serta biaya pinjaman pemerintah.
Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan data ekonomi terbaru menunjukkan kinerja yang sedikit lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Meski demikian, Menteri Keuangan John Healey mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih rapuh. (DK)