Volatilitas harga minyak yang tinggi diperkirakan masih berlanjut

Jumat, 11 September 2026

image

NEW YORK - Harga minyak turun pada perdagangan Jumat (11/9), tetapi masih berada di jalur kenaikan lebih dari 8% dalam sepekan.

Sementara itu, harga diesel di Amerika Serikat (AS) menembus rekor setelah serangkaian serangan di jalur pelayaran Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan berkepanjangan.

Seperti dikutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$3,28 atau 3,05% menjadi US$104,35 per barel pada pukul 13.09 GMT.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah US$3,41 atau 3,33% menjadi US$99,07 per barel.

Pada awal perdagangan Jumat, harga Brent dan WTI sempat naik ke level tertinggi sejak pertengahan Mei.

Namun, harga kemudian berbalik setelah Financial Times melaporkan para menteri luar negeri di Timur Tengah tengah membahas kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengatur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Pada Kamis (10/9), harga Brent dan WTI melonjak lebih dari 6% setelah serangkaian serangan terhadap kapal di kawasan tersebut kembali terjadi.

“Sejumlah berita mengenai kemungkinan pembicaraan baru di Timur Tengah memberikan tekanan moderat terhadap harga minyak hari ini,” kata Analis Energi UBS, Giovanni Staunovo.

“Saya masih melihat risiko kenaikan harga minyak dalam jangka pendek, tetapi volatilitas harga yang tinggi juga diperkirakan terus berlanjut,” ujarnya.

Perkembangan lain yang berpotensi signifikan bagi Riyadh datang dari citra satelit yang menunjukkan kepulan asap di sekitar East-West Pipeline milik Arab Saudi pada Kamis (10/9).

Jalur tersebut menjadi sarana penting bagi Arab Saudi untuk mengalihkan ekspor minyak mentah tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pasokan minyak mentah Arab Saudi turun 2,3 juta barel per hari secara bulanan menjadi 6 juta barel per hari pada Agustus.

Level tersebut merupakan yang terendah dalam lebih dari tiga dekade setelah serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi.

Kekhawatiran terhadap arus minyak di kawasan juga meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran telah mencapai Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb pada Jumat (11/9).

Empat sumber pemerintah Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa langkah tersebut berpotensi memperkuat kendali Houthi atas salah satu jalur pelayaran penting dunia.

Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz pada Rabu setelah AS menyerang lima kapal tanker minyak Iran.

IRGC mengatakan akan meningkatkan serangan sebagai respons jika terjadi serangan lanjutan.

Jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz turun menjadi tujuh pada Kamis (10/9) dari 11 kapal sehari sebelumnya, berdasarkan data awal pelacakan kapal yang ditunjukkan pada Jumat.

Sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari, sekitar 125 kapal pengangkut komoditas melintas di selat tersebut.

Jalur tersebut juga menjadi rute bagi sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Sementara itu, dua pejabat Bank Sentral Eropa (ECB), pada Jumat (11/9)membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut jika kenaikan harga energi akibat perang terus berlanjut dan mendorong kenaikan harga lainnya di zona euro.

Pasokan Terganggu, Harga Naik

Gangguan pasokan minyak akibat perang Iran, ditambah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia, mendorong harga rata-rata diesel nasional AS menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya pada Kamis (10/9). Data tersebut berdasarkan pemantauan harga dari GasBuddy.

“Produk olahan minyak, terutama diesel, saat ini menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus,” kata Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer.

“Selama gangguan pelayaran di kawasan Teluk dan gangguan kilang Rusia masih berlangsung, diesel dan produk olahan minyak lainnya kemungkinan akan mengalami tekanan kenaikan yang lebih besar dibandingkan pasar minyak mentah secara keseluruhan,” jelasnya.

Commerzbank menaikkan proyeksi harga Brent pada akhir tahun menjadi US$85 per barel dari sebelumnya US$75.

Bank tersebut juga menaikkan proyeksi harga diesel menjadi US$1.200 per ton dari US$950 dan harga bahan bakar jet menjadi US$1.230 per ton dari US$980. (ARF)