RAJA bidik IPO satu-dua anak usaha pada 2027
Sabtu, 12 September 2026
JAKARTA - PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) memastikan akan kembali membawa anak usahanya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2027.
Perseroan juga menyiapkan investasi sekitar US$150 juta untuk tiga proyek awal dalam pipeline, termasuk proyek floating liquefied natural gas (FLNG).
Direktur Utama RAJA, Djauhar Maulidi, mengatakan rencana IPO anak usaha tersebut sebelumnya ditargetkan pada 2025, tetapi mengalami penundaan. Perseroan kini menargetkan pelaksanaannya pada 2027 dengan waktu yang masih menyesuaikan kondisi pasar modal.
“Yang pasti tahun depan. Cuma tanggal tepatnya kami belum bisa memberikan satu jawaban yang pas karena itu sangat tergantung situasi market dan pasar modal, khususnya di Indonesia,” kata Djauhar dalam Public Expose Live 2026.
Direktur RAJA Ogi Rulino mengatakan perseroan membuka peluang lebih dari satu anak usaha untuk melakukan IPO.
“Insyaallah mudah-mudahan anak perusahaan kami akan menyusul. RAJA sebagai induknya sudah lama IPO. RATU dan tentunya kalau bisa ada satu atau dua anak perusahaan lagi yang akan melakukan IPO,” ujar Ogi.
Sementara itu, RAJA memperkirakan kebutuhan investasi sekitar US$150 juta untuk tiga proyek awal dalam pipeline, termasuk FLNG. Namun, nilai investasi tersebut masih dapat berubah karena perseroan masih memfinalisasi sejumlah proyek lainnya.
Direktur RAJA, Praba Diwangkara mengatakan perseroan akan menggunakan kombinasi dana internal dan eksternal untuk membiayai ekspansi.
“Pendanaan akan menggunakan dana internal dan eksternal, kombinasi beberapa sumber pembiayaan. Pendanaan akan disesuaikan dengan karakteristik dan arus kas masing-masing proyek,” ujar Praba.
Perkuat Bisnis Pelayaran
RAJA juga memperluas bisnis ke sektor pelayaran sebagai bagian dari penguatan bisnis midstream dan infrastruktur energi.
Djauhar mengatakan pelayaran menjadi salah satu lini yang dinilai paling memungkinkan untuk dikembangkan perseroan dalam rantai bisnis midstream.
“Alasan kami memasuki bisnis pelayaran adalah untuk memperkuat bisnis midstream dan masuk ke mata rantai bisnis baru. Di sektor midstream dan infrastruktur, yang paling mudah kami masuki sekarang adalah bisnis pelayaran,” katanya.
Ia mengatakan kebutuhan pengangkutan LNG berpotensi meningkat karena lokasi sumber gas dan konsumen berada di wilayah yang berbeda. Sumber gas di Indonesia bagian timur perlu disalurkan ke pusat permintaan di wilayah barat.(DH)
“Sumber energi ada di Indonesia bagian timur, sementara market atau konsumen ada di Indonesia bagian barat. Karena itu gas harus dipindahkan dari timur ke barat. Salah satu alternatifnya adalah mengubah gas menjadi LNG, sehingga dibutuhkan infrastruktur dan ekosistem, termasuk LNG terminal dan kapal pengangkut,” ujar Praba. (DH)