Inflasi Amerika sesuai ekspektasi, aksi gelombang jual obligasi mereda

Minggu, 13 September 2026

image

SINGAPURA/LONDON/NEW YORK - Tekanan jual di pasar obligasi global mereda pada Jumat (11/9) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai dengan ekspektasi ekonom.

Kondisi tersebut meningkatkan peluang kenaikan suku bunga, sekaligus memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan mengambil sikap menunggu dan melihat perkembangan data berikutnya.

Seperti dikutip Reuters, kondisi tersebut menjadi kabar baik bagi pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump yang selama ini berupaya menekan biaya pinjaman, tetapi belum banyak membuahkan hasil.

Pasar sebelumnya khawatir yield surat utang AS bertenor 10 tahun akan menembus level 5%.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pekan ini mengumumkan pembelian kembali surat utang Treasury dalam jumlah yang tidak biasa.

Langkah tersebut ditujukan untuk memperbaiki kondisi pasar dan kemungkinan menurunkan yield obligasi bertenor panjang.

Namun, langkah tersebut belum meredakan kekhawatiran investor atas besarnya defisit fiskal AS, derasnya penerbitan obligasi pemerintah dan korporasi, serta utang AS yang baru saja menembus US$40 triliun.

Indeks saham AS naik 1% atau lebih pada Jumat (11/9) setelah data Indeks Harga Konsumen (IHK) menunjukkan inflasi naik 0,4% pada Agustus.

Secara tahunan, inflasi konsumen mencapai 3,4% hingga Agustus, sama dengan kenaikan pada Juli.

Yield Treasury mayoritas turun setelah sempat naik seusai rilis data inflasi.

Yield Treasury 10 tahun turun 1 basis poin menjadi 4,93%. Penurunan ini mencerminkan kelegaan investor yang sebelumnya khawatir data inflasi yang jauh lebih tinggi dari perkiraan akan memicu aksi jual obligasi baru dan mendorong The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan.

"Pasar bisa bernapas lega karena inflasi berdasarkan indeks harga konsumen hari ini tidak lebih tinggi dari perkiraan atau melonjak," kata Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments di New York.

"The Fed kemungkinan akan tetap bergantung pada data dan memantau situasi karena kenaikan harga energi dan pangan menjadi semacam pajak tidak langsung bagi konsumen dan pelaku usaha."

Harga minyak melonjak tajam pekan ini seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Namun, harga minyak mentah Brent turun 3% menjadi US$104 per barel pada Jumat (11/9) setelah sempat menembus US$108 per barel pada Kamis (10/9), level tertinggi dalam empat bulan.

Penurunan harga minyak menjadi kabar baik bagi pasar secara luas karena dapat mengurangi beban biaya bagi konsumen dan pelaku usaha sekaligus meredakan kekhawatiran inflasi tinggi yang menjadi salah satu pemicu aksi jual obligasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah menjadi acuan biaya pinjaman bagi perusahaan dan berbagai jenis kredit lainnya, termasuk kredit pemilikan rumah.

Kenaikan suku bunga secara umum dinilai dapat memperlambat aktivitas ekonomi.

Michael Metcalfe, kepala strategi makro di State Street London, mengatakan kenaikan yield mulai mendekati level yang dapat memicu aksi jual saham.

"Kita telah melihat investor mengambil risiko dalam waktu yang sangat panjang. Selama 108 hari berturut-turut, investor menambah eksposur terhadap aset berisiko. Tren itu baru saja terputus pekan ini," ujarnya.

Investor kini meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang dibandingkan surat utang bertenor lebih pendek.

Permintaan tersebut mencerminkan ketidakpastian terhadap suku bunga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

"Tekanan terhadap pandangan bahwa para pejabat sedang berupaya menahannya akan terus berlanjut, tetapi faktor fundamentalnya belum berubah," kata Metcalfe.

Bessent juga mengawasi keputusan Departemen Keuangan AS untuk setidaknya menggandakan pembelian kembali surat utang bertenor panjang menjadi minimal US$4 miliar.

Langkah tersebut ditujukan untuk menahan kenaikan yield Treasury 30 tahun yang kini berada di level tertinggi sejak 2007 dan masih terus meningkat.

Bessent juga menunjukkan dukungan terhadap penggunaan kekuatan finansial Washington sebagai instrumen kebijakan luar negeri.

Pekan ini, Bessent memperingatkan pelaku pasar agar tidak terlalu jauh menekan dua instrumen utama sistem keuangan AS, yakni dolar dan Treasury.

Saya yang memegang kendali," tegas Bessent dalam sebuah acara pada Rabu (9/9) ketika ditanya mengenai berbagai intervensi Departemen Keuangan di pasar dalam beberapa waktu terakhir.

Salah satunya adalah aksi bersama dengan Tokyo pada akhir Juli untuk membeli yen tanpa Jepang harus menjual surat utang AS.

Yield Obligasi Naik

Yield Treasury 10 tahun yang menjadi acuan di negara-negara G7 naik rata-rata hampir 19 basis poin sepanjang pekan ini.

Kenaikan tersebut membuat pasar obligasi mencatat pekan terburuk sejak awal perang Iran.

Yield surat utang bertenor dua tahun yang lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi inflasi dan suku bunga naik rata-rata 22 basis poin.

Kenaikan terbesar terjadi di negara-negara pengimpor energi seperti Italia dan Inggris.

"Seperti yang terjadi lagi, kekhawatiran geopolitik menjadi penggerak utama semuanya," kata Jim Reid, Ahli Strategi Deutsche Bank.

Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga pada Kamis dan memperingatkan tekanan harga dapat bertahan dalam waktu lama.

Kenaikan yield mendorong bunga KPR dan kredit bagi rumah tangga maupun perusahaan. Kondisi tersebut juga membuat pemerintah yang memiliki keterbatasan anggaran harus mengalokasikan lebih banyak dana untuk membayar bunga utang.

Ambang 5%

Kenaikan yield Treasury 10 tahun secara berkelanjutan di atas 5% dinilai sejumlah analis sebagai batas penting.

Level tersebut dapat membuat obligasi lebih menarik dibandingkan saham dan berpotensi menarik dana keluar dari pasar saham.

Selain beberapa kali menembus 5% dalam waktu singkat pada akhir 2023 serta pada 2006 dan 2007, yield Treasury 10 tahun belum pernah bertahan di atas level tersebut dalam waktu yang berarti sejak 2002.

Yield Treasury 10 tahun sempat naik hingga 4,979%, level tertinggi sejak akhir 2023.

Kondisi tersebut membuat investor di pasar regional tetap waspada sebelum yield berbalik turun setelah data inflasi AS dirilis.

Yield obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun naik 6 basis poin menjadi 2,97%.

Bank of Japan (BOJ) diperkirakan luas akan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada pekan depan dan memberi sinyal pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat.

Di Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun telah mencapai level tertinggi sejak 2011. Sementara itu, yield obligasi Prancis bertenor 10 tahun berada di level tertinggi sejak 2008, yakni sekitar 4,46%. (ARF)