CEO Chevron: Risiko harga naik masih besar dalam beberapa bulan

Minggu, 13 September 2026

image

AUSTIN - CEO Chevron Mike Wirth, mengatakan cadangan minyak yang sebelumnya menahan kenaikan harga mulai menipis.

Kondisi tersebut membuat harga minyak berpotensi kembali naik dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan berlanjutnya perang Iran.

Seperti dikutip Reuters, sejumlah negara telah melepas sebagian cadangan minyak mentah ke pasar sejak perang dimulai pada akhir Februari.

AS juga sebelumnya mengizinkan minyak dari negara yang terkena sanksi dan masih tersimpan di kapal tanker di laut untuk dijual ke pasar.

Menurut Wirth, penyangga pasokan tersebut kini sudah banyak terpakai.

“Saya sulit melihat harga minyak akan segera turun. Saya justru melihat risiko kenaikan harga masih cukup besar dalam beberapa bulan ke depan,” kata Wirth dalam konferensi energi di University of Texas at Austin.

Harga rata-rata diesel di AS mencapai US$6 per galon untuk pertama kalinya pada Kamis (10/9).

Perang Iran yang berlangsung bersamaan dengan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah memperketat pasokan. Harga minyak mentah Brent juga diproyeksikan naik sekitar 8% dalam sepekan.

Gangguan Operasi Berkurang

Wirth mengatakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah berkomunikasi dengan Ukraina terkait serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia di wilayah Laut Hitam.

Setelah komunikasi tersebut, Chevron melihat lebih sedikit gangguan terhadap operasinya di kawasan tersebut.

Chevron mengoperasikan ladang minyak Tengiz di Kazakhstan, salah satu ladang minyak terbesar di dunia.

Perusahaan tersebut juga memiliki saham di Caspian Pipeline Consortium yang mengoperasikan jaringan pipa ekspor dari Tengiz menuju Laut Hitam.

Wirth mengatakan Chevron akan membiayai seluruh rencana investasi senilai US$7 miliar untuk memperluas operasinya di Venezuela dari kas yang dihasilkan tiga perusahaan patungan yang sudah dimiliki perusahaan di negara tersebut.

Pekan lalu, Chevron menandatangani ketentuan kontrak baru dengan pemerintah Venezuela untuk memperluas operasi ke dua wilayah minyak baru.

Ekspansi tersebut ditargetkan meningkatkan produksi lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 600.000 barel per hari pada 2031.

"Kami sepenuhnya akan mengandalkan kemampuan usaha patungan tersebut menghasilkan kas dan tidak akan membawa dana dari luar," kata Wirth. (ARF)