Perpecahan The Fed memanas, Powell hadapi tekanan baru?

Selasa, 18 November 2025

image

JAKARTA - Era konsensus yang selama bertahun-tahun menjadi ciri kepemimpinan Jerome Powell di Federal Reserve kini runtuh, seiring makin terbelahnya pandangan para pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga.

Dikutip reuters.com, perpecahan itu terlihat dalam keputusan The Fed akhir Oktober yang kembali memangkas suku bunga sebesar seperempat poin, namun ditentang dua pejabat dengan alasan yang bertolak belakang situasi yang terakhir terjadi pada 2019.

Perbedaan sikap ini dipicu ketidakpastian ekonomi AS dan dampak kebijakan perdagangan agresif Presiden Donald Trump.

Ada kelompok yang menilai prioritas utama adalah menekan inflasi karena tarif bisa mendorong harga naik. Namun kubu lain menganggap pasar tenaga kerja melemah dan suku bunga perlu segera dipangkas lebih jauh.

Derek Tang, ekonom LHMeyer, memperingatkan bahwa perpecahan yang tak terselesaikan dapat menurunkan efektivitas dan kredibilitas The Fed.

“Jika perbedaan ini tak bisa didamaikan, itu bisa berdampak pada efektivitas dan kredibilitas,” ujarnya.

Ia bahkan menilai bahwa dalam dekade mendatang, pola voting di The Fed bisa menyerupai Mahkamah Agung dengan orang-orang memilih sesuai garis partai.

Powell sendiri mengakui adanya pandangan yang sangat berbeda setelah pertemuan Oktober, berbeda dari pernyataannya sebelumnya yang menyebut perbedaan itu sebagai perdebatan yang sehat.

Dengan masa jabatannya berakhir Mei mendatang, dissent diperkirakan akan terus berlanjut dan membuat pasar sulit membaca arah kebijakan.

Peluang pemangkasan suku bunga Desember bahkan disebut setara lemparan koin.

Tantangan kian besar karena penutupan pemerintahan AS sempat menghentikan rilis data ekonomi penting, membuat Fed mengambil keputusan tanpa indikator inflasi dan tenaga kerja.

Tiga presiden Fed regional yang memiliki hak suara Kansas City, St. Louis, dan Boston cenderung menolak pemangkasan lanjutan.

Jeffrey Schmid menyebut masyarakat di wilayahnya mengakami kekhawatiran yang meluas atas kenaikan biaya dan inflasi yang terus berlanjut.

Alberto Musalem memperingatkan bahwa ada ruang terbatas untuk pelonggaran lebih lanjut, sementara Susan Collins berkata ia ragu untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut.

Sebaliknya, kubu yang mendukung pemangkasan lebih dalam percaya tarif tidak akan mendorong inflasi secara berkelanjutan dan bahwa pasar tenaga kerja terancam melemah tajam.

Gubernur Stephen Miran, yang mendukung pemangkasan setengah poin, berpendapat biaya pinjaman memberi tekanan lebih besar dari perkiraan.

Ia menegaskan inflasi akan turun “substantially” apa pun langkah Fed.

Miran sejalan dengan Michelle Bowman dan Christopher Waller, yang sejak Juli mendesak penurunan suku bunga karena inflasi dianggap cukup dekat dengan target 2%.

Miran bahkan memperingatkan, “Jika Anda menjaga kebijakan seketat ini terlalu lama, Anda berisiko kebijakan moneter itu sendiri memicu resesi.” (DH)