Perang Iran picu lonjakan dana tanker minyak 3.600%

Senin, 14 September 2026

image

WASHINGTON - Ketika investor memburu keuntungan dari berbagai aset, mulai saham teknologi kecerdasan buatan (AI) Amerika Serikat hingga kontrak minyak mentah, instrumen investasi yang bergerak di balik aktivitas ekonomi global justru mencatat lonjakan paling tinggi.

Seperti dikutip CNBC, dana investasi yang berfokus pada kapal tanker pengangkut minyak menjadi salah satu instrumen dengan kinerja terbaik.

Breakwave Tanker Shipping ETF (BWET) tercatat melonjak sekitar 3.600% sepanjang 2026 hingga awal September, berdasarkan data Morningstar per 11 September.

Kenaikan tersebut menjadikan BWET sebagai dana non-leverage dengan kinerja terbaik di AS.

Lonjakan terjadi ketika konflik AS-Iran menekan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz dan mengubah investasi yang sebelumnya kurang dikenal menjadi salah satu perdagangan paling menguntungkan di Wall Street.

Kondisi rantai pasok dan jalur pelayaran juga berpotensi semakin terganggu setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengambil alih pelabuhan penting Mocka di Yaman pada pekan lalu.

Penguasaan lokasi tersebut berpotensi meningkatkan gangguan terhadap pelayaran di Laut Merah.

Sebelumnya, Laut Merah digunakan sebagai jalur alternatif untuk menghindari kawasan Teluk Persia yang dinilai berisiko.

Di wilayah lain, pejabat Arab Saudi juga memerintahkan penghentian sementara operasi pipa minyak East-West yang strategis sebagai langkah pencegahan setelah sejumlah serangan drone yang diluncurkan dari Irak.

Bukan Harga Minyak yang Jadi Penentu

Chief Business Officer B2BROKER John Murillo mengatakan daya tarik utama BWET bukan pada harga minyak mentah, melainkan biaya pengangkutannya.

BWET merupakan satu-satunya ETF yang mengikuti biaya berjangka pengangkutan minyak mentah.

Instrumen tersebut memberikan eksposur kepada kontrak berjangka kapal tanker tanpa investor harus memperdagangkan kontrak berjangka secara langsung.

"Instrumen ini sangat sedikit berkaitan dengan harga minyak atau volume minyak itu sendiri dan lebih banyak bergantung pada geopolitik," ujar Murillo.

Menurut dia, investor yang membeli BWET pada dasarnya bertaruh pada seberapa mahal biaya pengiriman satu barel minyak dari Timur Tengah menuju konsumen.

Biaya tersebut melonjak tajam setelah krisis di Selat Hormuz pecah.

Berdasarkan laporan tanker dua mingguan terbaru BWET pada 8 September, tarif rute kapal tanker minyak dari Timur Tengah yang dipantau dana tersebut telah meningkat hampir 500% secara tahunan.

Ketegangan yang berlanjut dan munculnya titik-titik hambatan baru membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menghindari kawasan tersebut.

Akibatnya, rute perdagangan menjadi lebih panjang dan mahal.

Dengan tarif kapal tanker superbesar berada di level rekor, perusahaan pelayaran pun menikmati lonjakan keuntungan.

Kelangkaan Kapal Dorong Tarif

Kyle Peacock, Principal di Peacock Tariff Consulting, menilai pembalikan harga secara cepat dan tajam belum terlihat dalam waktu dekat.

Menurut dia, lonjakan tarif angkutan tidak hanya dipicu perang Iran.

Gangguan terhadap rute perdagangan akibat tarif dan kekeringan yang menyebabkan rendahnya permukaan air di sejumlah pelabuhan Panama dan Eropa turut menciptakan kelangkaan kapal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Perusahaan bersedia membayar harga yang mungkin 300% lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, tetapi itulah satu-satunya kapal yang tersedia," kata Peacock.

Keterbatasan kapal membuat perusahaan harus menempuh rute yang lebih jauh.

Namun, kondisi tersebut justru meningkatkan pendapatan perusahaan pelayaran secara signifikan karena pelanggan berebut kapasitas kapal yang sangat terbatas.

Tarif juga mendorong kapal dialihkan ke tujuan yang biasanya tidak menjadi rute utama.

Peacock mencontohkan salah satu kliennya yang memindahkan fasilitas manufaktur dari China ke Hungaria untuk menghindari tarif.

Perubahan jalur perdagangan tersebut turut mengurangi pasokan kapal yang tersedia.

Dalam kondisi normal, perusahaan pelayaran kontainer biasanya menentukan rute.

Namun saat ini, urgensi pasar membuat rute lebih banyak ditentukan oleh penawar dengan harga tertinggi.

Pasokan Kapal Baru Belum Bisa Cepat

Peacock memperkirakan pemulihan kondisi akan berlangsung lambat.

Salah satu solusinya adalah mengembalikan kapal-kapal yang terjebak di titik-titik geopolitik dan wilayah dengan permukaan air rendah ke pelabuhan asal.

Dalam jangka panjang, banyaknya kapal yang saat ini sedang dipesan dan dibangun akan membantu mengurangi kelangkaan.

Namun, kapal-kapal tersebut baru diperkirakan mulai beroperasi dalam 18-36 bulan mendatang.

"Selalu ada cadangan diesel, selalu ada cadangan gas, tetapi tidak ada cadangan kapal," ujar Peacock.

Dia memperkirakan sedikitnya 200 kapal saat ini sedang dibangun di berbagai negara.

BWET juga mengakui kondisi tersebut dalam laporan tanker terbarunya.

Lonjakan tarif angkutan telah mendorong peningkatan pemesanan kapal baru, sehingga jumlah kapal yang sedang dipesan berada jauh di atas rata-rata.

Namun, dalam jangka panjang, peningkatan pasokan kapal berpotensi menciptakan kelebihan kapasitas dan memicu penurunan siklus industri.

Gangguan Rantai Pasok Jadi Normal Baru

Eric Fullerton, Vice President of Product Marketing Project44, mengatakan gangguan seperti ini berpotensi menjadi normal baru dan menjaga harga pengiriman tetap tinggi dalam waktu dekat.

Menurut dia, dalam tiga tahun terakhir, jalur perdagangan global telah dua kali dipersenjatai sebagai alat untuk mencapai kepentingan geopolitik.

Gangguan sebelumnya terjadi di Terusan Suez, kemudian di Selat Hormuz dan jalur pelayaran Laut Merah.

Sebelum perang Iran, rata-rata gangguan pengiriman akibat faktor geopolitik mencapai sekitar 1.000 kejadian per pekan.

Angka tersebut melonjak menjadi lebih dari 9.000 pada puncak krisis.

Project44 mencatat 140.276 gangguan pengiriman sepanjang tahun ini, yang didefinisikan sebagai kondisi ketika sebuah kapal harus mengubah rute.

Meskipun jumlah gangguan mulai menurun, angkanya masih sekitar dua kali lipat dibandingkan sebelum perang Iran pecah.

Fullerton menilai gangguan tersebut berpotensi terus terjadi karena konflik militer dan perang dagang telah mengubah pola operasi rantai pasok global.

Bukan Hanya Kapal Tanker

Dampak gangguan pelayaran juga dirasakan pada sektor angkutan udara.

Tarif kargo udara meningkat 18,1% secara tahunan pada Agustus, berdasarkan Baltic Air Freight Index.

Kenaikan tersebut cukup signifikan mengingat Agustus biasanya merupakan periode yang relatif sepi bagi angkutan udara.

Investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap sektor angkutan laut dan udara dapat mempertimbangkan U.S. Global Sea to Sky Cargo ETF (SEA).

Dana tersebut mengalokasikan sekitar 70% portofolionya pada perusahaan pelayaran laut dan 30% pada perusahaan kargo udara.

Ada pula SonicShares Global Shipping ETF (BOAT), yang memberikan eksposur lebih terdiversifikasi melalui saham perusahaan yang bergerak di industri pelayaran global.

Namun, kinerja keduanya masih jauh di bawah BWET.

Berdasarkan data Morningstar per 11 September, SEA mencatat kenaikan sekitar 42% sepanjang tahun ini, sementara BOAT naik 70%.

BWET Berisiko Tinggi

Keunggulan BWET juga datang dengan risiko yang besar.

Dana tersebut memiliki eksposur yang sangat terkonsentrasi, dengan posisi pada kurang dari 10 kontrak berjangka kapal tanker yang melayani rute dari Timur Tengah ke Amerika dan Asia, serta Afrika Barat ke Eropa.

Biaya pengelolaan BWET juga tergolong tinggi dengan rasio biaya sebesar 3,50%.

Dana tersebut menggunakan struktur investasi commodities pool yang dirancang untuk perdagangan kontrak berjangka.

Struktur ini memiliki konsekuensi perpajakan tertentu sehingga lebih sesuai bagi investor taktis dibandingkan investor jangka panjang.

Murillo mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan dinamika global yang menjadi pendorong utama harga kontrak berjangka kapal tanker.

Situasi geopolitik dapat berubah dengan cepat, sementara pasar angkutan dikenal sangat volatil.

Pembatasan jalur pelayaran, kelangkaan kapal, premi akibat perang, serta lonjakan biaya asuransi dapat bersifat sementara.

Tanda-tanda kemajuan diplomasi antara Iran dan negara-negara Timur Tengah memang mulai muncul pada akhir pekan.

Namun, upaya AS dan Iran untuk mengurangi ketegangan di jalur pengiriman minyak utama masih belum menunjukkan titik temu.

"Konflik ini tidak dapat diprediksi dan dapat berakhir kapan saja. Ketika itu terjadi, tarif angkutan akan turun, dan begitu juga dengan dana tersebut," kata Murillo. (DK)