Pekan ini pasar uang global soroti 5 hal, apa saja?

Senin, 14 September 2026

image

JAKARTA – Para pembuat kebijakan di Federal Reserve dan Bank of Japan sedang mempersiapkan keputusan suku bunga utama di tengah latar belakang konflik yang semakin memanas di Timur Tengah dan kenaikan harga energi.

Di tempat lain, para pemimpin BRICS berkumpul di India dan masyarakat Swedia bersiap mendatangi tempat pemungutan suara dalam pemilu yang sangat ketat yang dapat memberikan pengaruh lebih besar kepada kelompok sayap kanan.

Berikut adalah semua hal yang perlu Anda ketahui di pasar keuangan pekan ini yang dihimpun oleh Reuters.

1. Menunggu Warsh

Pasar memasuki minggu yang krusial dengan bertanya-tanya apakah Federal Reserve akhirnya siap menaikkan suku bunga untuk mengatasi inflasi yang membandel.

Kontrak berjangka Fed Funds menunjukkan pasar condong pada kenaikan seperempat poin ketika para pembuat kebijakan mengumumkan keputusan mereka pada hari Rabu, meskipun banyak investor yang masih ragu.

Bank sentral telah mempertahankan suku bunga tidak berubah sepanjang tahun 2026, dan beberapa pedagang meragukan hal itu akan tiba-tiba berubah sekarang.

Taruhan pada kenaikan suku bunga menguat setelah Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, menyampaikan nada hawkish (cenderung memperketat kebijakan) bulan lalu dan didukung oleh laporan pekerjaan bulan Agustus yang panas.

Menambah ketegangan, Warsh telah memperjelas bahwa ia tidak akan memberikan banyak panduan ke depan (forward guidance), membuat pasar meraba-raba bukan hanya tentang pertemuan ini, tetapi juga apa yang akan terjadi selanjutnya.

2. Aksi Selanjutnya BOJ

Terkait Bank of Japan (BOJ) mungkin menjadi keputusan sebuah bank sentral yang paling mudah ditebak bulan ini.

Pasar hampir 100% yakin para pembuat kebijakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada tanggal 18 September, level yang belum pernah terlihat dalam lebih dari tiga dekade.

Pertanyaan yang lebih besar adalah apa yang terjadi selanjutnya.

Setelah banyak pembicaraan dari para pejabat BOJ mengenai perlunya pengetatan kebijakan, para investor sudah melihat melampaui bulan September.

Para analis melihat pertemuan BOJ bulan Oktober dan Desember sangat berpotensi terjadi perubahan, sementara pasar swap telah memperhitungkan suku bunga mencapai 1,5% pada bulan Januari.

Faktor penentunya adalah yen. Menopang mata uang tersebut menjadi tujuan de facto BOJ ketika yen merosot, mencapai titik terendah dalam empat dekade pada bulan Juli.

Pemulihan baru-baru ini telah meredakan tekanan tersebut, meskipun investor tetap sensitif terhadap setiap pembalikan (unwinding) dari perdagangan carry trade yang didanai yen, yang telah mengguncang aset-aset jauh melampaui batas negara Jepang.

3. Inflasi yang Berkobar

Kenaikan harga minyak sempat hampir tidak menarik perhatian selama berminggu-minggu. Sekarang, hal itu terjadi. Minyak mentah Brent telah melonjak kembali di atas $100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli.

Harga fisik berada di atas $120. Solar telah mencapai rekor tertinggi, dan bahan bakar jet mendekati puncak bulan April.

Di Eropa, harga gas alam berada di level tertinggi sejak akhir 2022, menjelang musim dingin dengan cadangan gas berada di level terendah untuk periode tahun ini dalam 15 tahun terakhir.

Gelombang panas pemecah rekor musim panas ini telah menghancurkan tanaman dan padang rumput di banyak wilayah, memicu ancaman inflasi pangan. Sementara itu, tembaga, yang sangat penting untuk segala hal mulai dari jaringan listrik hingga perangkat keras AI, telah melonjak ke rekor tertinggi mendekati $15.000 per ton.

Jumlah masalah yang harus dihadapi oleh para bank sentral bertambah dengan cepat.

4. BRICS dan Tautan Digital

Saat para pemimpin BRICS berkumpul di New Delhi pada 12-13 September 2026, India mendorong sebuah gagasan yang dapat menguji ambisi blok tersebut: menghubungkan mata uang digital bank sentral (CBDC) untuk membuat pembayaran lintas batas menjadi lebih cepat dan lebih murah.

Apa Kendalanya?

Politik.  Beberapa negara anggota memiliki hubungan yang tegang, dan mata uang digital masih menjadi eksperimen khusus di sebagian besar belahan dunia. Iran dan Uni Emirat Arab telah memutuskan hubungan keuangan di tengah konflik Timur Tengah, sementara India telah lama berhati-hati terhadap integrasi keuangan yang lebih dalam dengan Tiongkok.

BRICS sebelumnya pernah melirik alternatif selain dolar, termasuk wacana mengenai mata uang bersama, tetapi rencana tersebut tidak membuahkan hasil.

Hubungan CBDC mungkin lebih sederhana, namun setiap langkah yang menggerogoti dominasi dolar kemungkinan akan menarik perhatian dari pasar—dan membuat marah Washington.

5. Pemilu Swedia yang Tegang (Nail-Biter)

Masyarakat Swedia mendatangi tempat pemungutan suara pada hari Minggu dalam pemilu yang menjadi salah satu yang paling ketat di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

Koalisi kanan-tengah pimpinan Perdana Menteri Ulf Kristersson telah mengikis keunggulan yang sebelumnya dipegang oleh oposisi kiri-tengah pimpinan Magdalena Andersson, mengubah apa yang tadinya tampak seperti kemenangan oposisi yang nyaman menjadi perlombaan yang menegangkan.

Pertanyaan yang lebih besar adalah apa yang terjadi setelahnya?

Partai Demokrat Swedia yang anti-imigrasi, yang mendukung pemerintahan Kristersson sejak 2022, sedang mendesak untuk mendapatkan jatah kursi kabinet dan dapat memperoleh pengaruh yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kebijakan, menambah pergeseran yang lebih luas ke arah kanan di beberapa bagian Eropa.

Bagi para investor, fokusnya adalah pada rencana pengeluaran.

Pemerintah telah memotong pajak bahan bakar dan makanan, serta menjanjikan lebih banyak keringanan pajak dan tempat penitipan anak gratis jika memenangkan masa jabatan lagi, menjadikan kebijakan fiskal kembali menjadi sorotan. (YS)