Biaya dana China makin murah dibanding AS, Panda Bond makin menarik?
Senin, 14 September 2026
JAKARTA - Penurunan biaya pinjaman di China membuat pasar obligasi Negeri Tirai Bambu semakin menarik sebagai alternatif pendanaan, termasuk bagi Indonesia. Namun, biaya dana yang lebih murah belum cukup untuk menggantikan dominasi pasar utang Amerika Serikat (AS) meski suku bunga cenderung melonjak.
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), Irman Faiz, mengatakan keputusan penerbitan obligasi dalam mata uang yuan tetap harus mempertimbangkan biaya lindung nilai, risiko nilai tukar renminbi (RMB), kedalaman pasar, kebutuhan mata uang, serta besaran pendanaan.
"Indonesia sudah mulai memanfaatkan Panda Bond. Namun, keputusan penerbitan tidak hanya ditentukan oleh rendahnya yield, tetapi juga biaya setelah hedging, risiko kurs RMB, kedalaman pasar, kebutuhan mata uang, dan volume pendanaan," kata Irman kepada IDNFinancials.
Menurut dia, Panda Bond lebih tepat diposisikan sebagai instrumen diversifikasi sumber pembiayaan, bukan pengganti pasar obligasi dolar AS yang masih menjadi pasar paling likuid dan dalam.
Hal ini tidak terlepas dari masih dominannya dolar AS dalam transaksi internasional. Karena itu, kebutuhan pendanaan dalam dolar tetap besar bagi banyak negara.
Seorang pengamat pasar fixed income, mengatakan hal senada bahwa suku bunga di China yang rendah belum tentu berdampak langsung membuat pasar Panda Bond ramai.
“Nggak sesederhana itu. Pasar bond China sangat tertutup dan tidak mudah diakses investor global. Juga lalu lintas devisa di China dikontrol pemerintah,” jelas dia.
Menurut dia, kurs yuan dan suku bunga di China tidak mencerminkan pergerakan pasar seperti di negara terbuka seperti US, Jepang, Eropa.
“Ya dugaan saya, ini token amount saja. Alias ada penerbitan tapi tidak bisa diandalkan untuk pendanaan jangka panjang dalam jumlah besar.”
Mengenai bunga global yang cenderung terus meningkat dia menjelaskan bahwa yang comparable dengan Indonesia adalah Amerika.
“Karena rezim valuta bebas dan mata uangnya pure floating. Dengan naiknya borrowing cost di US (dan Jepang juga) maka global interest rates baik jangka pendek, yang ditentukan bank sentral, dan jangka panjang, yang ditentukan pasar, akan naik.”
Dia menambahkan: “Cepat atau lambat akan berdampak ke suku bunga di Indonesia. Dan ada juga dampak ke capital flow dari emerging market ke developed countries.”
Tekan Negara Berkembang
Di sisi lain, tingginya yield US Treasury meningkatkan tekanan terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat seluruh dana investor kembali ke AS.
"Investor akan membandingkan imbal hasil AS dengan yield dan risk premium di emerging markets. Tekanan akan lebih besar pada negara dengan defisit eksternal tinggi dan fundamental yang lebih lemah," ujarnya.
Irman menilai kenaikan yield US Treasury saat ini juga banyak dipengaruhi risiko fiskal dan term premium. Kondisi tersebut membuat kenaikan yield tidak selalu diikuti penguatan dolar AS dalam besaran yang sama.
Bagi Indonesia, ketahanan terhadap tekanan eksternal tetap bergantung pada kecukupan selisih suku bunga, kondisi neraca eksternal, dan kecukupan cadangan devisa.
Risiko Kredit
Sementara itu, suku bunga AS yang bertahan tinggi dalam waktu lama berpotensi meningkatkan risiko kredit, terutama bagi debitur dengan leverage tinggi dan kebutuhan refinancing besar.
Meski demikian, Irman menilai kondisi tersebut belum otomatis memicu kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) secara luas. Ketahanan ekonomi dan pasar tenaga kerja AS masih menjadi penyangga.
"Data sektor riil AS, mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga serapan tenaga kerja, masih lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini juga membuat inflasi AS pada Agustus lebih tinggi dari perkiraan, terutama pada komponen inflasi inti," katanya.
Menurut dia, kenaikan suku bunga AS juga tidak harus diikuti secara otomatis oleh bank sentral negara lain. Kebijakan moneter masing-masing negara akan bergantung pada dinamika inflasi, nilai tukar, dan kondisi eksternal domestik.
Namun, negara yang menghadapi paparan tinggi terhadap kenaikan harga minyak berpotensi menghadapi tekanan lebih besar. Kebutuhan dolar untuk membiayai impor minyak dapat meningkatkan kebutuhan arus modal asing ke pasar keuangan domestik.
"Negara yang terpapar risiko kenaikan harga minyak cenderung akan ikut menaikkan bunga acuan agar imbal hasil aset domestiknya tetap kompetitif terhadap AS dan mampu menarik arus modal asing," ujar Irman.
Dengan demikian, lanskap pendanaan global saat ini menunjukkan divergensi yang semakin jelas. China menawarkan biaya pendanaan yang semakin rendah, sementara tingginya yield AS meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk mempertahankan aset di pasar negara berkembang.(DH/MT)