Indonesia dorong negara berkembang berperan besar tata kelola global
Senin, 14 September 2026
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong negara-negara berkembang untuk mengambil peran lebih besar dalam membentuk tata kelola global.
Menurutnya, kepentingan negara berkembang berisiko terabaikan jika mereka tidak dilibatkan dalam proses penyusunan aturan internasional.
Airlangga menyampaikan hal tersebut saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di New Delhi, India, Sabtu.
Ia memperingatkan, keterbatasan partisipasi dalam perundingan regulasi internasional dapat membuat negara berkembang harus mengikuti keputusan yang dibuat tanpa keterlibatan mereka.
Indonesia, kata Airlangga, akan terus mendorong terbentuknya sistem tata kelola global yang lebih inklusif, representatif, dan berkeadilan.
Menurutnya, perubahan lanskap geopolitik membuat negara berkembang perlu memperkuat suara mereka dalam berbagai perundingan dan proses pengambilan keputusan di tingkat internasional.
"Indonesia berkomitmen untuk mendorong reformasi lembaga multilateral agar lebih responsif dan representatif terhadap negara-negara berkembang," ujar Airlangga dalam keterangan resminya.
Pemerintah juga mendorong reformasi di sejumlah lembaga multilateral, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), serta lembaga keuangan internasional.
Airlangga turut menyoroti pentingnya reformasi sistem ekonomi multilateral di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi, ketidakpastian perdagangan, serta gangguan terhadap rantai pasok global.
Indonesia, lanjutnya, akan mendorong sistem perdagangan multilateral yang terbuka, inklusif, transparan, dan berbasis aturan. Upaya tersebut diharapkan dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan negara berkembang meningkatkan kapasitas dan memperkuat pertumbuhan ekonominya.
Pernyataan Airlangga tersebut sejalan dengan tema sesi KTT BRICS pada Sabtu, yakni "Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism".
Dalam sesi tersebut, Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya memperkuat ketahanan di tingkat nasional, regional, maupun global. Ia juga menyoroti kekuatan ekonomi kolektif negara-negara BRICS.
Prabowo menyebut BRICS mewakili sekitar setengah populasi dunia dan mencakup pasar-pasar besar, negara-negara produsen energi, serta bagian signifikan dari perekonomian dan perdagangan global.
Pada hari kedua KTT, pembahasan antara negara anggota BRICS dan negara mitra akan dilanjutkan dengan mengangkat tema "Resilience, Innovation, Cooperation, and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth." (DK)