Purbaya minta LPEI beri kredit murah untuk manufaktur padat karya

Senin, 14 September 2026

image

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) mengoptimalkan perannya sebagai policy bank pemerintah.

Ia menginstruksikan LPEI untuk aktif memberikan intervensi pembiayaan dengan suku bunga murah bagi sektor manufaktur padat karya yang tengah tertekan persaingan global.

Sejumlah sektor yang menjadi perhatian antara lain industri tekstil, alas kaki, furnitur, dan baja. Menurut Purbaya, sektor-sektor tersebut sebelumnya menjadi kekuatan industri nasional, tetapi kini menghadapi tekanan dan kesulitan memperoleh pembiayaan dari perbankan komersial.

"Kita lihat lagi sektor-sektor kita yang terdesak oleh globalisasi yang dahulu unggul, seperti tekstil, sepatu, dan baja, apakah bisa kita bantu, karena mereka menyatakan saat ini sulit mendapatkan pinjaman. Sebagai lembaga pembiayaan ekspor, coba bicara dengan industri, tekstil, furnitur dan lain-lain, dan coba tawarkan bunga pembiayaan yang murah," ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Minggu (13/9).

Purbaya juga menegaskan tidak ragu menyesuaikan indikator kinerja utama (Key Performance Indicator/KPI) LPEI, khususnya terkait pendapatan bunga.

Menurut dia, LPEI tidak seharusnya hanya berorientasi pada profitabilitas, tetapi juga harus hadir membantu pelaku usaha domestik yang kesulitan mengakses kredit perbankan komersial.

"Bila masih ketinggian juga, nanti saya lihat, apakah KPI pendapatan bunga LPEI perlu diturunkan, tidak perlu tinggi tapi efektif menjawab harapan pelaku usaha. Kan saya yang menentukan parameter kinerjanya," kata Purbaya.

Ia menambahkan, parameter keberhasilan kelembagaan LPEI berada di bawah kewenangannya sebagai Bendahara Negara. Karena itu, efektivitas dampak pembiayaan terhadap dunia usaha menjadi salah satu prioritas utama.

Menanggapi arahan tersebut, Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso menegaskan kesiapan lembaganya untuk terus bertransformasi dalam mengisi celah pasar (fill in the market gap) yang belum sepenuhnya terlayani perbankan komersial.

Memasuki usia 17 tahun sejak dibentuk berdasarkan UU No. 2 Tahun 2009, LPEI memperkuat fokus pada tiga aspek, yakni Beyond Financing, Developmental Impact, dan Sustainability.

"Nilai yang kami bawa tidak berhenti pada pembiayaan, tetapi dirumuskan melalui Beyond Financing, Developmental Impact, dan Sustainability," ujar Sukatmo.

Sukatmo menjelaskan, LPEI juga siap menjalankan mandat penugasan khusus (countercyclical) untuk mendukung sektor-sektor strategis yang ditetapkan pemerintah di tengah gejolak rantai pasok dan ketidakpastian geopolitik global.

"Di tengah meningkatnya ketidakpastian perdagangan akibat dinamika geopolitik dan ekonomi global, LPEI juga siap mendukung sektor lain yang membutuhkan intervensi kebijakan sesuai mandat countercyclical lembaga," ujar Sukatmo.

Dalam rekam jejaknya, LPEI telah memfasilitasi sejumlah proyek ekspor strategis dan penetrasi ke pasar nontradisional.

Di antaranya penjaminan proyek kontraktor Indonesia di Arab Saudi dan Malaysia, pembiayaan buyers credit gerbong kereta PT INKA ke Bangladesh dan Selandia Baru, serta ekspor pesawat PT Dirgantara Indonesia ke Afrika dan Asia Tenggara.

LPEI juga mendukung ekspansi produk farmasi dan kuliner lokal melalui program Indonesia Spice Up the World. (DK)