Pasar lokal melambat, STRK bidik penjualan ekspor 60% di 2026

Rabu, 07 Januari 2026

image

JAKARTA – Produsen minuman PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) menargetkan porsi penjualan ekspor mencapai 60% dari total penjualan 2026, merespons perlambatan daya beli di pasar domestik.

Strategi itu sejalan dengan inisiatif STRK, yang telah menggandeng sejumlah mitra strategis di luar Indonesia, untuk pengembangan dan distribusi produk.

Direktur Utama STRK, Bona Budhisurya, mengatakan situasi pasar domestik menjadi alasan utama perseroan untuk fokus ke pasar global.

“Ketika pasar lokal melambat, perusahaan perlu mencari sumber pertumbuhan lain. Pasar ekspor menjadi salah satu opsi yang realistis,” ujar Bona, dalam keterangan yang disampaikan kepada IDNFinancials.com hari ini.

Sejalan dengan upaya itu, STRK telah mengembangkan tiga produk terbarunya di segmen Ready To Drink (RTD), serta minuman premium yang sesuai preferensi pasar global.

Penetrasi difokuskan pada kawasan Asia, khususnya Jepang dan China, sembari membuka peluang ke Eropa dan Amerika Serikat.

Sebagai bagian dari ekspansi pasar, STRK telah menandatangani Letter of Intent dengan Naoyoshi Co., Ltd., perusahaan logistik dan distribusi asal Jepang, untuk memasarkan produk segmen RTD.

Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, STRK bahkan telah mendirikan perusahaan patungan di Jepang bersama Naoyoshi.

Dari sisi operasional, STRK memiliki fasilitas produksi di Singaraja Bali dengan kapasitas 3.000 botol minuman per jam.

Untuk mendukung permintaan dari pasar ekspor, STRK berencana meningkatkan kapasitas produksinya secara bertahap hingga 20.000 botol per jam, namun tetap mengoptimalkan tenaga kerja lokal sebelum berinvestasi pada mesin produksi modern.

“Pendekatan ini memungkinkan kami meningkatkan kapasitas sambil tetap melibatkan tenaga kerja lokal,” ujar Bona.

Komposisi ini berpotensi berubah seiring realisasi kontrak dari pasar internasional.

Sebagai catatan, STRK mencatatkan penjualan sebesar Rp29,8 miliar pada 2024. Adapun kinerja penjualan sembilan bulan pertama 2025 mencapai Rp15,42 miliar, yang sebagian besar dilakukan kepada pihak ketiga. (KR)