Penangkapan Maduro guncang kepentingan China di Venezuela
Rabu, 07 Januari 2026

SHANGHAI - Operasi langsung Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya telah memicu gelombang kejut internasional.Banyak negara mengecam langkah tersebut, termasuk China, yang menyebutnya sebagai “pelanggaran nyata hukum internasional” serta menuntut pembebasan segera Maduro dan Cilia Flores.Pasukan elite AS dilaporkan melancarkan serangan kilat menjelang fajar pada 3 Januari ke Caracas, menangkap Maduro di tengah serangan udara yang menghantam sejumlah lokasi di dalam dan sekitar ibu kota.Dilansir channelnewsasia.com, Maduro kini menghadapi berbagai dakwaan pidana di AS, termasuk narkoterorisme dan konspirasi penyelundupan kokain.Pada Senin (5/1), ia hadir di pengadilan New York dan menyatakan tidak bersalah atas tuduhan terkait narkotika. Istrinya juga mengajukan pembelaan serupa.Washington menegaskan operasi tersebut, yang disebut sebagai intervensi terbesar AS di Amerika Latin sejak 1989, sebagai tindakan penegakan hukum yang terarah, bukan intervensi militer skala penuh.Namun, penggulingan paksa seorang kepala negara yang sedang menjabat tetap menimbulkan kegelisahan di dalam negeri AS maupun di tingkat global.Bagi Beijing, taruhannya jauh melampaui Venezuela. Para analis menilai dampaknya menjalar ke strategi China di Amerika Latin, ambisi internasionalisasi mata uang yuan, hingga perhitungan geopolitik yang lebih luas, termasuk soal Taiwan.China merupakan investor dan kreditur terbesar Venezuela di kawasan tersebut.Data Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan Venezuela telah menerima lebih dari US$62 miliar dari China sejak 2007, sekitar 53% dari total pinjaman China ke Amerika Latin. Penerima terbesar berikutnya adalah Brasil, Ekuador, dan Argentina.Hubungan erat ini dibangun pada era Presiden Hugo Chávez (1999–2013), yang menandatangani sejumlah perjanjian dagang dengan Beijing dan menyebut China sebagai “Tembok Besar” penahan pengaruh AS.Dalam kesepakatan itu, Venezuela berkomitmen memasok hingga satu juta barel minyak per hari ke China sebagai imbalan dukungan politik.Maduro melanjutkan pengaturan tersebut sejak menjabat pada 2013, meski pinjaman baru dari China praktis berhenti sejak 2016 karena fokus pada restrukturisasi utang.Sebagian besar aliran minyak itu bukan transaksi pasar murni, melainkan pembayaran utang.Menurut firma analitik energi Vortexa, impor minyak mentah China dari Venezuela rata-rata sekitar 470.000 barel per hari sepanjang 2025, sekitar 4,5% dari impor minyak laut China.Reuters mencatat China tetap menjadi pembeli terbesar minyak Venezuela, menyerap sekitar 80 persen total ekspor.Dengan Maduro tersingkir, masa depan utang dan kelangsungan pasokan minyak menjadi tanda tanya.“Utang sekitar US$60 miliar bukan angka kecil, tetapi persoalan yang lebih besar adalah pemulihan dan arus minyak kini berada di tangan musuh China,” kata Dylan Loh, profesor madya kebijakan publik dan urusan global di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, merujuk pada AS. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan Washington akan “mengelola” Venezuela dan memanfaatkan cadangan minyaknya yang besar. “China juga kehilangan salah satu sekutu ideologis terkuatnya di Belahan Barat,” tambah Loh.Selain energi dan utang, Venezuela juga memiliki arti strategis bagi ambisi mata uang China. Sejak September 2017, Caracas mulai menjual minyak dalam yuan sebagai upaya “membebaskan diri dari tirani dolar”, menjadikan Venezuela ajang uji coba internasionalisasi yuan.Loh menyebut operasi AS ini sebagai “uji ketahanan” yang menyingkap kerentanan ambisi tersebut di bawah tekanan sanksi AS.Josef Gregory Mahoney, Profesor Politik di East China Normal University, melihat langkah AS ini sebagai bagian dari apa yang ia sebut “perang mata uang” yang lebih luas.
Menurutnya, ada pandangan bahwa operasi tersebut bertujuan memperlambat proses dedolarisasi dan menopang dominasi dolar, mengingat Venezuela menjual minyak dalam yuan dan melunasi pinjaman China dengan minyak, bukan dolar.“Ada analisis yang menyebut langkah AS ini memberi waktu tambahan bagi dolar, lima hingga sepuluh tahun, meski ada pula pandangan yang berbeda,” ujarnya.Di luar itu, para analis menilai operasi ini juga mengirimkan pesan yang lebih luas ke kawasan Amerika Latin tentang batas-batas pengaruh China dan kesiapan AS untuk bertindak tegas dalam mempertahankan kepentingannya. (DK)