Fed bersiap naikkan suku bunga untuk pertama kali di era Warsh?

Selasa, 15 September 2026

image

WASHINGTON - Federal Reserve (Fed) diperkirakan menaikkan suku bunga acuan pada Rabu (16/9).

Tingginya inflasi, harga minyak di atas US$100 per barel, serta penekanan Ketua Ketua Fed, Kevin Warsh, terhadap pentingnya stabilitas harga membuat kenaikan suku bunga semakin mungkin terjadi terjadi.

Dikutip dari Reuters, Fed akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada pukul 14.00 waktu setempat setelah menyelesaikan rapat selama dua hari.

Pasar keuangan memperkirakan para pejabat Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% dan memberi sinyal pengetatan kebijakan lebih lanjut.

Keputusan tersebut dapat menempatkan Warsh dalam posisi sulit. Sejak menjabat pada Mei, ia memimpin komite Fed yang menentukan arah suku bunga.

Presiden Donald Trump memilih Warsh dengan harapan ia akan memangkas suku bunga.

Namun, Trump sejauh ini tidak menyalahkan Warsh karena belum memenuhi harapan tersebut dan justru menuding pejabat Fed lainnya terlalu dipengaruhi kepentingan politik.

Belum jelas bagaimana Trump akan merespons kenaikan suku bunga yang terjadi hanya beberapa bulan sebelum pemilu November.

Dalam pemilu tersebut, Partai Republik berupaya mempertahankan keunggulan tipisnya di Kongres.

Kenaikan suku bunga, terutama jika disertai proyeksi kenaikan lagi tahun ini, dapat memaksa Warsh memberi gambaran soal arah kebijakan Fed.

Namun, ia juga bisa tetap membuka peluang kenaikan lebih lanjut tanpa memberikan panduan yang jelas.

“Warsh juga harus berhati-hati dalam menyampaikan pandangannya jika tetap ingin menghindari petunjuk soal arah arah suku bunga ke depan,” tulis Ekonom TD Securities Oscar Munoz.

Jika Fed menaikkan suku bunga, menurut dia, Warsh hampir pasti akan ditanya soal kemungkinan kenaikan berikutnya.

“Bagi kami, cukup jelas bahwa pengetatan lebih lanjut masih mungkin dilakukan jika jika Fed memilih menaikkan suku bunga pada September. Akan menarik melihat bagaimana ketua Fed menghadapi situasi tersebut,” ujarnya.

Sepekan sebelumnya, peluang kenaikan suku bunga Fed belum sekuat sekarang.

Saat itu, Gubernur Fed, Christopher Waller, masih melihat inflasi bergerak ke arah yang tepat setelah data Juni dan Juli menunjukkan tekanan harga yang yang lebih rendah.

“Berikan kesempatan bagi inflasi untuk terus melandai,” ujar Waller Waller dalam acara REUTERS NEXT pada awal September.

Menurutnya, data tersebut masih membuka jalan bagi inflasi untuk mencapai target Fed sebesar sebesar 2% dalam waktu yang wajar.

Presiden Fed New York, John Williams, juga mengatakan awal bulan ini bahwa bank sentral perlu perlu menunggu dan melihat perkembangan data lebih lanjut.

Namun, data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pada pekan lalu dapat mengubah pandangan Waller dan Williams.

Data tersebut juga memperkuat posisi tiga kepala bank regional Fed yang sejak Juli sudah menilai suku bunga perlu dinaikkan, yakni Presiden Fed Cleveland, Beth, Beth Hammack, Presiden Fed Dallas, Lorie, Lorie Logan, dan Presiden Fed Minneapolis, Neel, Neel Kashkari.

Ketiganya sebelumnya tidak setuju dengan keputusan Fed untuk mempertahankan suku bunga.

Sejumlah pejabat Fed lainnya juga mengatakan mereka perlu melihat inflasi kembali melandai dalam waktu dekat. Jika tidak, mereka akan mendukung kenaikan suku bunga.

Inflasi konsumen AS di luar energi dan makanan, yang menjadi indikator utama tekanan harga yang mendasari perekonomian, naik 0,3% pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut lebih tinggi dari tingkat yang diperlukan agar inflasi dapat kembali ke target Fed sebesar 2%.

Tekanan inflasi juga datang ketika harga minyak melonjak di atas US$100 per barel akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.

Kondisi ini semakin memperkecil keyakinan bahwa inflasi akan bergerak menuju target 2% dengan kecepatan yang diharapkan Warsh.

“Pada akhirnya, peringatan keras ketua Fed mengenai inflasi dapat mengikis kredibilitas institusi jika tidak diikuti dengan tindakan nyata,” kata ekonom JPMorgan Michael Feroli.

Ia memperkirakan Fed akan menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9), meski menilai peluangnya masih lebih berimbang dibandingkan probabilitas sekitar 85% yang tercermin di pasar berjangka.

Ekonom Scotiabank, Derek Holt, menilai kenaikan suku bunga saat ini merupakan langkah yang keliru.

Namun, ia memperkirakan Fed tetap akan menaikkan suku bunga setelah melihat sikap Warsh.

“Ketua Warsh mungkin sudah terjebak dengan sikapnya yang terlalu mengikuti ekspektasi pasar. Jika suku bunga tidak dinaikkan ketika pasar sudah memperkirakannya, lalu kapan?” kata Holt.

Para ekonom menilai sebagian besar pejabat Fed kemungkinan akan mengikuti sikap Warsh sebagai ketua baru bank sentral tersebut.

Dengan dukungan tersebut, Warsh sebenarnya dapat menggalang suara mayoritas untuk mempertahankan suku bunga.

Namun, Warsh berulang kali menegaskan bahwa menjaga inflasi merupakan tanggung jawab Fed.

Ditambah inflasi Agustus yang lebih tinggi dari perkiraan dan sinyal Trump bahwa perang di Iran serta harga minyak tinggi dapat berlanjut beberapa bulan lagi, Warsh tampaknya lebih condong untuk menaikkan suku bunga.

“Kami memperkirakan Waller dan Williams akan mendukung kenaikan suku bunga karena laju penurunan inflasi belum cukup memuaskan,” tulis ekonom EY-Parthenon Gregory Daco.

Daco memperkirakan hanya satu atau dua pejabat yang akan memilih mempertahankan suku bunga. Dengan dukungan mayoritas tersebut, Warsh kemungkinan akan ikut memilih kenaikan suku bunga. (ARF)