China beralih ke minyak Iran usai pasokan Venezuela terhenti
Kamis, 08 Januari 2026

SINGAPURA - Penyuling independen China diperkirakan akan beralih ke minyak mentah berat dari sumber lain, terutama Iran, dalam beberapa bulan ke depan untuk menggantikan pasokan dari Venezuela yang terhenti.Seperti dikutip reuters.com, Rabu (7/1), penghentian ini terjadi setelah Amerika Serikat mencopot Presiden Venezuela, menurut para pedagang dan analis pasar.Pemerintah Caracas dan Washington sebelumnya menyepakati ekspor minyak mentah Venezuela senilai hingga US$2 miliar ke Amerika Serikat.Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan itu tercapai setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu.Pengalihan ekspor tersebut diperkirakan akan memangkas pasokan minyak Venezuela ke China.Kondisi ini berdampak besar pada kilang independen China atau yang dikenal sebagai “teapots”, yang selama ini mengandalkan minyak murah dari negara-negara yang terkena sanksi.China sendiri merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia dan pembeli utama minyak diskon dari Rusia, Iran, dan Venezuela.“Drama Venezuela paling memukul kilang independen China karena mereka berisiko kehilangan akses ke minyak berat berharga murah,” ujar analis Sparta Commodities, June Goh. Meski demikian, ia menilai pasokan dari Rusia dan Iran masih sangat melimpah.Menurut Goh, ketersediaan feedstock dari Rusia dan Iran, serta minyak Venezuela yang masih berada di kapal, membuat kilang independen China tidak perlu bersaing membeli minyak non-sanksi dengan harga lebih mahal.Secara ekonomi, langkah tersebut dinilai tidak masuk akal bagi mereka.Data Kpler menunjukkan China mengimpor sekitar 389.000 barel per hari minyak Venezuela sepanjang 2025, setara sekitar 4% dari total impor minyak mentah lautannya.Sementara itu, setidaknya selusin kapal tanker yang terkena sanksi telah berlayar dari perairan Venezuela pada awal Januari, membawa sekitar 12 juta barel minyak mentah dan produk bahan bakar.Namun, pemuatan minyak untuk tujuan Asia di pelabuhan utama Venezuela dilaporkan berhenti sejak 1 Januari.Akibat pengetatan pasokan, diskon minyak Merey Venezuela untuk pengiriman cepat menyempit menjadi sekitar US$10 per barel di bawah harga ICE Brent, dibandingkan US$15 per barel pada bulan sebelumnya, meski transaksi hampir terhenti.Minyak mentah Venezuela yang masih terapung di kapal-kapal Asia diperkirakan cukup untuk memenuhi sekitar 75 hari permintaan China, sehingga membatasi kenaikan harga alternatif dalam waktu dekat.Para analis memperkirakan kilang independen akan beralih ke minyak Rusia dan Iran mulai Maret atau April, sembari mempertimbangkan sumber lain seperti Kanada, Brasil, Irak, Kolombia, hingga minyak Timur Tengah seperti Basrah dari Irak. (DK)