Penjualan mobil hybrid melonjak, General Motors tertinggal
Kamis, 17 September 2026
WASHINGTON – Penjualan kendaraan hybrid di Amerika Serikat (AS) terus meningkat seiring kenaikan harga bensin, tetapi General Motors (GM) belum memiliki jajaran mobil hybrid untuk pasar AS.
Dilansir dari Reuters, dealer mobil Florida Bill Wallace mengatakan mayoritas pelanggan belakangan ini menanyakan pilihan kendaraan hybrid karena ingin mengurangi beban dari tingginya harga bensin.
Wallace mengoperasikan 16 dealer yang menjual sejumlah merek, termasuk Hyundai, Kia, dan Mazda.
Menurut dia, tenaga penjual di dealer tersebut memiliki banyak pilihan kendaraan hybrid untuk ditawarkan kepada konsumen.
Namun, kondisi berbeda terjadi di dealer Chevrolet dan Cadillac milik GM.
Kedua merek tersebut memiliki sejumlah kendaraan listrik penuh, tetapi GM saat ini hanya memiliki satu model hybrid, yakni mobil sport Corvette.
GM memilih tidak mengikuti peningkatan permintaan kendaraan hybrid.
Produsen otomotif tersebut sebelumnya lebih banyak bertaruh pada kendaraan listrik (EV), sementara penjualan EV menurun setelah pemerintahan Donald Trump menerapkan sejumlah kebijakan yang kurang mendukung kendaraan listrik.
Di sisi lain, fokus GM pada truk dan SUV bermesin bensin telah membantu perusahaan mencatat laba yang kuat dan membawa harga saham mendekati rekor.
Namun, penjualan GM di AS menurun tahun ini dan sejumlah dealer menyebut mereka mulai kehilangan konsumen kepada pesaing yang menawarkan kendaraan hybrid.
“Tidak diragukan lagi mereka kehilangan pangsa pasar,” kata Wallace.
Juru bicara GM mengatakan strategi perusahaan adalah membangun bisnis yang lebih kuat dan menguntungkan dengan menghadirkan kendaraan yang disukai konsumen.
Penjualan Hybrid Melonjak
Minat konsumen terhadap kendaraan hybrid meningkat sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.
Konflik tersebut mendorong harga bensin naik sekitar 40%.
Kendaraan hybrid menyumbang 19% dari total penjualan kendaraan ritel AS pada Agustus, meningkat dari sekitar 16% pada bulan-bulan sebelum perang dimulai.
Pada Mei, porsinya mencapai 20% atau sekitar satu dari setiap lima kendaraan yang terjual.
Menurut JD Power, kendaraan hybrid yang tersedia di dealer terjual lebih dari dua kali lebih cepat dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin non-hybrid pada kuartal II.
GM sebelumnya berpendapat kendaraan hybrid menambah biaya dan kompleksitas.
Perusahaan memilih berinvestasi pada EV dengan keyakinan bahwa pasar pada akhirnya akan beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik.
CEO GM Mary Barra pada konferensi Barclays 2019 menyebut hybrid sebagai “solusi sementara”.
“Pelanggan umumnya tidak tertarik pada hybrid,” kata Barra saat itu. Ia mengatakan GM ingin langsung beralih ke EV untuk membantu lingkungan.
Pada akhir 2024, ketika penjualan EV tidak tumbuh sesuai ekspektasi, Barra mengatakan GM akan menghadirkan kendaraan plug-in hybrid untuk pasar Amerika Utara pada 2027.
Bulan ini, Barra mengatakan kepada Fortune bahwa GM akan memiliki kendaraan hybrid di sejumlah segmen penting, tetapi tidak memberikan batas waktu.
Sumber pemasok dan perusahaan riset memperkirakan GM baru akan memiliki kendaraan hybrid yang dijual di AS menjelang akhir dekade ini.
GM menolak memberikan komentar mengenai perkiraan tersebut.
Pesaing Perluas Pilihan Hybrid
Produsen otomotif lain juga menghadapi tantangan dalam penjualan EV, tetapi sebagian besar memiliki kendaraan hybrid sebagai alternatif.
Toyota Motor, yang memelopori teknologi hybrid melalui Prius pada akhir 1990-an, menyebut penjualan hybrid sebagai salah satu faktor yang mendukung kinerja penjualan perusahaan di AS tahun ini.
Pada semester pertama tahun ini, kendaraan “elektrifikasi” Toyota, yang sebagian besar merupakan hybrid bersama EV, menyumbang lebih dari separuh penjualan perusahaan untuk pertama kalinya.
Pilihan hybrid juga semakin banyak di segmen SUV kompak, termasuk Toyota RAV4 dan Honda CR-V.
Sementara itu, GM menawarkan SUV kompak seperti Chevrolet Trax dan Buick Envista hanya dalam versi bermesin bensin.
Nissan bahkan mempercepat peluncuran hybrid Rogue, SUV kompaknya, beberapa bulan menjadi musim gugur tahun ini sebagai respons terhadap meningkatnya permintaan konsumen terhadap SUV hybrid.
“Semua orang menghadirkan hybrid di segmen tersebut. Ini mulai menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar fase atau tren sesaat,” kata Srini Rajagopalan, Vice President Customer Success untuk OEM Solutions di JD Power.
GM Tetap Mengandalkan EV
Pangsa pasar GM di AS turun menjadi 16,8% pada semester pertama tahun ini, dari 17,6% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, Toyota dan Honda mencatat kenaikan pangsa pasar.
Analis otomotif John Murphy dari Murphy Automotive Partners memperkirakan penjualan kendaraan hybrid dapat mencapai 34% dari penjualan kendaraan AS pada 2031.
Meski demikian, Murphy menilai strategi GM untuk mempertahankan fokus pada truk dan SUV bermesin bensin yang memberikan keuntungan tinggi masih memiliki alasan bisnis. Menurut dia, jajaran EV GM juga dapat memberikan posisi bagi perusahaan jika regulasi kendaraan semakin ketat pada tahun-tahun mendatang.
“Strategi GM tidak sejelas sebuah kesalahan besar seperti yang diyakini sebagian orang,” kata Murphy.
Dealer GM di New Jersey, David Ferraez, mengatakan dealer akan berhati-hati menambah kendaraan EV karena kendaraan tersebut sulit dijual.
“Saya berharap GM dapat beradaptasi dan menemukan cara untuk membuat kendaraan hybrid,” ujar Ferraez. (DK)