Pasar obligasi AS meningkat, The Fed tidak akan melakukan intervensi

Kamis, 17 September 2026

image

WASHINGTON – Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkatkan biaya kredit di berbagai sektor ekonomi dan berpotensi menjadi pertimbangan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan moneter.

Namun, sejumlah analis menilai bank sentral AS kemungkinan menolak permintaan eksplisit dari pemerintahan Presiden Donald Trump untuk melakukan intervensi guna menopang pasar obligasi.

Seperti dikutip Reuters, perhatian terhadap kemungkinan keterlibatan The Fed muncul ketika Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengambil langkah lebih aktif untuk menekan kenaikan imbal hasil yang dinilainya tidak sejalan dengan prospek ekonomi AS.

Upaya tersebut termasuk memperluas program pembelian kembali utang pemerintah.

Namun, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun justru naik melewati 5%, level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan imbal hasil memunculkan pertanyaan apakah The Fed dapat diminta membeli obligasi pemerintah dalam jumlah besar untuk mengurangi pasokan di pasar.

Langkah tersebut secara teori dapat menekan imbal hasil dan menurunkan biaya pinjaman pemerintah maupun sektor swasta.

Namun, pengamat The Fed melihat kemungkinan tersebut kecil selama pasar tidak mengalami tekanan berat.

Sejauh ini, belum terdapat indikasi kondisi pasar yang mengharuskan intervensi besar.

Rick Rieder, Chief Bond Investment Manager BlackRock, mengatakan kondisi keuangan merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kebijakan moneter.

“Salah satu mandat tidak tertulis The Fed adalah kondisi keuangan. Hal itu harus menjadi bagian dari kriteria yang mereka pertimbangkan dalam setiap keputusan kebijakan moneter,” kata Rieder.

The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4% karena inflasi masih berada di level tinggi.

Sejumlah pelaku pasar menilai kenaikan suku bunga dapat membantu pasar obligasi dalam jangka panjang dengan memperkuat kredibilitas The Fed dalam memerangi inflasi.

Namun, sebagian besar analis menilai permintaan agar The Fed membeli obligasi dalam jumlah besar untuk membatasi imbal hasil kemungkinan akan ditolak.

Chief Economist Wrightson ICAP Lou Crandall mengatakan Ketua The Fed Kevin Warsh sangat memperhatikan kredibilitas bank sentral.

“Warsh sangat peduli terhadap kredibilitas The Fed—dan kredibilitas dirinya sendiri,” kata Crandall.

Menurut Crandall, Warsh kemungkinan tidak ingin The Fed terseret ke dalam intervensi pasar yang dilakukan Departemen Keuangan AS.

Mark Sobel, mantan pejabat Departemen Keuangan AS dan kini Ketua OMFIF US, mengatakan pemerintah secara teori dapat mendorong The Fed menerapkan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) atau pengendalian kurva imbal hasil (yield curve control).

Namun, Sobel juga memperkirakan Warsh akan menolak keterlibatan tersebut.

The Fed memiliki kemampuan membeli obligasi dalam jumlah besar karena dapat menciptakan uang.

Pembelian obligasi dalam skala besar atau quantitative easing sebelumnya digunakan selama krisis keuangan 2007-2009 dan pandemi COVID-19 untuk menenangkan pasar.

Intervensi saat ini, bagaimanapun, berpotensi bertentangan dengan upaya The Fed mengembalikan inflasi ke target 2%.

Pembelian obligasi dalam jumlah besar juga akan memperbesar neraca The Fed, yang saat ini sekitar US$6,7 triliun, sementara Warsh ingin mengurangi ukuran kepemilikan tersebut.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan kenaikan imbal hasil lebih mencerminkan kekuatan ekonomi AS dan tingginya investasi teknologi.

“Lebih merupakan cerminan dari kekuatan ekonomi,” kata Williams mengenai kenaikan imbal hasil Treasury. (DK)