Studi: Kehadiran mahasiswa China dorong pertumbuhan pendidikan di AS
Selasa, 18 November 2025
JAKARTA - sebuah studi dari National Bureau of Economic Research menemukan bahwa ekspansi pendidikan tinggi di China telah membantu mendorong pendidikan pascasarjana AS dan perekonomian lokal di kota-kota kampus, menurut sebuah studi baru.
Ekspansi pendidikan tinggi China yang masif , yang meningkatkan jumlah pendaftaran mahasiswa sarjana dari sekitar 1 juta pada 1999 menjadi 9,6 juta pada 2020, menghasilkan gelombang mahasiswa yang belajar ke luar negeri dan memberi dampak terukur di dalam universitas-universitas AS, menurut tim peneliti NBER, sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Cambridge, Massachusetts.
Studi tersebut menyatakan bahwa untuk setiap 100 lulusan di China, sekitar tiga atau empat melanjutkan studi ke AS — sebagian besar pada program magister bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) — sehingga mendorong ekspansi program-program terkait di universitas Amerika.
Untuk setiap 100 mahasiswa magister asal China, universitas-universitas AS menambahkan sekitar satu program magister STEM baru, temuan studi tersebut.
Temuan ini tampaknya bertentangan dengan klaim beberapa politisi Amerika bahwa mahasiswa China “menggusur” mahasiswa domestik.
Tahun lalu, Wakil Presiden J.D. Vance mengatakan kepada Fox News bahwa mahasiswa asing kaya “beberapa oligarki China yang membayar US$100.000 per tahun, mengambil kursi dari “anak-anak kelas menengah Amerika dari pedalaman” di universitas-universitas terbaik AS.
Namun para peneliti mengatakan bahwa masuknya mahasiswa China justru membantu menciptakan lebih banyak tempat bagi mahasiswa Amerika maupun internasional lainnya, dan menggambarkan pola tersebut sebagai “crowding in”.
“Hasil kami mengungkap pola crowd-in yang signifikan. Setiap tambahan satu mahasiswa magister asal China dikaitkan dengan peningkatan sekitar 0,26 mahasiswa magister Amerika,” tulis tim tersebut dalam makalah kerja mereka, yang belum melalui proses peer review.
Denis Simon dari Quincy Institute menyebut studi ini “novel” karena menggambarkan bagaimana kebijakan pendidikan China berdampak lintas negara, menegaskan dimensi “globalisation of talent and training” dalam hubungan AS–China.
Namun, peneliti memperingatkan bahwa kebijakan baru AS mulai dari aturan visa yang lebih ketat hingga peningkatan pemeriksaan latar belakang mahasiswa China dapat melemahkan efek positif tersebut. Pada Mei, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan pemerintah berencana “aggressively” mencabut visa bagi warga negara China di bidang sensitif.
Pada 2023, mahasiswa China menyumbang sekitar US$14,3 miliar bagi ekonomi AS. Tetapi penurunan jumlah mahasiswa menjadi sekitar 277.000 pada 2024 menimbulkan kekhawatiran soal potensi kekurangan pendanaan di universitas AS. (DH)