Terjawab alasan AS keluar dari 66 lembaga globalis
Kamis, 08 Januari 2026

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J. Trump menilai sejumlah organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan non PBB berhaluan globalis dan radikal di sektor iklim. Hal itu mendorong dirinya menandatangani pakta penarikan AS dari 66 organisasi skala global, kemarin (7/1).
Mengutip The Straits Times pada Kamis (8/1), AS menarik diri dari 35 organisasi non PBB dan 31 organisasi di bawah PBB. Sejumlah organisasi itu antara lain, UN Women, Organisasi Penggalangan Dana Penduduk (United Nations Population Fund/UNFPA), dan Organisasi Perubahan Iklim Dunia (The United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC).
Dalam pernyataan resmi Gedung Putih, sejumlah organisasi tersebut bertentangan dengan kepentingan AS.
"Untuk entitas PBB, penarikan diri berarti menghentikan partisipasi atau pendanaan kepada entitas-entitas tersebut sejauh yang diizinkan oleh hukum," dalam pernyataan itu.
Manish Bapna, Presiden dan CEO Natural Resources Defence Council menyampaikan bahwa AS menjadi negara pertama yang meninggalkan UNFCCC.
Sebelumnya, Trump telah memangkas sebagian besar pendanaan sukarela ke mayoritas badan PBB sebagai langkah kewaspadaan karena sejumlah lembaga tersebut tidak berpihak pada kepentingan AS.
Pada awal pelantikan sebagai Presiden AS ke-47 pada tahun lalu, Trump memangkas pendanaan AS untuk PBB, menghentikan keterlibatan AS dengan Dewan Hak Asasi Manusia PBB, memperpanjang penghentian pendanaan untuk badan bantuan Palestina (UNRWA), dan keluar dari badan kebudayaan PBB (UNESCO), WHO dan Perjanjian Iklim Paris.
Gedung Putih menyatakan bahwa puluhan entitas yang akan ditinggalkan Washington tersebut mempromosikan kebijakan iklim radikal, tata kelola global, dan program ideologis yang bertentangan dengan kedaulatan serta kekuatan ekonomi AS. (LK)