Trump-Xi bahas 6 isu strategis, dari tarif hingga fentanil
Jumat, 18 September 2026
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Washington pekan depan.
Seperti dikutip Reuters, pertemuan ini menjadi pertemuan kedua pemimpin sepanjang tahun ini dengan agenda utama mencakup perdagangan, teknologi, Taiwan, Iran, kecerdasan buatan (AI), dan aliran bahan baku fentanil.
Xi akan kembali ke Gedung Putih untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Kunjungan tersebut berlangsung ketika ekonomi China menuju surplus perdagangan US$1 triliun untuk tahun kedua berturut-turut.
Sementara itu, Trump tengah menghadapi tekanan akibat perang Iran dan kenaikan harga di AS. Ia juga membutuhkan hasil perdagangan yang dapat diumumkan menjelang pemilu paruh waktu Kongres AS pada November.
1. Perdagangan dan Tarif
Perdagangan menjadi agenda utama yang akan diperhatikan pasar. Trump dan Xi diperkirakan membahas perpanjangan gencatan tarif yang disepakati setelah pertemuan mereka di Korea Selatan pada Oktober tahun lalu.
Kesepakatan tersebut akan berakhir pada 10 November dan sebelumnya berhasil menghentikan sementara perang dagang dengan tarif kedua negara yang sempat menembus lebih dari 100%.
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, mengatakan kedua negara akan membuat sejumlah pengumuman terkait sektor pertanian dan hambatan perdagangan non-tarif.
Pasar juga akan mencermati perkembangan kesepakatan penurunan tarif atas perdagangan senilai US$30 miliar. China berpotensi mengambil langkah dengan menurunkan bea masuk terhadap produk pertanian AS.
2. Boeing, Pertanian, dan Teknologi
Trump diperkirakan membidik sejumlah kesepakatan perdagangan yang dapat diumumkan menjelang pemilu paruh waktu, termasuk pembelian pesawat Boeing dan produk pertanian AS.
Sumber Reuters menyebut Xi akan membawa delegasi bisnis dalam jumlah besar ke AS. Langkah ini mengingatkan pada kunjungan Xi 2015 ketika China menandatangani kesepakatan US$38 miliar untuk membeli 300 pesawat Boeing.
China sebelumnya menyatakan akan membeli 200 pesawat Boeing tambahan. Boeing menyebut transaksi tersebut sebagai "initial tranche" dari potensi kesepakatan yang lebih besar.
Pembicaraan China dan Boeing juga mencakup kemungkinan pembelian 500 pesawat 737 MAX serta puluhan pesawat berbadan lebar.
Di bidang teknologi, China meminta AS kembali menunda aturan yang dapat membatasi ribuan perusahaan China mengakses teknologi canggih AS. Sebaliknya, Washington meminta Beijing meningkatkan pasokan rare earth dan mineral kritis untuk industri otomotif, penerbangan, teknologi, dan pertahanan.
3. Taiwan
Taiwan menjadi salah satu isu paling sensitif dalam pertemuan tersebut.
Sejumlah sekutu AS di Asia mengkhawatirkan kemungkinan perubahan sikap Washington terhadap Taiwan sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan ekonomi dengan Beijing.
Trump sebelumnya mengatakan Xi menekan AS mengenai penjualan senjata ke Taiwan dalam pertemuan Mei. Trump kemudian menyebut paket senjata senilai hingga US$14 miliar sebagai "negotiating chip".
Beijing juga disebut ingin Trump menyatakan secara terbuka bahwa AS menentang kemerdekaan Taiwan. Selama ini Washington menggunakan formulasi bahwa AS tidak mendukung kemerdekaan Taiwan.
Perubahan formulasi tersebut dapat memicu perdebatan di Kongres AS dan memengaruhi hubungan Washington dengan Taiwan.
4. Perang Iran
Trump dan Xi juga diperkirakan membahas perang Iran. China memiliki hubungan erat dengan Teheran dan menjadi pembeli terbesar minyak Iran.
Washington melihat China memiliki pengaruh terhadap Iran, tetapi Beijing sejauh ini belum menunjukkan kecenderungan untuk menggunakan pengaruh tersebut.
Reuters sebelumnya melaporkan adanya aliran barang senilai miliaran dolar dari China ke Iran melalui skema penghindaran sanksi. Kementerian Luar Negeri China mengatakan tidak mengetahui skema tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng sebelum pertemuan Trump-Xi. Pembicaraan tersebut juga akan membahas hubungan keuangan China dengan Iran.
5. Kecerdasan Buatan
AI menjadi agenda lain karena berkaitan dengan keamanan nasional, daya saing ekonomi, kemampuan militer, dan risiko penyalahgunaan teknologi.
AS dan China memiliki kepentingan untuk membahas risiko AI, tetapi persaingan teknologi kedua negara dapat membatasi ruang kerja sama.
Bessent mengatakan AS terbuka membahas risiko bersama dengan China dalam pembicaraan AI.
Di AS, sejumlah anggota parlemen mendorong aturan baru untuk mengatur sistem AI. CEO Anthropic Dario Amodei juga memperingatkan bahwa dominasi China dalam AI dapat menimbulkan risiko keamanan bagi AS.
Media pemerintah China menanggapi pernyataan tersebut sebagai bagian dari "strategi khas perang dingin". Trump sendiri menolak seruan untuk memperlambat pengembangan AI dan menyebut "very negative forces" membesar-besarkan kekhawatiran terhadap teknologi tersebut.
6. Aliran Fentanil
Washington juga akan membawa isu fentanil dalam pertemuan tersebut. Pemerintahan Trump ingin China memperketat pengawasan terhadap bahan kimia prekursor yang digunakan dalam produksi fentanil.
AS berulang kali menuduh Beijing belum cukup menekan aliran bahan baku tersebut. Trump sebelumnya mengenakan tarif terkait fentanil terhadap produk China pada awal 2025, sebelum Mahkamah Agung AS membatalkannya pada Februari.
Direktur FBI Kash Patel mengatakan kepada Reuters bulan lalu bahwa AS telah membangun kerja sama penegakan hukum baru dengan China untuk menekan perdagangan bahan kimia terkait fentanil.(DH)