Pabrik rumah prefabrikasi China beralih ke pasar ekspor

Jumat, 18 September 2026

image

HENGSHUI — Ketika krisis berkepanjangan menghantam sektor properti China dan pandemi mengubah pola permintaan, pabrik rumah prefabrikasi milik Sun Guangqing menghadapi ancaman serius.

Seperti dikutip Reuters, perusahaan yang baru beroperasi pada 2022 itu kehilangan dua sumber utama permintaan domestiknya.

Untuk bertahan, Hebei Shengtai Integrating Housing harus bergerak cepat.

Perusahaan mulai meninggalkan produksi unit karantina berbentuk kontainer dan hunian sementara bagi pekerja, lalu beralih membuat rumah prefabrikasi dengan desain lebih modern untuk pasar ekspor.

"Setiap pabrik ingin bertahan," kata Sun, 41 tahun, kepala produksi dan desain perusahaan tersebut di Kota Hengshui, China utara.

"Ketika penjualan domestik anjlok, pabrik harus mencari pasar lain, dan pasar luar negeri lebih besar."

Sun mengatakan sebagian besar pelaku industri kini memproduksi rumah kapsul hingga kabin lipat mewah yang ditujukan untuk sektor pariwisata dan properti liburan di luar negeri.

Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana industri manufaktur China mampu beradaptasi dengan cepat dan meningkatkan produknya untuk konsumen global.

Ekspor Rumah Prefabrikasi Melonjak

Data bea cukai menunjukkan nilai ekspor bangunan prefabrikasi China meningkat menjadi US$4,3 miliar pada 2025, dari US$1,7 miliar pada 2020.

Amerika Serikat, Asia Tenggara, Australia, dan Eropa Barat menjadi sejumlah pasar utama.

Nilai tersebut memang masih kecil dibandingkan surplus perdagangan China yang mencapai sekitar US$1,2 triliun pada tahun lalu.

Namun, pergeseran penjualan dari pasar domestik ke luar negeri mencerminkan ledakan ekspor China setelah pandemi.

Fenomena tersebut turut memicu kekhawatiran di sejumlah negara Barat mengenai apa yang disebut sebagai "China shock 2.0", yakni meningkatnya tekanan terhadap industri lokal akibat membanjirnya produk China berharga kompetitif.

Ekspansi ekspor China juga diperkirakan menjadi salah satu isu dalam pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada pekan berikutnya.

Bagi Sun, persaingan terbesar justru berasal dari dalam negeri.

Ia memperkirakan terdapat lebih dari 1.000 pabrik rumah prefabrikasi di China, dengan sekitar 30 di antaranya berada di Hengshui.

Sun tidak terlalu khawatir dengan kemungkinan munculnya hambatan perdagangan tambahan.

Menurutnya, permintaan dari negara lain tetap kuat, sementara kecepatan dan efisiensi produksi China masih menjadi keunggulan utama.

Perusahaannya dapat menyelesaikan sebuah rumah dalam waktu sekitar 15 hingga 25 hari, kemudian mengirimkannya ke luar negeri dalam waktu tiga bulan.

Menurut Sun, rumah sejenis yang diproduksi secara lokal di sejumlah negara membutuhkan waktu lebih lama dan biaya lebih besar.

Rantai Pasok Jadi Keunggulan

Hao Dong, dosen senior bidang manajemen di University of Southampton, mengatakan ledakan ekspor China terus berlangsung meski menghadapi tarif, ketegangan geopolitik, gangguan logistik, hingga perubahan harga minyak.

Menurutnya, persepsi terhadap produk "Made in China" juga menunjukkan perbaikan.

Keunggulan lainnya berasal dari rantai pasok domestik yang terintegrasi.

June Liu, tenaga penjualan di Qingdao Jingcheng Metal Technology, mengatakan produsen China mendapatkan keuntungan dari biaya tenaga kerja yang lebih rendah, produksi berskala besar, serta pemasok komponen yang berada dalam satu kawasan.

Baja, panel insulasi, pintu, jendela, dan berbagai komponen lainnya tersedia di sekitar Weifang. Pelabuhan Qingdao juga hanya berjarak sekitar dua jam perjalanan.

"Semua ada di dekat sini," kata Liu.

Harga rumah paling murah berbentuk seperti kontainer dapat berada di bawah 6.800 yuan atau sekitar US$1.000 sebelum pengiriman. Sementara rumah model A-frame dengan dua sayap dapat berharga lebih dari 100.000 yuan.

Sebagian pelanggan bahkan meminta rumah dilengkapi furnitur, pemanas air, pendingin udara, dan peralatan rumah tangga lainnya yang diperoleh dari merek China seperti Hisense dan Haier.

Di Amerika Serikat, produsen menghadapi kenaikan biaya material serta kekurangan pekerja konstruksi terampil.

Robert Dietz, kepala ekonom National Association of Home Builders, mengatakan AS mengimpor lebih dari 70.000 kit bangunan prefabrikasi pada 2025, dengan sekitar 40% berasal dari China.

Harga Turun, Margin Tertekan

Di balik keberhasilan ekspor tersebut, industri rumah prefabrikasi China menghadapi perang harga yang semakin sengit di pasar domestik.

Sebagian pihak melihat skala produksi sebagai sumber efisiensi.

Namun, pihak lain menilai kapasitas produksi yang berlebihan justru menekan keuntungan dan mengancam keberlangsungan industri.

Sun mengatakan perusahaannya telah memangkas harga rumah expandable model double-wing yang populer hingga lebih dari setengahnya, menjadi di bawah 20.000 yuan.

Akibatnya, keuntungan yang diperoleh hanya sekitar 1.000–2.000 yuan per unit.

"Terlalu banyak pabrik rumah prefabrikasi mengejar pesanan ekspor, menekan margin dan menciptakan lingkaran yang membuat harga semakin rendah," kata Sun.

Ia memperkirakan lebih dari sepertiga perusahaan di industri tersebut dapat gulung tikar dalam beberapa tahun mendatang.

Pang Hufeng, manajer operasional Hebei Shengshuo Metal Products, juga mengeluhkan margin yang kini hanya mencapai ratusan yuan per unit.

Perusahaannya awalnya berfokus pada pasar domestik, tetapi kini sekitar 80% penjualannya berasal dari luar negeri.

Menurut Pang, persaingan ketat di Hebei memang menekan harga. Namun, kondisi yang sama juga membuat produk China semakin kompetitif di pasar global dan membantu mempertahankan permintaan ekspor.

"Harga rendah dan penerapan yang cepat akan terus mendukung permintaan dari luar negeri," ujarnya. (DK)